
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tio sudah menunggu Citra di kamar hotel yang sama seperti kemarin. Tio baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan handuk kimono. Wajahnya begitu segar dan terlihat sangat tampan. Aroma maskulin tercium dari tubuhnya. Tio bercermin, lalu menyisir rambutnya yang tengah basah. Dia tersenyum sendiri melihat pantulan dicermin begitu gagah dan tampan.
Citra melihat kembali isi pesan teks dari Tio. Dimasukkan kembali ponselnya ke dalam tas Kemudian ia pun bergegas keluar dari Rumah Sakit dan membawa mobilnya menuju suatu tempat.
Tio kini tengah duduk di kursi yang menghadap langsung ke jalan. Diteguknya minuman kaleng yang saat ini ia pegang. Dengan melihat jam tangannya, ia masih menunggu kedatangan Citra dengan kesabaran.
Citra berusaha membelah kemacetan yang kini ia hadapi. Bahkan mobilnya pun nyaris tidak bergerak. Raut wajahnya mulai menunjukkan kecemasan karena takut terlambat. Ia tak ingin orang yang menunggunya dibuat sebal karena terlalu lama menunggu.
Mungkin sudah terlalu lama Tio menunggu, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Citra. Namun ponsel yang dihubunginya tidak menjawab telepon darinya. Dilihatnya lagi jam tangannya. Ini sudah terlambat. Tio sudah nampak bosan menunggu di dalam kamar hotel.
Sementara Citra masih setia dengan kemacetan jalanan kota. Ia pun melirik jam tangannya. Ia benar-benar sudah terlambat. Sementara Tio sudah memakai kembali kemejanya. Wajahnya sudah geram. Ditelponnya lagi Citra, namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Citra sampai juga di sebuah hotel
"Hai dokter Citra." sapa seseorang wanita di lobi hotel. Citra menoleh ke sumber suara itu. Ternyata adalah Bu Yahya. Citra dibuat salah tingkah akan kehadiran Bu Yahya. Jangan sampai Bu Yahya tahu siapa orang yang akan Citra temui, pasti dia akan memberikan sejuta pertanyaan untuk Citra.
"Oh Bu Yahya... Gak nyangka ya kita bertemu di sini." ucap Citra setenang mungkin.
"Iya.. Aku baru saja bertemu dengan teman sosialitaku." jawab Bu Yahya sumringah.
__ADS_1
"Oh ya, Dokter Citra ada kepentingan apa di sini?" tanya Bu Yahya.
"Oh... Aku juga akan menemui seseorang Bu. Permisi." ucap Citra sambil berpamitan.
"Oh tunggu Dok." panggil Bu Yahya lagi. Citra menoleh.
"Aku mau mengucapkan terima kasih banyak padamu soal makan malam waktu itu. Kalau tidak ada kau, mungkin kami saat itu gagal untuk makan malam bersama." kata Bu Yahya sambil tersenyum. Citra mengangguk sambil tersenyum.
"Sebagai gantinya, bagaimana jika kau datang ke rumah kami untuk makan malam. Datanglah bersama suamimu." kata Bu Yahya kemudian. Citra terkejut atas undangan yang baru saja dilontarkan oleh ibu kekasih suaminya itu.
"Oh terimakasih Bu. Kami pasti akan datang memenuhi undanganmu." jawab Citra
Kemudian Citra menuju restoran hotel ini untuk pergi menemui seseorang.
"Menurutmu, apa dia sudah tahu bahwa kau mempersiapkan perceraian?" tanya Ilham. Ternyata Citra menemui pengacara perceraiannya.
"Entahlah. Tapi dia selalu berusaha untuk membuka PIN ponselku. Apa kau melihat ada sesuatu yang salah?" tanya Citra.
"Saranku, cobalah untuk menundanya. Mungkin 2 atau 3 minggu lagi." kata Ilham.
__ADS_1
"2 atau 3 minggu?" tanya Citra kaget.
"Iya. Sebelum kau melanjutkan ke tahap pembagian harta gono-gini, kau dapat mengajukan disposisi dan penyitaan sementara properti. Dibutuhkan waktu 2 atau 3 minggu untuk pengadilan merevisi dan menyetujuinya. Maka suamimu akan diberitahu setelah 2 atau 3 bulan lagi." jelas Ilham.
Citra tampak sedang memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan ia ambil.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..
Selamat manjalankan ibadah puasa..
__ADS_1