
Keesokan hari berikunya, aku kembali bekerja. Namun kali ini aku akan lebih bersemangat lagi.
"Tunggu, Yuzu. Kau mau pulang sekarang?"
"Iya, Azra. Memangnya kau tak pulang?"
"Tidak. Aku harus mengecek bahan makanan. Kau temani aku sebentar, yah. Nanti akan aku antarkan pulang. Aku takut sendirian di sini."
"Bukankah itu tugas asisten dapur?"
"Iya. Tapi bos memintaku untuk mengeceknya malam ini. Beliau tak ingin kekurangan apapun besok."
"Baiklah," aku menemaninya sejenak. Kupikir akan menghabiskan banyak waktu, ternyata tak sampai 20 menit. Kami pun pulang bersama. Azra mengantarku ke kontrakan dengan motornya. Ternyata jalan rumahnya searah dengan kontrakanku. Jadi, aku tidak terlalu merasa membebani dirinya.
"Kontrakanmu di sebelah mana?"
"Di pertigaan itu belok kiri ... Nah, turunkan aku di minimarket yang ada di pinggir gang kecil itu."
"Lewat gang ini? Apa masih jauh?"
"Tidak kok. Cukup berjalan dua menit juga sampai."
"Apa tak mau kuantar sampai depan kontrakanmu saja?"
"Tidak perlu. Kau pulang saja."
"Oke. Terima kasih, Yuzu. Aku sangat senang kau mau menemaniku, sampai jumpa besok." Dia melaju makin jauh. Sementara aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Dek Yuzu, kan? Baru pulang," sapa ibu kontrakan yang sedang duduk di depan rumah. Rumah kontrakan yang ia sewakan hanya ditempati 5 orang penyewa. Sementara dia bersama keluarganya tinggal di rumah pribadi yang terletak tepat di depan kontrakan.
"Iya, Buk. Saya habis kerja."
"Apa kau nyaman tinggal di sini? Jika butuh bantuan jangan segan kasih tau ibuk ya!"
"Baik kok, Buk. Maaf, saya masuk dulu," karena lelah aku menghentikan percakapan dan masuk ke rumah.
Saat akan masuk, kulihat sebungkus roti tawar lengkap dengan susu kental manis, terbaring di depan pintu kamarku. Aku mengambilnya dan membaca kertas yang ada di atasnya.
'Untuk Yuzu. Terima kasih untuk makanan semalam, Tara.'
Kupikir dia tipe introvert yang tak suka diganggu. Ternyata di balik sikap dinginnya semalam, dia sangat perhatian. 'lain kali akan kubawakan makanan lagi,' aku masuk ke kamar dengan perasaan semangat. Aku segera mandi dan memasak mie instan untuk makan malam. Karena saat ini aku harus berhemat dan tak memilih-milih makanan, jadi makan mie instan akan lumayan. Asal tak terlalu sering.
Aku makan sambil memikirkan tentang hari esok. Sudah menjadi kebiasaan memang, jika aku memikirkan hal belum terjadi. Beberapa saat kemudian suara telfon memecah lamunanku itu. Kukeluarkan hp dari dalam tas dan kubuka. Ternyata itu pesan dari ayah yang mengatakan bahwa dia telah mengirimiku uang. Ini jadi terasa jika aku sedang kuliah dan bukannya bekerja, tapi tentu jika kutolak pasti ayah akan sedih.
__ADS_1
Keesokan harinya, terdengar suara ketukan pintu. Namun, tak ada dari penghuni lain yang membukakan. Yah, mungkin karena orang tersebut datang di pagi-pagi buta begini. Lalu aku beranjak dari ranjang dan membuka pintu tersebut.
"Ibu? Kenapa ibu datang sepagi ini? Ayo masuk dulu."
"Lain kali saja, sayang. Ibu ke sini hanya untuk melihat ke adaanmu. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku sangat baik. Maaf, Yuzu tak sempat telfon karena pulang malam dan kupikir ibu pasti sudah lelah."
"Tak apa, yang penting kau sehat. Ibu akan mampir lagi nanti. Hari ini ada rapat penting, jadi ibu kembali dulu ya." Ibu memelukku dengan erat.
Sungguh mengharukan. Dia datang ke seberang kota hanya untuk melihatku lalu bergegas kembali. Tak apa, lain kali aku pasti akan mengunjunginya.
***
Hah ... tak terasa sudah sebulan penuh aku bekerja. Dan hari ini gaji akan diterima oleh semua pegawai. Aku jadi tak sabar membuka amplop cokelat yang kugenggam ini. Hebatnya lagi, bos memberi cuti tiga hari. Dia bilang profit yang didapatkan dalam sebulan ini sudah dua kali lebih besar dari target. Namun apapun itu, cuti tetaplah cuti.
Tak lupa pula, kusisihkan selembar uang dari gaji pertama untuk disimpan. Orang-orang sukses bilang bahwa uang pertama yang dihasilkan dari keringat sendiri itu sangat beharga. Jadi dari pada menyesal, kusisihkan saja agar tidak terpakai.
Sebenarnya aku juga ingin membelikan hadiah untuk ibu, tapi bagaimana memberikannya. Apa aku pulang saja? Lagi pula mau apa aku sendirian di kontrakan begini.
