Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 59


__ADS_3

Milka tersenyum


"Aku sudah terbiasa Ma, karena mereka sudah biasa menjelek-jelekkan ku dengan mengatakan bahwu aku telah mencuri suaminya. Aku nggak peduli Ma, jika mereka tidak menghadiri undangan kita." ucap Milka.


"Hei, apa yang kau katakan? Kamu tidak mencurinya. Mereka bercerai karena mereka memiliki pernikahan yang sudah berantakan." ucap Bu Yahya.


"Mama masih geram sama wanita itu, mengingat apa yang sudah ia lakukan. Dia benar-benar mempermalukan keluarga kita. Oh astaga!!!" lanjut Bu Yahya sambil mengepalkan kedua tangannya dan sedikit frustasi karena telah mengingat kejadian itu.


"Baiklah Ma.." kata Milka tersenyum.


"Ya sudah. Kau bersiaplah. Aku akan menyiapkan semuanya di bawah sana." ucap Bu Yahya lalu turun untuk menyiapkan semuanya.


Milka lalu mengambil ponsel yang ia taruh di saku belakang celananya. Ia menelpon seseorang.


"Halo sayang, kau di mana?" tanya Milka.


"Coba keluarlah." kata Hendra. Lalu Milka keluar ke balkon lantai atas, dan menemukan suaminya sedang ada di halaman rumah untuk mengatur para pegawai catering yang baru datang. Hendra melambaikan tangannya ke istrinya itu. Milka pun melambaikan tangannya sambil tersenyum ke suaminya.


"Ok. Lanjutkan ya sayang. Cek yang benar.." goda Milka ke suaminya. Hendra mengannguk.


Kemudian Hendra mengecek semua makanan di box mobil catering, mengecek bunga, piring dan sebagainya keperluan dalam pesta nanti. Setelah dirasa sudah siap, lalu Hendra pun masuk ke dalam rumah untuk menemui istrinya.


*****


"Iya Bu, saya usahakan akan datang." ucap Dewi di ponsel.


"Siapa sayang?" tanya Tio yang sedang mengemudi mobil.

__ADS_1


"Ini Bu Yahya memastikan aku untuk datang nanti. Padahal aku udah ngasih berbagai alasan untuk tidak pergi." ucap Dewi.


"Pergilah. Bahkan dia sudah menelponmu untuk memintanya datang ke sana." ucap Tio.


"Aku rasa, mereka akan mengumumkan secara resmi pernikahan mereka. Kau tau sendiri, semua orang di lingkungan ini membicarakan mereka karena perselingkuhan mereka. Mungkin, Bu Yahya juga akan memasukkan Milka ke dalam anggota sosialita yang diikuti ibunya." jawab Dewi.


"Biarlah. Itu urusan mereka. Hhmmmm, aku sudah bisa membayangkan berapa uang yang mereka habiskan." ucap Tio.


"Terus, apa yang harus lakukan?" tanya Dewi.


"Apa yang harus kau lakukan? Bersikap seperti biasanya, seperti tidak ada apa-apa. Kau kan jago soal akting seperti itu." canda Tio. Padahal Dewi malah merasa tersinggung akan candaan Tio barusan.


*****


"Aku nggak ngerti sama kemauan mereka apa. Mereka seharusnya tidak kembali ke sini. Setelah semua penghianatan itu, seharusnya mereka tidak kembali." ucap Dina.


"Ck. Nggak ah. Eh, omong-omong, mereka cukup berani ya untuk kembali ke kota ini dan mengundang semua orang penting di kota ini." kata Dina melepas jas putih nya.


"Sudah pergilah. Aku rasa kamu ingin pergi deh." ucap Citra lagi.


"Kenapa aku harus pergi? Kebanyakan orang mungkin juga tidak akan datang." jawab Dina sambil menggunakan cardigan nya.


"Bagaimana kalau kau ikut makan malam denganku bersama Juan juga?" tawar Citra.


"Maaf ya.. Aku sudah ada janji dengan temanku. Aku sudah membuat janji dengannya sekitar 1 bulan yang lalu. Jadi aku gak enak jika tiba-tiba membatalkan di menit terakhir. " ucap Dina.


"Ok. Baiklah. Mungkin lain kali aja ya." kata Citra tersenyum kecut.

__ADS_1


"Lain kali kalau mau mengajakku makan malam, kau harus membuat janji terlebih dahulu denganku. Aku kan orang sibuk." canda Dina diikuti tertawa oleh Citra.


Citra berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit untuk menuju ke tempat parkir.


"Dokter Citra, apakah Anda akan pulang?" tanya dokter Fadil sedikit berlari ke arah Citra.


"Oh. Iya Pak." jawab Citra.


"Oh ya sudah. Saya duluan. Saya sudah terlambat ini.." pamit Dokter Fadil. Citra mengangguk.


Kemudian Citra mengambil ponselnya dan menghubungi Juan.


"Halo Mam, aku ada di Rumah Bima sekarang."


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


Selamat menjalankan ibadah puasa..

__ADS_1


__ADS_2