
Hari ini Bu Wahyu, Yuli, dan Dina bertemu untuk melakukan spa bersama. Tujuan Dina adalah untuk mendapatkan hati Bu Wahyu, yang merupakan istri dari donatur tetap dan pemberi sumbangan terbesar di Rumah Sakit tempat nya bekerja. Tentu saja Dina menginginkan posisi yang ditempati Citra saat ini. Yaitu ditektur muda.
Namun sepertinya, Bu Wahyu sangat tidak senang dengan ambisi Dina itu. Bu Wahyu masih setuju jika Citra menjabat sebagai direktur muda, mengingat etos kerja dan pasien yang ia miliki selalu yang terbanyak dibandingkan dengan dokter yang lainnya.
Tampaknya Dina dan Yuli tidak berhasil untuk mengambil hati Bu Wahyu untuk mendukung Dina menggantikan posisi Citra. Segala cara dilakukan Dina untuk merayu Bu Wahyu, namun gagal. Sampai membandingkan dengan keberhasilan Hendra. Namun, itu pun tidak berhasil. Kemudian mereka bertiga pun melakukan massage di ruangan lain.
Mereka masih membicarakan Citra dan juga Hendra. Membicarakan keberhasilan Hendra yang menghasilkan banyak uang, namun tidak bagi Bu Wahyu. Dia tidak bangga sama sekali dengan Hendra. Bu Wahyu mengakhiri sesi massage lebih cepat dari waktu yang biasanya. Ia segera mengundurkan diri untuk bersiap-siap pulang. Jenuh dengan maksud Dina dan Yuli untuk mengeluarkan Citra dari jabatannya saat ini di Rumah Sakit.
"Bagaimana ini Bu Yuli?" tanya Dina cemberut.
"Tenang saja, suamiku akan menghitung keuntungan yang akan didapat oleh Rumah Sakit. Jadi bersabar dan tunggulah saja." kata Yuli.
Seorang gadis yang tadi memijat Bu Wahyu tampak mendengar perbincangan antara mereka dengan seksama. Ya, gadis itu adalah Meli. Di sedang bekerja di salon dan spa ini.
Hendra sudah menunggu Juan dari halaman rumah Citra. Ada cctv di depan pintu masuk rumah Citra. Rupanya setelah insiden kemarin malam, Citra mengikuti anjuran dari polisi untuk memasang beberapa cctv di rumahnya.
Juan akhirnya keluar diantar oleh Citra. Hari ini ia memiliki janji untuk makan malam dengan papinya di rumah baru Hendra dan Milka.
Makan malam pun tiba. Juan, Hendra, Milka dan Jenny pun makan bersama di meja makan.
__ADS_1
"Tampaknya Jenny menyukai kakaknya." kata Hendra sambil tersenyum ke arah Juan.
"Dia bahkan belum bisa bicara lancar. Bagaimana papi tahu akan hal itu?" tanya Juan.
"Jenny tidak akan makan jika ia bertemu dengan orang yang tidak disukainya."jawab Hendra. Milka pun juga tersenyum. Sedangkan Jenny makan dengan lahap makanannya. Juan tersenyum pada adik perempuannya itu.
"Sayang, bisakah kau mengambil tisu basah untuk Jenny? Lihat tuh belepotan sekali dia." ucap Milka. Hendra pun berdiri untuk mengambilkannya.
"Juan, kau masih tidak nyaman padaku kan?" tanya Milka. Juan menoleh ke arah Milka.
"Sebenarnya aku juga merasa belum nyaman. Tapi aku berharap mulai hari ini kita bisa akur. Aku minta maaf tentang apa yang terjadi. Tapi aku mencintai papi mu. Dan papi mu sangat peduli dengan mu. Aku harap kau bisa hidup dengan baik. Kau harus bahagia maka papi mu akan bahagia juga." ucap Milka lembut. Juan tersenyum.
"Lihat, Jenny menyukaimu." ucap Milka senang. Hendra yang menyaksikan hal itu pun juga ikut tersenyum.
Selesai makan malam, Citra kemudian mencuci piring. Dilihat jam menunjukkan pukul 20:45. Ia menaruh piring di lemari piring lalu mengelap tangannya yang basah. Sementara di luar rumahnya, sesosok pria membawa besi panjang menuju rumah Citra. Citra akan merapikan makanan di meja makan. Lalu terdengar suara sesorang menghancurkan sesuatu. Orang tersebut menghancurkan cctv di rumah Citra.
Pyaaaaarrrrrr.... Laki-laki itu nenghancurkan kaca jendela yang dekat dengan meja makan. Citra otomatis menundukkan kepalanya dan tersungkur di pojok meja makan. Dengan beringas laki-laki itu menghancurkan jendela Citra, sehingga ia bisa masuk ke dalam rumah Citra.
Citra terpojokkan. Ia hendak lari namun tidak bisa. Dengan cepat Citra mengambil ponselnya untuk menghubungi Edwin. Namun laki-laki itu menyeret Citra dan melemparkan tubuh Citra ke lantai. Ponsel Citra jatuh, Citra ingin mengambilnya. Namun kaki laki-laki itu menyepak ponsel Citra dan terbentur tembok.
__ADS_1
"Halo Citra." kata Edwin. Citra segera bereriak minta tolong. Edwin yang mendengar Citra berteriak, lalu ia bergegas mangambil kontak mobil dan menuju rumah Citra.
Ini kesempatan untuk Citra lari. Citra bangun dari lantai, ia akan lari dan keluar dari rumah. Namun sayang, laki-laki itu lebih cepat. Ia menjambak rambut Citra lalu menghempaskannya ke kursi.
Lengan tangan Citra penuh darah, terkena pecahan kaca. Dan kini tubuhnya memar karena dihempaskan oleh orang itu ke kursi meja makan. Lalu Citra diangkat, dipojokkan di meja makan, dan dicekik lehernya. Citra tidak bisa bernafas. Tangannya bergerak mencari sesuatu benda hang dapat ia gunakan. Akhirnya ia mendapatkan botol sirup yang bahan nya berupa beling.
Dipukulnya laki- laki itu tepat di wajahnya. Lau ia tersungkur. Citra berdiri akan keluar. Namun laki-laki itu tidak mudah ditumbangkan. Ia akan berdiri lagi dengan wajah yang berlumuran darah. Laki-laki itu berjalan ke arah Citra. Ia akan memukul Citra lagi. Namun ia mengurungkannya, karena sudah terdengar suara sirine polisi semakin mendekat ke rumah Citra.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa.