
Hendra mengajak istri dan anaknya ke tempat di mana acara akan dimulai. Semua para tamu undangan pun hadir di sana. Termasuk Milka. Citra berdiri tak jauh dari tempat Hendra berdiri.
"Terimakasih kalian semua sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ulang tahun saya. Sebenarnya, ini bukan kemauan saya karena mengingat usia yang sudah tidak muda lagi. Pertama-tama saya sampaikan terimakasih kepada Pak Yahya sekeluarga yang sudah menyempatkan waktunya." sambut Hendra sambil membungkukkan badannya serta diikuti tepuk tangan gemuruh dari tamu undangan. Pandangan Citra tak lepas dari wajah Milka yang tersenyum sumringah. Hatinya sungguh terbakar kala itu. Dengan tangan bersedekap, Citra kemudian memperhatikan sekelilingnya yang tampak begitu sangat bahagia.
"Yang kedua, terimakasih buat teman-teman yang sudah mempersiapkan acara ini yang begitu luar biasa. Terimakasih sob." lanjut Hendra diiringi sorakan dari teman-temannya.
"Yang ketiga, untuk orang yang saya cintai...." kata Hendra menggantung sambil menoleh ke sisi kirinya. Dia dapati istri dan anaknya di sana. "Anak dan istri saya.." sambungnya. Tampak kesal sekali wajah Milka saat mendengar Hendra menyebut nama istri juga anaknya.
"Ayo Citra, balas sambutan dari suamimu.." teriak Dina seketika.
"Ayo.. Ayo.. Ayo.." para tamu menyemangati Citra untuk maju ke depan memberi sambutan. Tampak jelas sekali raut wajah kesal dari Milka. Hendra pun menyadari perubahan di wajah Milka yang tak suka dengan situasi ini.
Citrapun maju menuju Hendra.
__ADS_1
"Terimakasih. Saya hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun untuk suami saya." kata Citra singkat. Kemudian dengan refleks, Citra mencium bibir suaminya di hadapan para tamu undangan. Hal itu sukses membuat Milka geram dan mulutnya menganga. Suara gemuruh tepuk tangan dari tamu undangan membuat suasana semakin meriah.
"Selamat ulang tahun sayang. Nikmati acaramu. Kaulah bintangnya hari ini." kata Citra membelai pipi suaminya lalu berlalu kembali ke tempat semula. Dilihatnya sekilas wajah kesal Milka saat itu.
Acara makan-makan pun dimulai. Citra sengaja tidak bergabung dengan siapapun hari itu. Dia berdiri sendirian fokus memandang keberadaan Milka di tempat minuman berada. Tak lama, suaminya pun datang ke tempat minuman itu. Hendra berdiri tepat di samping kiri Milka yang sedang meminum segelas orange jus. Tanpa diduga, tangan Hendra menggenggam tangan kiri Milka diam-diam. Hal itu disaksikan sendiri oleh Citra. Betapa hancurnya Citra saat ini.
Tio memanggil Hendra untuk segera gabung dengan mereka. Dan Hendra pun segera gabung bersama teman-temannya di meja. Melihat hal itu, Citra segera berjalan menuju tempat minuman untuk mengambil minuman.
"Hai, Dew." sapa Citra ke Dewi yang pada saat itu juga mengambil minuman. Dewi nampak kaget karena di sini juga ada Milka.
Dari jauh Hendra mengamati aktivitas Citra. Dia sudah agak bingung dengan ini semua.
" Hai,, saya Milka. Mungkin saya bisa membantu anda untuk tetap terlihat kencang, mengingat umur Anda sudah tidak muda lagi." sindir Milka.
__ADS_1
" Oh. Terimakasih. Tapi saya rasa Anda tidak perlu repot-repot mengingat saya adalah seorang dokter. Jadi saya tahu bisa menjaga kesehatan saya sendiri. Mungkin Anda yang perlu belajar apa itu etika." kata Citra santai sambil berlalu meninggalkan Milka dan Dewi di sana.
Milka tampak kesal atas ucapan Citra baru saja. Bisa-bisanya istri kekasihnya itu memperlakukan dia seperti itu. Tampak Milka kesal dan meninggalkan acara untuk gabung ke orang tuanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa like dan komen ya. Terimakasih. Selamat membaca.