Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 49


__ADS_3

Hendra menghubungi pihak kepolisian untuk melacak di mana keberadaan putranya. Tak lama, polisi pun datang untuk membantu Hendra. Ditemukan ponsel Juan yang sudah hancur di pinggir jalan.


"Apakah ini ponsel anakmu?" tanya polisi itu.


"Iya benar." jawab Hendra membenarkan pertanyaan polisi.


"Untuk sementara ini hanya ini yang bisa kami bantu. Karena menurut informasi dari mu, putramu sedang dengan ibunya. Dan sejauh ini tidak ada laporan mengenai kecelakaan di tempat ini. Jadi tunggulah." kata polisi itu lalu pergi meninggalkan Hendra.


Ponsel Hendra berdering. Itu dari Citra lantas Hendra menjawabnya.


"Di mana Juan?" bentak Hendra.


"Pulanglah. Kita akan bicara langsung." ucap Citra lalu mematikan sambungan telepon. Hendra kemudian masuk mobilnya, lalu mengemudi menuju rumahnya.


Hendra sudah tiba di rumah. Ia mendapati Citra berdiri sendirian menatap lurus ke arah luar jendela.


"Juan.... Juan..." teriak Hendra mencari keberadaan putranya. Suara langkah lari terdengar jelas di ruangan ini. Citra masih menatap lurus ke arah luar jendela.


"Di mana Juan?" bentak Hendra kemudian. Citra terdiam. Lalu ia menoleh ke arah Hendra.


"Apa kau yakin ingin tinggal dengan Juan? Apa wanita itu setuju? Lalu Juan harus memanggil apa selingkuhan papi nya itu?" tanya Citra datar.


"Kamu membuatku muak. Bukankah aku sudah cukup untuk meminta maaf?" kata Hendra membentak Citra. Citra melangkah satu demi satu mendekati Hendra.


"Hhhh.. Kamu tidak menyadarinya bukan? Bahkan kamu pun belum meminta maaf. Belum sama sekali. Sekarang sudah berakhir. Kau tidak bisa bertemu Juan lagi." jawab Citra.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Hendra.


Citra terdiam. Ia tersenyum tipis.


"Kamu seharusnya tidak membicarakan ibuku. Aku bahkan nyaris tidak bisa melupakannya. Tapi kamu membuat aku mengingat semuanya kembali." ucap Citra datar.


"Jangan katakan omong kosongmu. Cepat katakan di mana Juan." bentak Hendra.


Citra diam tidak menjawab. Ia justru menangis.


"Apa yang kamu lakukan kepada Juan hah?" teriak Hendra.


"Kamu yang menghancurkan keluarga kita. Tapi dia malah memihakmu." ucap Citra.


"Berhenti bersikap seperti orang gila, jika kau tidak mau aku membunuhmu!!" kata Hendra dengan tangan yang sudah mengepal.


"Tidak mungkin. Katakan jika itu salah. Katakan jika kau tidak melakukan itu pada Juan. Katakan jika aku salah!!" kata Hendra sambil menjambak rambut Citra ke belakang.


Citra meringis menahan sakit. Lalu ia mencengkeram kerah baju Hendra.


"Aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu menderita." ucap Citra datar.


"Bagaimana perasaanmu kehilangan anakmu? Kamu yang membuatku melakukan ini semua. Kau mengerti?" kata Citra sinis.


"Dasar wanita gila!!" bentak Hendra lalu ia mencekik leher Citra. Pada awalnya Citra melawan. Tapi apalah dayanya. Kekuatan antara dirinya tidak imbang. Hendra terus mencekik Citra. Kini wajah Citra mulai memerah. Ia sudah kehabisan oksigen. Hendra semakin menambah kekuatannya untuk mencekik Citra. Kini Citra merasa seolah sudah tidak bernafas lagi.

__ADS_1


Citra hampir kehabisan nafas. Mungkin, 1 detik lagi dia akan mati. Lalu Hendra menghempaskan tubuh Citra ke tembok. Wajahnya membentur telivisi dan telivisi itu hancur. Wajah Citra penuh dengan darah segar. Citra sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


Hendra menangis. Ia terduduk di lantai. Lalu ia melihat ke arah Citra. Diangkat Citra. Dipaksa untuk berdiri. Lalu Hendra mendorong tubuh Citra hingga terhimpit tembok. Dicekiknya lagi. Sudah tidak ada perlawanan yang berarti. Lalu Hendra melepaskan tubuh Citra yang sudah tidak berdaya.


Citrapun tersungkur ke lantai. Tubuhnya tergeletak tak berdaya. Wajahnya penuh lebam serta darah segar yang terus mengalir.


Hendra pun kini menangis.


Terdengar suara pintu terbuka.


Terdengar langkah kian mendekat.


"Mami..." teriak Juan.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2