
Milka tidak percaya jika Citra memiliki undangan tersebut. Milka menatap ke arah Hendra dengan tatapan yang ingin mendapatkan kejelasan dari Hendra, mengapa Citra bisa mendapatkan undangan itu. Hendra hanya diam dan membuang muka.
"Saya datang kesini, bukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan kalian. Saya tidak tertarik akan hal itu. Jadi kalian jangan khawatir. Saya hanya akan menjemput anakku, dan saya akan pergi." kata Citra menatap bergantian ke arah Milka dan Hendra. Semua mata sedang tertuju pada mereka bertiga.
Citra lantas menaruh undangan itu di dada Milka, dan melewati Milka serta Hendra begitu saja.
"Juan.... Juan..." Citra memanggil Juan. Ia lalu naik ke lantai dua untuk mencari keberadaan Juan.
Milka masih menatap tajam ke arah Hendra. Salah tingkah Hendra saat ini pastinya. Lalu Milka pun meninggalkan Hendra untuk pergi ke toilet.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Hendra. Namun tidak ada jawaban dari Milka. Hanya suara gemericik air dari wastafel.
"Jawablah." ucap Hendra.
"Usir wanita itu dulu." teriak Milka dari dalam.
Sedangkan Citra mulai mencari Juan disetiap ruangan. Di kamar kosong, di kamar Jenny. Hingga ia membuka salah satu pintu kamar. Lalu Citra masuk ke dalamnya.
Citra mengamati ruangan tersebut. Terpampang foto pernikahan Milka dan juga Hendra. Milka sangat anggun menggunakan gaun pengantin berwarna putih, serta Hendra memakai jas berwarna hitam. Begitu gagah. Citra membungkam mulutnya, karena ia merasa bahwa foto yang ada di sana, sangat mirip dengan dirinya beberapa tahun yang lalu saat menikah dengan Hendra.
Lalu terdengar suara beberapa orang wanita. Sepertinya akan menuju kamar ini. Citra ingin keluar, namun sudah terlambat. Suara mereka kian mendekat. Lalu Citra pindah untuk bersembunyi di ruangan wardrobe milik Milka.
"Wow... Kamarnya sangat cerah sekali. Ini menggambarkan seperti kamar pengantin baru saja." canda Yuli lalu tertawa.
"Tidak ada keraguan bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai." kata Mia.
"Ini dari Italia kan?"tanya Tuli sambil melihat-lihat ranjang.
"Iya. Kau benar. Kami bahkan menunggunya selama 6 bulan untuk mendapatkannya setelah kami memesannya." jawab Bu Yahya.
"Ya ampun. Ini pasti sangat mahal." kata Yuli kagum.
__ADS_1
Bu Wahyu hanya tersenyum sambil mengamati furniture di ruangan ini.
"Itu sebabnya mengapa barang dari Italia mereka tidak mengatakan bahwa itu furniture, melainkan karya seni." ucap Mia membesarkan hati Bu Yahya.
"Jika Dokter Citra melihat ini, dia pasti akan cemburu." kata Yuli sinis. Tanpa mereka tahu, kini Citra pun mendengar apa yang mereka katakan.
"Saya tahu, mereka bercerai karena semuanya tidak berhasil. "Kata Mia.
Citra tidak percaya mereka mengatakan hat itu. Ponselnya bergetar. Lalu ia cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam tas nya. Ternyata Edwin yang menghubungi Citra.
"Terimakasih atas pujiannya. Saya memang berusaha keras untuk mendekorasi kamar ini karena mereka seakan-akan pengantin baru lagi." ucap Bu Yahya sambil tertawa.
"Mari kita lanjutkan untuk melihat-lihat ruangan yang lainnya." ucap Bu Yahya. Lalu mereka ber empat pun keluar dari kamar ini.
Citra lalu keluar dari wardrobe tersebut. Ia tampak berfikir sesuatu. Lalu ia menyalakan lampu di sana. Dan tampak lah semua barang-barang milik Milka. Mulai dari baju. Baju dalam. Parfum. Tas. Bahkan foto pernikahan mereka. Citra begitu kaget. Karena semua yang ada di sana mirip dengan yang ia miliki. Semuanya sama persis.
Citra lalu keluar, dan langkahnya terhenti saat ada Hendra masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kamu kembali?" tanya balik Citra.
"Itu urusan saya." jawab Hendra datar.
"Kenapa kamu tidak tinggal di kota lain saja? Kenapa kamu harus kembali?" tanya Citra lagi.
"Istri saya ingin tinggal dekat orang tuanya. Apa itu salah?" tanya Hendra.
"Yakin? Karena itu kamu pindah?" tanya Citra menyelidiki.
"Mereka membawa ku saat kau menceraikanku. Orangtua nya ingin kami tinggal di sini. Jadi itu wajar." jawab Hendra.
"Apakah kamu masih belum bisa melupakan aku?" tanya Citra.
__ADS_1
"Cih. Kau pasti sangat kesepian kan Citra?" sindir Hendra.
Milka mencari keberadaan suaminya di bawah. Namun tidak ia temukan. Lalu ia pun melihat ke arah lantai dua.
"Aku sangat bahagia menikah dengan Milka. Aku bahkan tidak mengingat bagaimana saat kita bersama." lanjut Hendra tegas.
"Apakah kau serius?" sindir Citra.
"Bukankah sudah cukup jelas bagimu? Kau tidak berarti lagi bagiku!" jawab Hendra.
"Satu-satu nya wanita yang kucintai saat ini adalah Milka." jawab Hendra.
"Kamu menggunakan Juan untuk alasan supaya datang kesini. Dan kamu tidak hanya mengirim undangan itu, tapi kamu juga mengirimi saya foto. Kamu jelas melakukan itu untuk memprovokasi ku kan? Tapi kamu melakukan ini semua untukku kan? Apakah saya salah?" ucap Citra.
"Ya. Kau salah."elak Hendra.
"Tolong tinggalkan tempat ini, sebelum Anda dipermalukan lebih dalam lagi." usir Hendra.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
__ADS_1