
Sementara itu di restoran, Hendra dan Juan sudah duduk bersama saling berhadapan.
"Apakah kau sudah menonton film papi?" tanya Hendra.
"Belum."
"Apa kamu sudah tahu kalau itu film papi?"
"Belum. Kenapa papi jadi produser bukan sutradara?"
"Karena produser bertanggung jaeab atas segalanya."
"Bima bilang film mu bagus."
Percakapan diantara mereka sungguh sangat kaku. Mungkin karena terlalu lama mereka tidak pernah bertemu. Jadi suasana masih terasa kikuk.
"Apa kau tidak merindukan papi, Juan? Sebenarnya papi sangat merindukanmu." tanya Hendra sendu.
"Papi bahkan tidak pernah telpon atau pun sms ke aku. Terus, papi harap aku mempercayai itu?" tanya Juan. Sebenarnya dalam hatinya, ia juga sangat merindukan papinya. Terutama saat-saat mereka bermain bola bersama.
"Papi tahu. Maaf kan papi untuk itu, Nak. Maaf jika kau pernah melihat papi melakukan hal yang mengerikan terhadap mami mu. Tentu itu sangat mengecewakan mu. Maaf." ucap Hendra menyesali perbuatannya.
"Papi ingin berubah. Papi ingin menjadi seorang ayah yang lebih baik untukmu. Dan yang bisa membuat mu bangga sama papi. Jadi kamu tidak malu mempunyai ayah seperti papi ini." ucap Hendra bersungguh-sungguh.
Juan mengangguk.
"Butuh beberapa waktu untuk itu. Tolong mengertilah." kata Juan dengan raut wajah uang sulit diartikan.
__ADS_1
Hendra tersenyum. Lalu ia berdiri, dan mengambil sebuah kotak. Lalu ia memberikan pada Juan.
"Bukalah. Itu hadiah untuk mu." ucap Juan.
Tampak bahagia wajah Juan saat membuka kotak yang diberi papi nya. Hadiah berupa bola kulit asli, yang mungkin harganya juga tidaklah murah.
"Saya sudah keluar dari tim 2 tahun yang lalu." ucap Juan sedih karena mengingat ia kini sudah bukan lagi anggota tim sepak bola remaja kota ini.
"Ku rasa mami mu membuat mu berhenti untuk lebih fokus ke sekolah mu." kata Hendra mendinginkan hati Juan.
"Iya. Karena aku sudah SMA sekarang." terang Juan.
Hendra mengangguk. Ia mengerti akan kehendak mantan istrinya itu.
"Oh ya. Kau ingat Bambang Pamungkas? Kau adalah penggemarnya kan? Aku akan mempertemukanmu dengan nya." kata Hendra.
"Iya, dia akan berada di rumah saya besok"
"besok?" tanya Juan terkejut.
"Bukankah kau sudah mendapat kan undangan yang papi kirimkan untukmu?" tanya Hendra heran. Juan pun tampak kesal.
Di rumah, Citra sedang memegang undangan yang ditujukan untuk putranya. Dibaca nya lagi isi undangan itu dengan seksama, serta alamat rumah yang tertera disana.
Ponsel Citra berdering. Itu dari guru les Juan.
"Iya, selamat siang Pak." ucap Citra.
__ADS_1
"Apa? Juan tidak masuk les?' Citra terkejut.
"Dia bahkan tidak memberitahuku jika ia tidak masuk. Iya terimakasih Pak." ucap Citra.
Citra menaruh ponsel nya di saku baju nya. Lalu ia mengambil kontak mobil. Dengan terburu-buru, Citra menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam mobilnya, dan menjalankan mobil itu pelan-pelan untuk keluar dari halaman rumah.
Saat ia sudah berhasil keluar dari halaman rumah, mobil nya berhenti. Karena di depan ada sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mobil Citra.
Citra terkejut. Dilihatnya siapa di balik kemudi itu. Hendra. Ia sangat benci. Sangat takut. Sangat terkejut. Benci, karena ia telah menghancurkan keluarganya. Takut, karena ia pasti akan mengambil Juan dari sisinya. Terkejut, karena orang yang selama 2 tahun ini tidak pernah ia temui, tiba-tiba muncul di hadapannya.
Juan melepas sabuk pengaman. Citrapun juga keluar dari mobilnya. Dengan menenteng kotak hadiah yang diberi papinya, Juan melangkah keluar dari mobil papi nya. Juan hanya melewati mami nya begitu saja. Padahal Citra sangat mengkhawatirkan putra nya.
Hendra keluar dari mobil. Ia kemidian mendekati Citra lalu tersenyum ke Citra. Citra tampak tegang dengan kemunculan Hendra yang tiba-tiba.
Dewi yang sedang mengepel lantai di rumahnya, pun ikut tegang menyaksikan lewat jendela pertemuan dua orang yang pernah bertikai 2 tabun lalu. Mungkin, pertikaian itu akan berlanjut sekarang.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa.