
Siang hari, Citra menemui pengacaranya. Dia sudah merencanakan perceraiannya dengan baik dan matang. Dia ingin saat bercerai dialah yang mendapatkan hak asuh anak dan membuat Hendra mengembalikan uangnya yang telah diambil suaminya sesegera mungkin.
"Kau tidak boleh membiarkan suamimu mengetahuinya. Jadi kendalikan emosimu. Jadi, mau tidak mau kau harus hidup bersamanya walau kau sebenarnya sudah tidak tahan lagi." kata Ilham. Citra mencermati tiap kata yang dilontarkan oleh Ilham.
" Jika kau gegabah, maka sepeserpun kau tidak akan mendapat apa-apa." terang Ilham. Citra mengangguk tanda mengerti apa yang diucapkan pengacaranya itu. Dan dia akan berusaha semaksimal mungkin semampu yang dia bisa.
Malam harinya, sebelum tidur Citra selalu memakaikan pelembab dan serum di wajahnya. Makanya, saat ini di usianya yang nenginjak usia 40 tahun masih terlihat segar dan awet muda. Diliriknya suaminya itu lewat cermin di depannya. Hendra sedang sibuk dengan ponselnya.
"Apakah Juan masih sedih?" tanya Hendra tiba-tiba sambil menaruh ponselnya di nakas.
"Tentulah Mas. Juan sangat menyayangi neneknya. Ini pertama kalinya ia melihat orang terdekatnya meninggal. Jadi wajar kalau dia masih berduka." jawab Citra beranjak dari kursi dan menuju ranjang di mana Hendra sudah membaringkan tubuhnya. Hendra terkesima akan kecantikan istrinya malam ini yang mengenakan baju tidur seksi warna pastel itu.
Lalu Citra membuka selimut, lalu masuk ke dalamnya. Dia memeluk tubuh suaminya dan memandangnya.
"Maaf ya Mas. Akhir-akhir ini aku sedikit sensitif hingga menuduh kau selingkuh." kata Citra membelai dada suaminya.
"Iya nggak apa-apa sayang. Aku mengerti." jawab Hendra membelai rambut Citra.
"Ku rasa, aku hanya ingin mengetahui seberapa besar kau mencintaiku."jawab Citra mengelus pipi Hendra. Hendra tersenyum. Lalu ia ingin mencium bibir Citra. Sesaat Citra menghindar karena dia mengingat saat suaminya berciuman di dalam mobil dengan Milka. Kembali, saran dari pengacaranya terngiang kembali di telinganya.
"Cup" Citra berinisiatif untuk mengecup bibir suaminya. Lalu Hendra membalas ciuman istrinya itu. Di tengah hujan yang deras, mereka berciuman dengan panas. Hendra mencumbu leher Citra. Citra hanya pasrah dan menangis dalam diam. Pada akhirnya dering ponsel nya menjadikan sebagai alasan untuk menjawab ponselnya yang terus berdering.
__ADS_1
"Aku angkat dulu ya Mas. Ini dari pasienku." kata Citra bohong. Hendra hanya bisa mengangguk.
"Aku ke ruang kerjaku untuk mengambil rekam medik nya." pamit Citra.
"Iya sayang." jawab Hendra tersenyum
Citra menuju ruangannya.
"Iya Mel, ada apa?" tanya Citra.
"Kita sekarang jadi teman. Dan kita sekarang sudah saling mengunjungi apartemen masing-masing. Suamimu sering berkunjung ke sana." jelas Meli.
"Tenanglah Dok. Aku akan selalu membantumu." ucap Meli.
Citra lalu mengambil kontak mobil suaminya. Dia membuka bagasinya dan tampak tengah mencari sesuatu. Tapi tak didapatnya apa-apa. Hujan yang sangat deras membasahi tubuh Citra. Lalu Tio datang untuk memayungi Citra yang sudah basah kuyup. Untuk sesaat, Citra tertegun atas kehadiran Tio yang tiba-tiba.
Di dalam kamar Hendra tampak cemas.
"tolong angkatlah teleponku" Hendra mengirim pesan ke Milka. Tak lama kemudian Milka menelepon Hendra.
Citra kembali ke dalam rumah. Saat dia akan membuka pintu kamarnya, suaminya sudah membukanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Maaf sayang. Ada pekerjaan penting di kantor dan itu mendesak. Staf ku tidak bisa menanganinya. Jadi aku harus menanganinya sendiri." kata Hendra buru-buru. Citra mengamati suaminya yang sudah ganti pakaian rupanya.
"Oh... Ok Mas. Hati-hatii." kata Citra. Hendra lalu berlalu dari hadapannya.
Di sebuah cafe, Meli sedang membuat sebuah coffe latte untuk pelanggannya. Dia menerima pesan dari Citra, dan ia langsung minta izin untuk segera pulang. Saat dia keluar dari cafe tersebut, sepasang mata menatapnya.
David.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..
Selamat menjalankan ibadah puasa...
__ADS_1