
Citra langsung menuju ruang kerja suaminya setelah dari bank. Dia mencari buku rekening miliknya. Dicarinya di setiap tempat. Tidak ia temukan apa yang ia cari. Suara berisik yang ditimbulkannya, membuat Juan penasaran apa sebenarnya yang tengah terjadi. Dicari ke sana ke mari, tidak ditemukannya. Citra tampak berusaha keras. Dibukanya satu persatu laci yang ada di ruangan itu. Hingga ia membuka laci di pojok lemari ia mendapatkan buku rekening atas nama Hendra. Di sana tertera jumlah uang yang menyentuh angka milyaran rupiah. Ditemukannya juga surat pembelian apartemen bernilai fantastis. Bagaimana tidak fantastis, jika apartemen itu terletak di pusat kota. Citra tak percaya akan semua ini. Dia membungkam mulutnya sendiri. Dia mencermati alamat dari apartemen itu. Ya, Citra mengetahui di mana letaknya dengan pasti.
"Mami sedang apa?" tanya Juan tiba-tiba yang sudah ada di depan pintu. Citra masih tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi. Hingga Juan bertanya untuk yang kedua kalinya, baru dijawab oleh Citra.
"Oh... itu... mami sedang mencari sesuatu yang sangat penting." jawab Citra gugup.
"Mam, apapun yang terjadi aku gak ingin kalau mami sama papi berpisah. Aku gak mau Mam." kata Juan lalu berlalu meninggalkan Citra yang tengah bengong sendirian. Citra tidak mengerti, mengapa putra yang sangat disayanginya berkata seperti itu.
Citra tergesa-gesa menuju Rumah Sakit di jam 5 sore. Pihak Rumah Sakit memberitahu, bahwa ny.Mina sedang kritis. Dengan langkah setengah berlari dia menuju kamar mertuanya itu. Dihubungi Hendra berkali-kali, tapi nomernya tidak aktif.
"Maafkan ibu Citra." kata Mina sambil meraih tangan Citra.
"Ibu, sebenarnya Ibu mengetahui segalanya kan? tolong jujurlah padaku Bu." ucap Citra sendu.
"Percayalah, Hendra hanya mencintaimu. Hendra bilang, mereka tidak serius."jawab Mina.
"Apa ibu tahu?Kalau wanita itu tengah hamil Bu! Dia mengandung anaknya mas Hendra!" jelas Citra. Melihat dari raut wajah Mina, Citra yakin bahwa wanita itu tidak mengetahuinya. Perlahan Mina memegang dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Tolong jangan tinggalkan anakku Citra." pinta Mina.
"Tidak bisa Bu, aku harus bercerai sama mas Hendra."jawab Citra sedih.
"Kau tidak bisa melakukan itu Citra!" bentak Mina.
"Hendra sangat menyayangi anaknya!" tambahnya.
"Apa ibu bilang? Mas Hendra sayang sama Juan? Bu, kalau memang Mas Hendra menyayangi kami, terlebih Juan, Mas Hendra tidak akan melakukan hal itu Bu. Apalagi Mas Hendra sudah mengambil semua tabungan pendidikan Juan. Semua tabunganku, hanya untuk membelikan apartemen mewah selingkuhannya itu."jawab Citra menangis. Tampak Mina juga kaget.
"Itu semua salahmu! Kau terlalu kuat dan mandiri. Oleh sebab itu Hendra berpaling darimu!" kata Mina kasar. Citra terkejut atas perkataan ibu mertuanya itu.
"Oh ya Bu, satu hal lagi. Kalau memang itu alasan Mas Hendra, orangtua Milka malah mempunyai pengaruh besar di kota ini. Apa itu adil buatku dengan alasan seperti itu?" tanya Citra sinis. Mertuanya terdiam.
"Tunggu aku mati dulu. Baru kalian boleh bercerai." hardik Mina. Citra menoleh ke arah mertuanya itu. Lalu menghampirinya lagi.
"Akan ku pastikan Bu. Aku akan menghancurkan Hendra."jawab Citra dengan tatapan tajamnya. Suster lalu memberikan perawatan kepada Mina sepeninggal citra. Setelah itu, Citra keluar dari ruangannya. Ia menuju ruangannya untuk menenangkan diri sendiri. Hanya berselang 1 jam, Citra mendapat kabar dari suster, kalau Mina sudah meninggal dunia. Citra panik. Dia berusaha menghubungi Hendra. Akhirnya berhasil. Citra memberitahu Hendra kalau ibunya meninggal baru saja. Citra menyiapkan rumah duka yang ada di Rumah Sakit untuk pelayat yang akan hadir malam ini. Mengingat pelayat mungkin akan sangat banyak.
__ADS_1
Milka tampak kesal. Sambil menyetir mobilnya, dia terus menghubungi Hendra. Namun tidak diangkatnya. Milka memasuki halaman rumah orangtuanya. Dia mendapati orangtuanya tergesa-gesa akan keluar.
"Ma.. Pa.. Mau kemana? Kok buru-buru?" tanya Milka heran.
"Ini sayang. Mama dan Papa akan melayat ke mertuanya Dokter Citra. Aduuuhhh... pasti sedih sekali Dokter Citra ya.." kata mamanya Milka sambil masuk mobil meninggalkan Milka yang tengah tertegun.
" Jadi, ibunya Mas Hendra meninggal." gumamnya lalu masuk lagi ke mobilnya menuju rumah duka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..