Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 11


__ADS_3

Hendra kemudian duduk bersama dengan teman-temannya.


"Mana Citra?" tanya Tio kemudian.


" Oh , dia ada resto sendirian. Mungkin dia capek." jawab Hendra sambil meminum minumannya.


" Iihhh... Kenapa kau biarkan dia sendirian?". Hendra tak menjawabnya.


" Aku jadi iri denganmu Ndra. Kau begitu banyak menerima cinta dari wanita cantik." sindir Tio. Hendra sudah mengepalkan tangannya, takut jika Tio akan sembarangan bicara.


"Istrimu kurang apa coba? Dia begitu cantik. Dia juga sukses. Eh, kau masih tergiur dengan daun muda." ledek Tio. Semua temannya tertawa atas apa yang diucapkan Tio. Hendra sudah tak sabar dengan kelakuan Tio. Hendra lalu beranjak dari tempat duduknya dan memukul wajah Tio berulang kali. Hal itu membuat tangannya terluka. Yang dipukul hanya meringis kesakitan, mengusap darah di ujung bibirnya.


Orang-orang yang mendengar itu sontak kaget dan penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Citra pun juga penasaran, mengapa ada kerumunan di luar sana.


Keadaan sudah reda. Citra membawa Hendra ke resto di mana dia dari tadi duduk sendirian. Citra mengobati luka yang ada di tangan suaminya itu.


"Lepaskan cincinmu. Aku akan mengobati lukamu." kata Citra lalu melepas cincin pernikahan mereka dan menaruhnya di saku jaketnya. Dengan telaten, Citra merawat luka suaminya itu. Hendra hanya bisa memandangi istrinya itu.


"Apa yang membuatmu memukul Tio? Apa dia membuatmu kesal?" tanya Citra sambil mem perban luka suaminya.


"Ya, dia mengatakan sesuatu yang membuatku kesal." jawab Hendra meringis menahan perih. Citra terdiam. Tidak melanjutkan pembicaraan diantara mereka berdua.


"Sudah selesai." kata Citra sambil membereskan alat P3K nya.

__ADS_1


" Oh ya. Aku mau pulang. Nikmati pestamu. Jaga Juan baik-baik." lanjut Citra berlalu meninggalkan suaminya. Lantas, Citra kemudian pulang meninggalkan pesta yang membuatnya sesak itu.


Hendra melihat Milka yang sedang kesal karena menyaksikan Hendra dengan istrinya. Lalu Milka lari meninggalkan Hendra, dan Hendra mengejarnya.


"Tunggu Mil. Tunggu aku." kejar Hendra meraih tangan kekasihnya itu.


"Lepas." kata Milka sambil berusaha melepaskan tangan Hendra.


"Dengarkan aku dulu." jawab Hendra.


" Memangnya apa yang harus ku dengar? Kau melukai hatiku saat kau bilang mencintai istrimu itu mas." kata Milka dengan mata berkaca-kaca.


"Lantas, apa aku harus bilang kalau orang yang aku cintai itu kamu di depan orang-orang? Aku hanya akting berkata seperti itu sayang. Hanya kamu yang aku cintai saat ini." jelas Hendra memegang kedua tangan Milka.


Lalu Hendra membawa Milka duduk di kursi di depannya. Hendra berlutut di bawah Milka.


"Baiklah. Kalau kau tidak percaya aku akan bilang sama ayahmu tentang hubungan kita." jelas Hendra sambil beranjak. Milka berdiri dan menahan tangan Hendra.


"Apa kau sudah gila mas?" kata Milka.


"Aku serius dengan hubungan kita ini sayang. Jadi tolong jangan meragukanku." Hendra meyakinkan Milka. Milka menatap Hendra tanda percaya. Lalu Hendra mencium bibir Milka. Milka melingkarkan tangannya di leher Hendra dan di membalas ciuman Hendra itu. Dari kejahuan, ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu.


"Juan, kau mau kemana?" tanya Dina sambil berlari ke arah Juan.

__ADS_1


" Aku mau pulang aja tante. Aku ngantuk." jawab Juan.


"Baiklah, tante akan mengantarmu pulang ya." kata Dina sambil menggandeng tangan anak sahabatnya itu.


Hendra menghampiri Nia, sekretarisnya di resto.


"Ada apa Nia?" tanya Hendra.


"Jadi begini Pak. Saya baru saja mendapatkan kabar dari CEO Permata Grup kalau perusahaannya tidak jadi menanam investasi di proyek kita." jelas Nia hati-hati.


Hendra kaget. Dan menjambak rambutnya sendiri. Dia sangat frustasi kala Permata Grup membatalkannya semuanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lipa like dan komennya ya..😊


__ADS_2