
Milka merasa bosan di tengah-tengah pembicaraan diantara kedua orangtuanya dan Citra. Makanya dia juga berpamitan segera pulang tanpa menghabiskan makanannya.
Di dalam mobil Juan memperhatikan raut wajah papinya yang tidak tenang. Hendra mengemudi mobil dengan wajah ketakutan, tidak enak hati, dan bingung. Entah apa yang kini ada dipikiran Hendra. Mobil terus melaju pulang menuju rumah.
Sementara Milka sudah sampai di apartemennya. Dia langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.
"Halo. Apa maksudmu membicarakan hal pribadiku kepada orang tuaku?" tanya Milka kesal.
Citra melambaikan tangan kepada Pak Yahya beserta istri, karena mereka bertiga baru saja keluar dari restoran tersebut.
"Maaf, aku tak bermaksud demikian. Aku berbicara seperti itu karena aku fikir Anda sudah memberitahu orang tua Anda tentang hubungan kalian" jawab Citra lembut dan tersenyum sinis.
"Seharusnya Anda bisa menjaga rahasia tentang pasien." marah Milka semakin menjadi. Citra hanya tersenyum mendengar amukan Milka.
"Katamu mereka akan bercerai sebentar lagi. Jadi aku fikir mereka sudah tau. Maaf menempatkanmu di posisi yang tidak nyaman." jawab Citra menuju mobilnya.
"Kau itu benar-benar......" ucap Milka penuh emosi sambil melempar ponselnya ke sofa. Lantas dia mencari rokok yang ada di laci di depannya itu. Dicarinya sebatang rokok. Dan dia mendapati apa yang dicarinya itu. Diambilnya rokok sebatang. Tapi dia mengurungkan niatnya itu, karena mengingat kini dia tengah mengandung. Milka menangis. Lalu terduduk di lantai. Membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Ponsel Citra berdering. Dia menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan yang masuk di ponsel nya. Meli. Sambil menelpon, Citra melanjutkan mobilnya untuk segera pulang.
Bel apartemen Milka berbunyi. Milka mengusap kedua matanya. Lalu beranjak berdiri dari tempatnya.
"Siapa?" tanya Milka menghampiri pintu. Tidak ada jawaban. Lalu dibukalah pintu tersebut. Berdirilah sesosok gadis. Lalu dia berbalik menghadap Milka. Sontak Milka terkejut menutup mulutnya. Gadis itu adalah Meli. Wajahnya penuh lebam. Ujung bibirnya berdarah.
__ADS_1
"Ya ampun Meli... Apa yang terjadi padamu?" tanya Milka khawatir.
"Bolehkah aku untuk malam ini tinggal sementara di sini?" tanya Meli dengan wajah datar. Dengan cepat Milka mengangguk dan membawa Meli untuk masuk ke dalam apartemennya.
Milka membawa Meli untuk duduk di sofa. Dia membuatkan teh madu untuk Meli.
"Rasanya, aku tidak bisa untuk melanjutkan kehamilanku ini." ucap Meli menutup wajahnya.
"Kalau boleh tahu kenapa Mel?" tanya Milka iba.
"Ayah anak ini selalu saja memukuli ku. Jika aku melakukan kesalahan, dia selalu menghajarku." jawab Meli terisak. Milka hanya diam. Dia tidak tahu harus berbicara apa.
"Aku iri denganmu Milka. Kau memiliki kekasih yang sangat mencintaimu. Dan sebentar lagi kalian akan menikah. Sedangkan aku?" kata Meli masih terisak. Milka memandang lekat-lekat wajah Meli yang penuh lebam itu.
"Entahlah Mel. Aku rasanya juga gak sanggup untuk melanjutkan ini semua." jawab Milka sedih dan menunjukkan wajah cantiknya.
"Emang apa ada masalah?" tanya Meli. Meli lalu memajukan ponsel yang sedari dia genggam.
"Sesungguhnya kekasihku sudah memiliki istri. Aku berada dalam situasi yang sulit Mel." jawab Milka terisak.
Di lain tempat, Hendra sedang menonton tv. Dan Citra menyetrika baju. Sambil mendengarkan percakapan antara Meli dan Milka melalu earphone yang sedari tadi sudah bertengger di telinga kiri nya.
"Dia bilang, dia ingin bercerai secepatnya. Karena dia sudah tidak tahan dengan istrinya. Tapi masalahnya adalah istrinya. Dia cukup berani untuk tidak bercerai, meskipun ia sudah tau kalau suaminya berselingkuh." jawab Milka.
__ADS_1
"Wanita seperti apa dia?" tanya Meli simpati.
" Dia orangnya selalu memandang remeh orang dan meremehkannya. Dia dangat arogan. Mungkin pacarku tidak betah hidup dengan orang seperti itu." jelas Milka.
Citra yang sedang menyetrika baju mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama.
"Yah, dia bilang sudah tidak tertarik secara seksual dengan istrinya. Dia hanya tidur sesekali dengan istrinya. Tapi aku tidak terkejut, mengingat istrinya yang sudah tidak muda lagi." kata Milka. Citra yang mendengar itu hanya tersenyum sinis.
"Berhentilah sayang. Apa kau tidak lelah dari tadi menyetrika baju?" tanya Hendra ke Citra. Citra menggeleng dan tersenyum.
"Sebentar lagi mas." jawabnya lembut.
"Yasudah. Aku ke kamar dulu ya sayang. Jangan malam-malam." ucap Hendra mematikan tv dan berlalu meninggalkan istrinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komentar nya ya..
Selamat menjalankan ibadah puasa..