Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 35


__ADS_3

Hari ini, adalah jadwal pemeriksaan rutin Pak Erwin. Beliau selalu mempercayakan Dokter Citra yang menangani segala hal yang berhubungan dengan dirinya.


"Sebelumnya saya ucapkan banyak terimaksih sama Pak Erwin atas bantuannya kemarin memberikan rekaman vidio tersebut." ucap Citra seusai menyelesaikan pemeriksaan pada Pak Erwin.


"Itu hal yang lumrah saya lakukan mengingat kebaikan Dokter sama saya." jawab Pak Erwin sembari duduk dihadapan Citra.


"Bukan bermaksud tidak menghargai Bapak. Tapi saya rasa, Bapak tidak usah ikut campur lagi dalam masalah keluarga saya." ucap Citra penuh hati-hati takut menyinggung orang yang kini berada di hadapannya.


"Lho? Memang kenapa? Ada yang salah?" tanya Pak Erwin dengan nada tingginya. Pria tua itu kini sudah mulai mengerutkan kedua alisnya.


"Maaf Pak, bukan begitu. Tapi ini adalah masalah pribadi rumah tangga saya. Jadi saya akan mengatasinya sendiri." jelas Citra tetap tenang.


"Kenapa Dok? Kenapa kau mengabaikanku?" tanya Pak Erwin yang sudah berdiri. Entah mengapa, kini ia tersulut emosinya.


"Tenang Pak." kata Citra berusaha menenangkan Pak Erwin.


"Coba jelaskan! Mengapa kau menolak bantuanku? Mengapa sekarang kau mengabaikanku hah?" bentak Pak Erwin. Citra sudah mulai ketakutan. Dirasakannya dadanya itu kini tengah sesak.


Dibantingnya semua barang-barang yang ada di hadapan Pak Erwin. Bahkan, komputer kerja milik Citra pun ikut menjadi korban pengrusakan oleh Pak Erwin. Lantas Pak Erwin menghampiri Citra. Ia mencengkeram kedua kerah baju mulik Citra.


"Mengapa kau mengabaikanku! Jawab!" Bentak Pak Erwin. Citrapun hanya bisa diam. Dia sudah sangat ketakutan. Kepalanya pusing. Dia memegang pipi sebelah kanannya yang terasa perih. Ternyata pipinya tergores pecahan gelas yang di lempar oleh Pak Erwin tadi.


Mendengar keributan yang berasal dari ruangan kerja Citra, lantas Dokter Edwin menerobos masuk. Lalu ia menangkap Pak Erwin, dan mengunci kedua tangannya ke belakang. Citra sudah merasa sesak nafas hebat.

__ADS_1


Hingga datanglah kedua security untuk menangkap Pak Erwin dan membawanya keluar.


"Ingat Citra, kau tidak bisa mengabaikanku begitu saja." teriak Pak Erwin penuh histeris. Semua orang tertuju pada Pak Erwin yang kini diseret keluar oleh dua orang security.


Dina yang mendengar keributan dari dalam ruangan kerjanya pun lantas keluar dan memastikan apa yang telah terjadi.


"Dokter Citra... Sadarlah..." kata Dokter Edwin setengah berteriak sambil menepuk-nepuk pelan pipi Citra yang kini berada di lengan Dokter Edwin.


"Dokter Citraa.... Sadarlah."


*****


Citra kini berada di ruangan Dokter Edwin. Sambil duduk, ia memegang secangkir teh madu hangat. Ia masih termenung.


"Dan ia menolaknya. Dia pikir, kau lah satu-satunya orang yang bisa mengerti dia." sambung Dokter Edwin seolah sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh Citra. Citra mengangguk.


"Iya. Saat itu sepertinya ada kemajuan. Apa kau tidak memperhatikannya sama sekali? Baru kali ini dia bersikap sangat agresif. Aku sangat terkejut." kata Citra sambil menggigit kuku jarinya.


"Bukan tidak mungkin bagi pasien untuk membenci dokternya."kata Dokter Edwin menenangkan Citra.


"Tapi apa ada sesuatu yang memicu itu terjadi? Kau sangat ketakutan tadi" kata Dokter Edwin sambil mengamati yang dilakukan Citra sedari tadi.


Citra menghentikan aktivitas menggigit kuku jarinya. Lantas ia menegakkan punggungnya.

__ADS_1


"Kau menebak terlalu banyak ,Dok. Aku selalu profesional dengan pasienku. Kau tidak tahu banyak tentangku." kata Citra menyangkal ucapan Edwin.


"Apa kau pernah mengalami gejala tentang pernafasan sebelum ini?" tanya Edwin. Citra lantas berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kau pernah melukai diri sendiri? Apa kau pernah memiliki trauma berat pada masa lalu dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat?" tanya Dokter Edwin lagi. Citra merasa terkejut atas pertanyaan Dokter Edwin.


"Ini tidak masuk akal. Aku permisi dulu." kata Citra sambil meninggalkan ruangan Dokter Edwin.


Citra meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Ia lantas masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia mengingat kembali kata-kata Dokter Edwin tadi. Lantas, kenangan buruknya di masa lalu muncul lagi di ingatannya. Ya. Insiden kecelakaan mobil kefua orang tuanya.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen..


Selamat menjalankan ibadah puasa...

__ADS_1


__ADS_2