Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 38


__ADS_3

"Pikirkanlah lagi Citra. Setelah kau bercerai bagaimana kehidupanmu selanjutnya. Juga putramu. Akan lebih berbahaya untukmu jika melangkah lebih jauh lagi. Satu langkah saja salah, maka kau akan menghancurkan kehidupanku juga putramu" nasehat Dokter Maher. Citra mencerna baik-baik nasehat Dokter Maher. Dan kini Citra berpamitan untuk pulang.


Hendra masih menunggu Citra pulang dari kamarnya. Dilihatnya keluar jendela hujan masih turun. Hendra tengah berfikir tentang istrinya.


Terdengar pintu rumah terbuka. Citra kemudian masuk. Meletakkan tasnya di meja makan. Lalu ia membersihkan piring bekas makan beserta gelas dan tisu yang berantakan di meja makan. Ia menaruh di tempat cucian piring. Citra mengambil botol air mineral yang tergeletak di atas meja makan dan memasukkannya ke dalam lemari es. Dia sangat sedih malam ini. Lalu dia terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya. Citra memegangi dadanya yang dirasanya sangat sesak saat ini. Air mata tak dapat lagi ia bendung. Dengan terisak-isak, ia menangis dalam kesunyian malam.


Hendra yang mengetahui istrinya sedang menangis, memilih mundur, dan kembali menuju kamarnya dengan langkah pelan.


Pagi sudah menunjukkan pukul 6. Citra masuk ke dalam kamar Juan. Dielus perlahan pipi Juan. Juan yang merasakan sentuhan mami nya pun terbangun.


"Pagi sayang. Bangun gih. Seragam sudah mami siapkan Dan sarapan juga siap. Jangan lupa sarapan ya... Dan baik-baik di sekolah." ucap Citra lembut sambil tersenyum. Juan pun tersenyum ke mami nya.


"Mami berangkat kerja dulu. Karena ada pasien darurat. Kamu diantar papi ya". Ucap Citra sembari mengecup kening putranya.


"Ya Mam." ucap Juan sambil tersenyum.


Citra keluar dari kamarnya. Dia akan berangkat kerja. Ia melewati kamarnya, dan ia melihat suaminya sedang tertidur pulas. Dengan tatapan kebencian, Citra menatap punggung Hendra.


****


"Eh Meli, jangan melakukan tindakan yang mencurigakan. Ingatlah. Selalu hati-hati." sindir David yang baru bangun tidur di balik selimutnya ke Meli yang hendak keluar apartemen untuk berangkat kerja. Meli hanya terdiam tidak menjawab perkataan David.


Turunlah Meli ke parkiran untuk menuju di mobilnya. Dilihatnya Milka sedang berkemas memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Kau mau kemana Milka?" tanya Meli.


"Aku akan pulang ke rumah orang tuaku."jawab Milka tersenyum. Sangat cantik sekali.


"Lho? Memangnya apa ada masalah?" tanya Meli lagi.

__ADS_1


"Aku sudah putus dengannya. Jadi aku akan menenangkan pikiranku dulu." jawab Milka.


"Oh ya. Lebih baik kau putus juga dengannya. Jangan biarkan dia mengendalikan mu. Atau lapor lah ke polisi saja." ucap Milka sambil menutup bagasi. Meli hanya terdiam mendengarkan nasehat Milka.


"Yasudah. Aku berangkat dulu. Jagalah dirimu baik-baik Mel." pamit Milka.


"Berhati-hatilah." ucap Meli dijawab anggukan oleh Milka.


Melipun juga segera pergi meninggalkan apartemennya.


"Seharusnya, aku menyembunyikan obat itu. Maaf ya Dok." ucap Meli ke Citra. Kini mereka sedang berbincang di sebuah taman dekat Rumah Sakit.


Citra tersenyum, tanda bahwa smuanya baik-baik saja. Kemudian Citra mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya.


"Ini adalah hasil visum semua cedera yang ku lihat saat kau mengalami kekerasan saat itu." kata Citra menyodorkan amplop putih itu. Meli menerimanya.


"Lalu apa rencanamu berikutnya?" tanya Citra.


"Jangan mengkhawatirkan ku. Mungkin kau tidak akan bertemu lagi denganku." jawab Meli. Mereka terdiam untuk sesaat.


"Milka memberitahu ku, dia sudah putus dengan suamimu." ucap Meli. Citra kaget mendengar ucapan Meli.


"Dia berkemas dan pergi ke rumah orang tuanya pagi tadi."


"Lantas, apa yang akan kau lakukan?" tanya Meli. Seolah mendapat angin segar, Citra memikirkan sesuatu untuk dilakukan.


****


"Sayaaang... Apa kau benar-benar tidak ingin makan?" Ucap Bu Yahya sambil mengetuk pintu kamar Milka. Tidak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


"Aku senang kau melakukan diet. Tapi jangan sampai kau sakit." ucap Bu Yahya lagi. Milka hanya diam dan meneteskan air matanya.


"Keluarlah, aku akan membuatkanmu salad buah." Bu Yahya masih berusaha memanggil anaknya untuk keluar dan makan. Namun tetap tidak ada jawaban apapun.


Bu Yahya lalu menyerah. Dan ia menuju ke suaminya yang kini sedang memeriksa beberapa pekerjaan lewat tablet nya.


"Kenapa? Dia tidak mau makan?"tanya Pak Yahya tersenyum.


"Iya. Dia tidak mau makan. Kenapa dia terlihat begitu emosi ya?" kata Bu Yahya lalu duduk di samping suaminya.


"Kau harus berbicara dengannya nanti. Dan buatlah ia merasa lebih baik. Dan tanyakan kenapa dia berhenti bekerja." saran Bu Yahya.


"Aku senang dia kembali. Biarkan saja. Saat dia akan melakukan sesuatu, maka aku akan mendukungnya." jawab Pak Yahya tersenyum sambil tetap melihat layar tablet yang dipegangnya.


"Ya aku tahu itu. Tapi sepertinya dia tidak mau membicarakan apa yang ada dibenaknya saat ini." ucap Bu Yahya sedikit khawatir akan putrinya.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..


Selamat menjalankan ibadah puasa ...

__ADS_1


__ADS_2