
"Sayang, kamu gak tidur?" tanya Hendra kepada Citra yang sedang berada di depan layar laptop ruang kerjanya.
"Belum mas. Ini masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan malam ini". jawab Citra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Yaudah aku tidur dulu ya." pamit Hendra lalu keluar dari ruang kerja Citra. Citra melihat punggung suaminya berlalu. "Bisa-bisanya kamu mas, bersikap seolah-olah tidak melakukan kesalahan kepadaku." batin Citra membuang nafasnya kasar.
Pagi harinya....
Citra berada di dapur membereskan bekas sarapan Juan.
"Sudah berangkatkah Juan?" tanya Hendra yang turun dari tangga.
"Iya sudah, Tadi temannya menjemput." jawab Citra sambil duduk di meja makan dan menyeruput kopinya. Terlihat Hendra juga menikmati secangkir kopi miliknya. Citra terdiam menatap suaminya.
"Kau sedang memiliki hubungan dengan wanita lain kan?" tanya Citra tiba-tiba. Sontak Hendra menghentikan aktifitas ngopinya. Ia meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Apa maksudmu?" tanya Hendra seolah tak mengerti. Citra dibuat geram oleh Hendra. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan menuju wastafel menaruh cangkirnya yang sudah kosong.
"Jujurlah mas. Dulu di awal pernikahan kita, kita sudah berjanji jika suatu saat dari kita sudah mulai merasa bosan dan tertarik dengan yang lainnya kita harus mengatakannya. Kau ingat itu bukan?" tanya nya sambil menyenderkan punggungnya di wastafel dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Iya. Tentu saja aku ingat. Tapi saat ini aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun." sangkal Hendra.
"Jangan bohong mas. Jujurlah, maka aku akan memaafkan kesalahanmu. Tapi jika kamu masih berbohong, maka aku akan menganggap kau mengkhianatiku mas." jawab Citra datar. Hendra beranjak dari tempat duduknya.
"Kau ini kenapa? Kenapa aku terus yang dituduh? Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu!" kata Hendra membentak kepada Citra. Citra lantas tertawa dan terduduk di lantai. Hendra menghampiri Citra dan mengelus pundaknya.
"Dengarlah sayang. Mungkin kau sedang kecapekan. Tidak ada wanita lain di hidupku. Hanya kau satu-satunya wanita yang ku cintai di hidupku." kata Hendra membujuk Citra. Citra kemudian bangun dari duduknya, dan mengusap matanyaa. Lalu dia menghadap Hendra.
__ADS_1
"Jadi, hanya ada aku di hatimu mas?" sindir Citra. Hendra mengangguk.
"Iya, percayalah." yakin Hendra.
"Baik. Itu kedengarannya bagus. Aku percaya padamu." jawab Citra. "********." batinnya..
"Aku ke atas dulu. Mau ambil tasku dulu." pamit Citra kemudian. Lalu Citra naik ke atas kamarnya. Dia kemudian mengambil ponselnya. Dan mulai mengirim pesan ke Dina.
" Beri tahu Hendra, kalau Milka sedang hamil."
"Apa maksudmu?." balas Dina.
"Beri tahu saja Hendra. 5 menit telpon Hendra dan katakan kalau Milka hamil."
"Baiklah."
Di bawah sana, Hendra sedang sembunyi-sembunyi menelpon Milka.
"Tenanglah. Aku akan mengurusnya." jawab Hendra.
Terdengar suara langkah turun dari anak tangga. Buru-buru Hendra mematikan telponnya. Hendra terlihat panik. Lalu Hendra beranjak dari duduknya dan meletakkan cangkirnya di wastafel. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dan itu membuat Hendra menghentikan langkahnya.
"Kenapa gak diangkat mas?" tanya Citra. Hendra kemudian mengambil ponselnya. Tertera nama Dina. Itu yang membuat Hendra bernafas lega.
"Apa kau bilang??" kata Hendra pelan. Lalu dia menutup telponnya.
"Ada apa mas? Kelihatannya penting?" tanya Citra.
__ADS_1
"Aku ada masalah yang harus ku urus." jawab Hendra sambil berlari meninggalkan rumah. Citra menangis menyaksikan suaminya terburu-buru meninggalkannya.
Terlihat mobil Hendra berhenti di apartemen Milka. Lalu dia berlari menaiki anak tangga menuju kamar Milka. Dipencetnya berulang-ulang bel apartemen itu tapi tak kunjung ada yang membukanya. Lalu dia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Terdengar suara pintu terbuka, muncullah sosok cantik Milka di balik pintu menyuruh Hendra untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Apa maksudmu memberi tahu Hendra tentang kehamilan Milka?" tanya Dina penasaran.
"Hendra ayahnya. Jadi dia harus bertanggung jawab. Itu yang benar." jawab Citra sambil menggunakan jas putih nya.
"Kau gila ya? Terus bagaimana kalau kalian bercerai?" tanya Dina.
"Aku hanya ingin tahu, sispa yang dipilih mas Hendra. Kami atau mereka." jawab Citra datar.
Diwaktu yang bersamaan...........
"Itu terserah aku mas, mau melahirkan anak ini atau tidak." kata Milka sedikit marah.
"Aku mohon, lahirkan anak kita ini ya. Aku sangat mencintaimu." kata Hendra sambil memeluk Milka. Tak lama, lalu Milka melepas pelukan Hendra.
"Baiklah mulai sekarang jangan berani-beraninya kamu memutus telponku. Mulai sekarang aku akan bebas menghubungimu kapanpun itu. Atau jika tidak maka hubungan kita akan benar-benar berakhir. Buktikan itu." ancam Milka lalu meninggalkan Hendra.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..