
Citra melihat bahwa Juan masuk ke dalam Rumah Sakit. Setelah Citra memarkir mobilnya, ia lalu menuju ke suster jaga.
"Oh, kau sudah datang Dokter Citra." kata Suster Ina.
"Apa kau melihat Juan?" tanya Citra. Suster Ina terkejut, karena Citra menanyakan di mana anak nya. Ina sangat gugup. Matanya mengisyaratkan ke ruangan Dokter Edwin. Citra tahu maksudnya. Lalu ia berlari menuju ke ruangan Dokter Edwin.
Dia melihat lewat kaca Jendela untuk memastikan keberadaan Juan di sana. Ternyata Juan memang ada di sana sedang duduk bersama Dokter Edwin.
Citra lalu membuka pintu ruangan Dokter Edwin.
"Apa yang kau lakukan di sini Juan?" tanya Citra. Juan kaget atas kedatangan mami nya. Begitupun Edwin.
Juan tidak menjawab.
"Kenapa kau tidak menjawab Mami, Juan!" marah Citra.
"Apa yang kau lakukan di sini tanpa memberi tahu mami terlebih dahulu?" tanya Citra lagi.
"Lalu, kenapa mami ada di sini?" tanya Juan balik.
Citra diam.
"Apa mami mengikuti aku?" kata Juan marah.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari mami?" tanya Citra.
"Citra! Harap tenang!" kata Dokter Edwin berusaha menenangkan Citra.
"Edwin, coba ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya Citra dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan Juan?" bentak Citra.
"Citra.."
"Dia masih di bawah umur! Kenapa bertemu denganmu tanpa dampingan orang tua?" tanya Citra lagi.
"Tolong berhenti mami! Setiap kali mami berbuat seperti ini, ini membuatku sesak! Apakah mami tahu itu!" Juan mulai marah. Juan lalu meninggalkan ruangan Dokter Edwin penuh amarah.
Citra pun ikut keluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Dina yang sudah ada di depan pintu ruangan Dokter Edwin.
"Juan." teriak Citra memanggil Juan yang sudah mulai menjauh. Citra mengabaikan pertanyaan dari Dina.
"Citra tenanglah." kata Edwin memanggil Citra untuk masuk ke dalam lagi.
"Kau perlu memberinya ruang sendiri. Bahkan jika kau mengejarnya kau tidak akan bisa melakukan apapun." nasehat Dokter Edwin.
"Jika aku memberitahumu, maka dia tidak akan datang lagi ke sini untuk berkonsultasi lagi." jawab Edwin.
"Aku akan menjelaskannya padamu. Dia merasa bersalah atas perceraian kedua orang tuanya. Dia pikir itu terjadi karena dia." jelas Edwin.
"Omong kosong. Dia jelas-jelas sudah tahu alasan kami berpisah. Kenapa dia menyalahkan dirinya sendiri?." kata Citra.
"Anak-anak dari keluarga broken home mudah menyalahkan diri sendiri. Tapi, Juan mengaku bahwa ia menemukan kartu memori yang dibuang di kamar mu. Dia bilang ada rekaman perselingkuhan ayah nya. Dia pikir kau tahu kalau ayahnya selingkuh karena itu." jelas Dokter Edwin.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Citra panik.
"Aku terus mengatakan, bahwa itu bukanlah kesalahannya. Dan dia menjadi jauh lebih baik."kata Edwin.
__ADS_1
"Ini semua salahku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya."kata Citra menangis.
"Percaya padanya dan tunggu saja. Ia akan mengatasinya. Karena dia sangat cerdas. Kau harus membiarkan ia bertemu ayahnya untuk sementara waktu. Itu akan mengurangi rasa kehilangannya. Meskipun itu membuatmu tidak nyaman."nasehat Edwin.
Citra mendengar penuturan dari temannya itu.
"Juan? Keluarlah. Ayo makan dulu." kata Citra sambil mengetuk pintu kamar Juan.
Tidak ada jawaban dari Juan.
"Sayang? Kau harus makan. Jika kau tak mau keluar, apa kau mau mami membawanya ke dalam?" tanya Citra lagi. Juan tetap diam.
"Oke kalau begitu. Mami akan ada di kamar." kata Citra lalu masuk ke dalam kamarnya.
Juan terduduk di lantai kamarnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah jam tangan dari dalam sakunya dan menaruh di sebuah kotak. Di dalam nya berisi berbagai macam barang seperti pena mahal, earphone, dan benda-benda lainnya. Punya siapa itu? Lalu ponselnya berdering. Ternyata papi nya yang menelpon.
Citra berada di dalam kamarnya. Ia sangat sedih dengan keadaan Juan. Lalu ia membuka kembali kotak kardus tempat ia membuang semua baju-baju nya. Citra menangis, tanpa ia sadar bahwa Juan sekarang ada di kamarnya.
"Aku akan makan malam besok bersama papi." kata Juan singkat lalu keluar dari kamar maminya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.