Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 50


__ADS_3

"Mami..." teriak Juan. Juan kaget melihat kondisi maminya saat ini.


"Juan..." kata Hendra tersenyum lega.


"Syukurlah." kata Hendra sambil mengulurkan tangannya. Juan memundurkan langkahnya.


"Tidak Juan.. Ini tidak seperti yang kau bayangkan." jelas Hendra.


"Jangan sebut namaku lagi. Aku bukan anakmu lagi sekarang." kata Juan.


"Juan dengarkan papi." kata Hendra memohon ke Juan.


"Tidak!!" kata Juan berteriak. Lalu datanglah Dewi. Ia pun ikut terkejut melihat kondisi Citra yang tergeletak di lantai dengan berlumuran darah.


Dewi lalu mengangkat kepala Citra dan menidurkannya dalam pangkuannya.


"Citra... Citra... Sadarlah.." kata Dewi menepuk-nepuk bahu Citra. Juan menangis. Dengan lemah, Citra berusaha bergerak. Ia mendengar suara putranya. Itu yang membuat ia kuat. Lalu Citra mengulurkan tangannya ke arah Juan. Juan menghampiri Citra. Diraih tangan Juan. Digenggam erat. Lalu Citra tergeletak tak sadarkan diri.


"Mamiiiii...." teriak Juan menangisi maminya. Hendra hanya bisa melihat kejadian itu.


"Halo? Panggilan darurat? Aku membutuhkan ambulans. Cepat! Seseorang terluka parah." kata Dewi di sambungan telpon di ponselnya.


"Mamiii..." Juan masih menangisi mami nya yang tidak sadarkan diri.


Beberapa bulan kemudian.........


"Dia menyetujui semua persyaratanmu." ujar Ilham menyerahkan dokumen perceraian yang sudah ditandatangani oleh Hendra.


Citra menoleh ke arah Ilham. Lalu mengambil surat perceraian itu.


"Pengadilan juga mengeluarkan perintah pelarangan untuk Hendra sementara waktu ini. Akhirnya, kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Selamat." lanjutnya

__ADS_1


******


"Jadi, ia menulis tentang mu di homepage Rumah Sakit tempatmu bekerja, karena ia marasa marah. Izinkan aku minta maaf mewakilinya." kata Pak Yahya ke Citra.


"Ini kota kecil. Dan reputasimu sangat penting. Perbuatannya sangat tidak menghormatimu. Dan aku tahu itu akan jadi kasus perdata. Aku mohon padamu, jangan menuntut Milka karena menghancurkan pernikahanmu. Apa.... Yang harus ku lakukan?" Pak Yahya tampak sangat menyesali apa yang telah dilakukan ileh istrinya. Terutama apa yang telah dilakukan putrinya.


Citra tampak berfikir.


"Apakah Anda sedang menawarkan kesepakatan?" tanya Citra.


******


"Astaga. Lihat dia. Dia berani sekali"


"Aku tahu. Aku tidak menyangka jika ia masih berani tinggal di sini."


"Dia merusak reputasi lingkungan kita"


Terdengar orang sedang membicarakan Milka yang kini sedang berbelanja di toko swalayan. Ia sedang berbelanja sayuran serta bahan makanan lainnya. Tentu saja, Milka dapat mendengar semua itu dengan jelas. Perutnya kini terlihat semakin membuncit.


Milka menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Si kasir pun menatap tak enak ke arah Milka. Milka menyerahkan kartu kreditnya.


"Maaf. Kartu ini ditolak." ucap si kasir.


"Cobalah sekali lagi." suruh Milka. Kasir itu mencoba menggesek kartu kredit milik Milka sekali lagi. Tapi hasilnya tetap tidak bisa digunakan.


"Kenapa papa tiba-tiba membekukan kartu kreditku?" tanya Milka. Kini Milka sudah berada di rumah orang tuanya.


"Kenapa kau marah? Apakah pria bejat itu tidak memberimu nafkah?" tanya Pak Yahya.


"Haruskah papa bertindak sejauh ini? Tidak bisakah papa membantu Hendra? Dia sangat berbakat Pa." ucap Milka meyakinkan papa nya.

__ADS_1


"Karena itukah dia memeras istrinya selama ini? Milka. Kenapa kau tak pandai menilai orang? Diam dan keluarlah!!!" bentak Pak Yahya.


"Aku anggap aku tidak memiliki seorang anak." lanjut Pak Yahya membuang muka.


"Papa... Ku mohon." kata Milka memohon ke papa nya. Ia sampai bersujud di kaki papanya.


Pak Yahya meraih tubuh Milka. Lalu ia mengangkatnya untuk berdiri lagi. Diraihnya kedua tangan Milka.


"Ini belum terlambat. Tinggalkan dia. Jika kamu melakukannya, maka papa yang akan menjagamu. Juga bayimu. Dengarkan papa" kata Pak Yahya. Milka menangis.


"Tidak bisa ayah. Aku mencintainya. Atu tidak akan meninggalkannya."ucap Milka.


"Dia sampai memukul istrinya di depan anaknya. Dan ditangkap atas penganiayaan. Tapi apa katamu? Cinta?"


"Bukan begitu, ia dijebak sama istrinya Pa." bela Milka. Pak Yahya tidak mendengarkan Milka.


"Baiklah Pa. Anggap saja papa tidak memiliki anak lagi. Aku tidak akan pernah kembali." ucap Milka lalu keluar dari rumah.


Citra sedang duduk sendirian di taman dekat Rumah Sakit.. Ia duduk sendirian. Tak lama, orang yang ditunggunya sedari tadi sudah datang. Meli.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


Selamat manjalankan ibadah puasa.

__ADS_1


__ADS_2