Akhirnya, kuputuskan untuk ke tempat laundry terlebih dahulu. Saat kembali ke kontrakan, ada seorang penghuni lain yang sedang duduk di teras. Jadi aku berinisiatif untuk menyapanya. Cepat atau lambat, aku harus berinteraksi dengan semuanya, kan. Tak ada salahnya juga jika aku yang menyapa duluan.
"Selamat pagi, Mbak."
"Benarkah? Maaf. Siapa namamu?"
"Aku Tania. Kau ingat tidak, dulu kau membantuku mengambil buku di perpus karena tanganku tak sampai. Sejak itu, aku mengingatmu."
"Jadi itu kamu, Tania." Aku masih tak ingat tentang dia. Aku hanya berbohong agar tak melukai perasaannya itu.
"Aku terkejut saat melihatmu pertama kali pindah ke sini. Aku ingin langsung menyapa, tapi aku takut. Kau bekerja apa sekarang?"
"Aku pelayan restoran."
"Kau pasti bercanda."
"Tidak kok. Memangnya kau sendiri bagaimana?"
"Aku menjadi guru TK yang ada di sembrang jalan sana. Apa kau sudah mengenal semua penghuni kontrakan ini?"
"Belum. Saat aku bangun mereka semua sudah pergi. Dan saat aku pulang, mereka tidur. Aku baru mengenal Tara saja."
"Haha. Mungkin lain kali akan kubantu berkenalan. Sudah dulu ya, aku harus pergi sekarang."
__ADS_1
Ternyata dunia ini sangat sempit. Kujumpai orang dari masa lalu tanpa mengenal mereka. Dan sekarang, dia justru jadi bagian dari keseharianku.
***
Aku pulang sebelum pertengahan hari tiba. Saat hendak naik bus, kulihat toko roti yang cantik. Jadi aku mampir dan membeli beberapa untuk ibu.
Aku sampai di rumah pukul 2 siang. Rumah sangat sepi karena ibu belum pulang. Mungkin memberinya kejutan akan menyenangkan. Aku juga menelfon ayah dan memintanya datang malam ini.
"Selamat datang, Ibu."
"Lhoh, kamu kapan datang?"
"Tadi siang. Tempatku bekerja tutup selama tiga hari. Nggak tau mau ngapain. Jadi, aku pulang saja. Ayo makan." Aku telah memasak untuk menanti kepulangan ibu.
"Belum sampai dua bulan pergi, tapi kau sudah mandiri saja," ucap ibu saat mencicipi masakanku.
"Tentu saja! Bagaimana, Bu? Enak?"
"Lumayan."
Tiba-tiba suara bel berbunyi. Aku segera membuka pintu, karena ku tahu jika itu adalah ayah.
"Hai, Nak. Sudah lama tidak melihatmu. Kau sehat, kan?"
"Sehat sekali. Ayo masuk, Yah. Kami sedang makan malam. Ayah belum makan, kan?" Aku bergegas mengambilkan piring dan makanan untuk ayah. Kulihat sejenak dia dan ibu membicarakan suatu hal. Dan ibu menjawabnya dengan senyuman.
"Ini, Ayah. Ayah pasti suka." Aku luar biasa senang karena dapat berkumpul lagi dengan kedua orang tuaku. "Mau tambah?"
"Tidak, Ayah sudah kenyang. Yuzu kecil sekarang sudah pandai masak, ya." Ayah mengangkat bingkisan yang dibawa dan memberikannya padaku.
"Apa ini, Yah?"
"Gaun. Dua minggu lagi, Ayah dan Mira akan menikah. Memang tak ada perayaan besar-besaran, tapi ayah harap, Yuzu mau memakainya."
Menikah? Sudah kuduga hal seperti ini akan segera terjadi. Sejenak mataku coba mengeluarkan cairan bening, bukan karena sedih. Namun, karena rasa bahagia melihat ayah telah menemukan kebahagiaannya lagi. "Baiklah. Tapi aku hanya akan datang jika ayah berjanji akan membawa calon ibu tiriku ke sini besok."
"Baiklah. Kalau begitu, Ayah pulang dulu, ya, sayang. Jangan buat ibumu kerepotan."
Meski ayah telah keluar tiga menit yang lalu, ibu masih belum mengatakan apa pun. Sepertinya semua kalimat tertahan di bibirnya. "Ibu baik-baik saja?" tegurku memecah lamunan ibu.
"Iya, Yuzu. Ibu memang telah diberi tau sejak lama, tapi ibu tak menyangka responmu akan begitu dewasa."
"Aku ingin kalian bersama lagi, tapi jika tak bisa. Apa boleh buat. Bahkan jika ibu juga nanti menemukan orang baru, Yuzu akan menerimanya dengan senang hati. Karena yang terpenting adalah kebahagiaan kalian." Aku bohong, aku hanya ingin menghibur ibu. Hatiku patah saat ayah memberi tahu kabar ini, karena ini berarti keluargaku tak bisa utuh lagi. Namun, di sisi lain aku bahagia sekali untuk ayah.
__ADS_1
Ibu dan ayah, keduanya merupakan orang tua yang hebat. Aku tak mungkin berat sebelah dalam mencintai mereka. Lagi pula, Tante Mira datang jauh hari setelah ayah berpisah dengan ibu. Dia juga ikut mengurusiku, jadi tak ada alasan untuk membencinya.