
"Aku sudah melaporkan David atas tuduhan penganiayaan. Pengacara bilang dia tidak akan bebas dengan mudah, karena sudah memiliki beberapa catatan kriminal."cerita Meli.
"Itu bagus." ucap Citra tersenyum.
"Itu berkatmu Dok."
"Aku tidak melakukan apa-apa. Semua karena upaya mu sendiri." kilah Citra lembut.
"Kau memberi ku contoh cara untuk keluar." lanjut Meli.
"Aku yang memanfaatkan situasi mu, Meli." ujar Citra.
"Aku yang memintamu memanfaatkan ku semau mu." canda Meli. Citra tertawa renyah.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Citra ingin tahu.
"Bagaimana denganmu? Kau lah orang pertama yang membantuku saat aku dihajar. Kenapa kau mau terlibat dan bertindak sejauh itu untuk menyelamatkanku?" kata Meli tulus.
Citra terdiam mendengarkan penuturan Meli. Citra sadar akan ucapan Meli itu. Bahwa rasa peduli lah yang membuat Citra membantu Meli, begitu pun dengan Meli.
"Kau habis dari luar" tanya Dokter Edwin yang sedang duduk-duduk di halaman Rumah Sakit di bangku bawah pohon. Citra yang baru datang dari taman memilih untuk duduk di bangku lain.
__ADS_1
"Ku rasa, direktur Rumah Sakit melakukan kesalahan perhitungan besar. Psikiatri akan menjadi minus besar dalam keuntungan kita." canda Citra menggoda Dokter Edwin.
"Apakah aku harus mempasarkan diriku agar aku tetap bisa bekerja?" timpal Dokter Edwin sambil tertawa manis. Ia melihat senyuman di bibir Citra setelah sekian lama.
"Bagaimana? Perceraian itu seperti perang bukan? Tidak ada yang kalah ataupun menang. Aku tahu dari pengalamanku." ucap Dokter Edwin sambil tersenyum. Citra mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh dokter Edwin.
"Oh ya, meski itu biasa, Aku menemukan sumber trauma mu. Jadi, kenapa kau tidak mencoba untuk dirawat? Aku sangat dihormati di kota ini loh." ucap Dokter Edwin sambil menyombongkan dirinya sendiri. Citra kembali dibuat tertawa oleh rekan kerjanya itu.
"Terimakasih. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Oh ya, kamu punya pengalaman mengobati pecandu alkohol kan? Aku punya rujukan ." ucap Citra.
"Siapa?"
"Dokter Maher."
Dina berjalan menuju ruangan Citra.
"Bagaimana lukamu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dina saat membuka pintu.
"Aku baik-baik saja. Ini sudah lebih baik." jawab Citra. Dina lalu masuk.
"Juan pasti juga sangat terkejut kan? Dasar!! Orang tidak waras itu!! Beraninya dia memukulmu!!" geram Dina.
__ADS_1
"Kamu bisa hidup dengan peselingkuh, tapi tidak dengan orang yang kasar."
"Maaf, kalau kemarin-kemarin aku sempat melampiaskan kejengkelanku padamu." ucap Citra.
"Tidak perlu. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah terlalu banyak berbuat salah padamu Citra." ucap Dina memelas. Citra hanya tersenyum sambil berkemas karena ini waktunya dia untuk pulang.
"Apakah kau sudah dengar? Bahwa Hendra sudah meninggalkan kota ini. Rumor sudah menyebar. Bagaimana bisa dia tetap tinggal di sini? Makanya dia pindah ke tempat dia tidak dikenal. Omong-omong selamat atas awal barumu ya." ucap Dina panjang lebar. Yang diberitahu hanya bersikap datar saja.
"Semoga kamu hanya bahagia ke depennya. Kamu harus mendapatkan pria baru yang lebih baik, dan tunjukkan pada si brengsek itu!" kata Dina memberi semangat. Citra tersenyum geli mendengar nasehat sahabatnya itu.
"Hei, kamu jangan membuatku sial. Aku sudah muak dengan pria. Sudah ya, aku pulang dulu." ujar Citra menggoda Dina.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa..