
Hari ini Citra meluangkan waktu bersama Juan untuk makan siang bersama di sebuah restoran. Mereka duduk di kursi yang memang berada di pinggir jalan. Citra menikmati secangkir coffe latte miliknya. Di hadapannya adalah putra kesayangannya. Juan. Ia tampak bahagia. Ia minum jus nya sambil memainkan sebuah game di ponsel nya. Saat Citra melihat ke arah seberang jalan, ia melihat Milka sedang kerepotan membawa barang belanjaannya. Perutnya sudah mulai membesar. Ia juga tahu, kalau saat ini Citra sedang memandangnya.
Tak lama, kemudian mobil Hendra muncul. Hendra membantu Milka, yang sekarang sudah menjadi istri sahnya , untuk memasukkan barang-barang nya ke dalam mobil. Hendra memandang istrinya yang tengah mematung. Lalu Hendra pun memandang ke arah Milka memandang. Mereka sama-sama saling pandang, lalu Hendra masuk ke dalam mobil bersama Milka. Lalu meninggalkan tempat itu.
"Apa arti dari sebuah pernikahan? Apa arti dari saat-saat bersama? Apa gunanya saling menyakiti? Karena kami saling mencintai? Dan apa karena kami saling membenci? Ya, memang itulah kita sebagai manusia. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Namun, aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi." gumam Citra.
2 tahun kemudian....
Hari ini balai kota sangat ramai. Bagaimana tidak ramai, karena hari ini RumahSakit tempat Citra bekerja, sedang mempersiapkan sebuah event untuk mengadakan acara bazar memperingati hari ulang tahun Rumah Sakit.
Banyak sekali stand di sana. Ada stand lukisan, buah-buah an, buku, pemeriksaan gratis, konsultasi kesehatan gratis, makanan, dan masih banyak hal lagi.
Di lain tempat, seseorang sedang menulis nama-nama tamu undangan untuk sebuah acara besar, karena telah kembalinya seseorang. Ada nama Dokter Fadil, Dina, Dewi, Tio, bahkan Juan turut diundangnya.
Citra sedang memeriksa Dokter Edwin yang kebetulan saat ini sedang sakit di ruangan nya.
"Apakah penyakitku serius? Haruskah aku dirawat saja?" tanya Edwin.
"Demam mu sudah turun. Tapi batuk mu masih ada. Terus minum obatnya untuk beberapa hari lagi ya." ucap Citra.
"Bagaimana insomnia mu?" tanya Edwin sambil mengenakan kembali jas putih nya.
"Tidak buruk. Itu tidak akan mempengaruhi kesehatanku." jawab Citra.
"Kamu menanganinya dengan obat? Jangan bilang kamu mendiagnosa dirimu sendiri, dan memberi resep sendiri?" goda Edwin. Citra pun tertawa mendengar ucapan Edwin. Lucu.
"Memangnya apa kau yang akan mengobatiku?" canda Citra.
"Aku tidak berniat untuk melakukan itu. Tapi, aku hanya penasaran, apa kamu berniat untuk melakukan metode lain?" ucap Edwin.
"Apa maksudmu?" Citra mulai heran.
__ADS_1
"Ini metode yang mudah dan sehat. Bagaimana menurutmu?" tanya Edwin.
"Apa itu? Apakah kau cukup handal menyingkirkan insomnia sekaligus?" goda Citra lagi.
"Metodenya adalah berkencan. Apa kau akan mencobanya?" goda Edwin lagi. Citra tersenyum.
"Aku akan mencobanya. Tapi entah kapan itu." ucap Citra bercanda.
****
"Kalian bermain lagi? Cepat masuk kelas! " perintah guru kepada siswanya yang masih asyik bermain game, termasuk Juan.
Citra mengirim pesan ke Juan.
"Bagaiman hasil tes mu?"
Namun tidak ada balasan dari Juan. Dia masih asyik bermain game dengan teman-temannya.
Tidak ada balasan dari Juan. Lalu Citra memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan keluar dari ruangannya untuk pulang.
Dina membaca surat undangan berwarna merah itu. Ternyata dari Hendra. Buru-buru Dina menyembunyikan undangan tersebut, karena ia melihat Citra melintas di depan ruangannya.
Citra membuka pintu ruangan Dina.
"Aku pulang dulu ya." pamit Citra.
"Oh iya. Hati-hati ya..." ucap Dina dengan senyum yang dipaksakan. Citra lalu menutup pintunya. Namun, Dina mengejar Citra.
"Citra tunggu." ucap Dina menghentikan langkah Citra. Citra menoleh ke arah Dina.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Citra.
__ADS_1
"Jangan salah paham ya.." kata Dina hati-hati sambil menyembunyikan kartu undangan itu di belakang tubuhnya.
"Kenapa? Kenapa kau jadi rgu-ragu seperti itu?" tanya Citra lagi.
"Ini soal Hendra. Kapan perintah larangannya berakhir?"tanya Dina.
"Oh. Itu selama dua tahun. Jadi...." kata-kata Citra terpotong. Ia nampak mengingat sesuatu.
"Benar bukan? Itu sudah berakhir kan?" kata Dina mengingatkan Citra.
"Aku tidak memerhatikannya. Jadi aku lupa. Tapi mengapa kau tiba-tiba bertanya padaku akan hal itu?" kata Citra membuat Dina salah tingkah.
"Aku hanya tiba-tiba teringat hal itu saja. Bagaimana Juan? Apa dia sudah mau berbicara dengan ayahnya?" kata Dina mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau tahu, Juan sangat membenci nya."
"Oh begitu rupanya. Sampai jumpa besok ya." ucap Dina.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menunaikan ibadah puasa..
__ADS_1