
Juan menghela nafasnya.
"Mami tenang saja. Aku nggak akan ke sana." ucap Juan cuek masih sambil melihat ke arah televisi.
"Baiklah. Oh ya, mami lihat kamu belum beli tiket pertandingan sepak bola ya. Apa kamu mau? Mami bisa nemenin kamu loh. Mami akan ambil cuti." ucap Citra berusaha menyenangkan putranya.
"Tidak usah. Lagian mami gak tahu banyak soal bola." ucap Juan datar ke arah Citra.
"Kamu yakin tidak akan pergi? Lalu, apa yang akan kita lakukan saat kamu berlibur? Apa kamu mau kita liburan ke luar kota?" Citra memastikan untuk mengisi waktu liburan bersama Juan.
"Nggak. Nggak usah. Aku akan mengambil kursus seperti yang mami bilang terakhir kali
Itu. Apakah mami bisa mendaftarkannya?" ucap Juan datar.
"Kamu terdengar seperti sedang membantu usaha mami." ucap Citra sambil makan buah apel yang sudah dipotongnya kecil-kecil. Juan hanya terdiam. Tepatnya, Juan selama ini hanya melakukan hal-hal yang diinginkan maminya. Sedangkan ia sudah tidak pernah melakukan hal yang diinginkannya lagi. Selama ini ia hanya les, kursus segala kegiatan yang berbentuk akademik yang Juan lakukan. Ada perasaan bosan ketika Citra hanya membahas masalah tersebut. Juan merasa, maminya tidak mengerti apa yang ia inginkan.
"Mami tidak akan memaksamu, jika kamu tidak ingin." ucap Citra.
"Aku mau tidur dulu." kata Juan beranjak dari tempat duduknya.
"Mami akan mendaftarkanmu untuk bahasa inggris dan matematika ya?" ucap Citra setengah berteriak, karena Juan pergi tanpa mengucapkan apapun.
Juan tidak menjawab.
"Mami akan mendaftarkanmu secara online malam ini ok?" tanya Citra lagi.
Namun tak ada jawaban dari Juan.
__ADS_1
"Selamat malam sayang." ucap Citra lagi.
Tidak ada jawaban apapun dari Juan. Hanya terdengar suara pintu kamar yang ditutup.
Citra diam. Dia juga merasakan bahwa putranya kini sudah berubah. Lalu ia mengambil tas nya yang kebetulan masih ada di atas meja.
Ia mengambil ponselnya. Dan juga sekali lagi ia melihat undangan yang Hendra kirimkan untuk Juan.
Di dalam kamar, Juan memandangi bola hadiah dari papinya. Ia teringat akan kata-kata papi nya saat mereka dalam perjalanan pulang tadi.
"Bawalah bola mu itu untuk datang ke acara papi ya? Papi akan mendapatkan tandatangan dari BP untuk mu." kata Hendra sambil mengemudi mobil.
"Kamu akan mengunjungi rumah papi kan? Kamu jangan khawatir soal mami. Papi yang akan bilang padanya." ucap Hendra lagi.
Pagi ini, seperti biasa. Citra melakukan lari pagi untuk mengelilingi kompleks. Tampaknya, saat ini ia menjadi bahan pembicaraan semua warga. Di swalayan pun saat ia berbelanja, ia menjadi pusat perhatian orang-orang. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Tentu saja semua orang membicarakannya."
"Mantan suaminya yang berselingkuh, kini kembali bersama keluarga barunya dan tinggal di dekatnya."
"Selain itu, ia kembali dengan kesuksesan setelah berhasil."
"Kalau aku jadi dokter Citra, pasti aku sudah stress dibuatnya."
"Bagaimana bisa, dia acuh tak acuh."
"Dia memiliki mental yang kuat."
__ADS_1
"Menurutmu, apakah dia baik-baik saja?"
"Menurutku, dia bertingkah seolah dia baik-baik saja karena semua orang sedang membicarakannya saat ini."
"Dia memberi perhatian ekstra soal penampilannya. Soal make up dan pakaiannya." begitulah kedua orang suster sedang membicarakan Citra
"Kalian membicarakan siapa?" tanya Citra yang tiba-tiba datang kepada dua orang suster jaga yang sedang membicarakannya.
"Oh Dokter Citra. Kami hanya membicarakan selebritis tadi di infotainment." kilah suster Ina.
"Saya punya waktu luang kan?" tanya Citra.
"Iya. Anda tidak punya janji saat ini." jawab suster Ina setelah melihat jadwal Dokter Citra di komputer kerjanya. Citra lalu pergi meninggalkan ke dua suster itu yang masih membicarakannya.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
__ADS_1