
"Ada apa?" tanya Dina lewat ponselnya.
"Apa Juan pulang denganmu?"
"Iya aku sudah mengantarnya tadi." jawab Dina yang fokus membawa mobilnya.
"Bagaimana dengan istriku?" tanya Hendra kemudian.
"Iihhh... Kenapa tanya terus sama aku sih.. Dia kan istrimu. Tanya aja sendiri." timpal Dina ketus lalu memutuskan sambungan telponnya.
"Bisa nggak sih tidak melibatkan jomblo dalam masalah kalian." gerutu Dina geram.
Citra melihat Juan di kamarnya. Citra membuka pelan pintu kamar anaknya, takut jika akan membuat kaget Juan. Tapi Juan ternyata masih belum tidur.
"Hai, kok belum tidur sayang?" tanya Citra mengelus lembut rambut anaknya dengan senyuman. Juan menatap lekat maminya itu lalu memeluknya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Citra kemudian. Juan mengangguk.
" Mami sudah bilang kan sama papi kalau ternyata pertandingan bolanya akan dimajukan besok?" tanya Juan penuh harap.
"Sudah kok sayang. Dan papi setuju kok. Emangnya yang bikin murung kamu dari tadi ini toh." kata Citra mengusap lembut kepala Juan. Juan hanya menunduk.
"Takut aja Mam, kalo papi gak bisa datang."
" Kamu tenang aja. Papi besok pasti akan menemani kamu. Janji." kata Citra penuh perhatian ke anaknya. Juan mengangguk tersenyum lalu tidur.
Malam ini suaminya tidak pulang lagi. Citra hanya bisa menangis terduduk di lantai merasakan jantungnya yang sesak seakan ditikam ribuan pisau.
__ADS_1
Pagi harinya, Citra mengantarkan Juan ke sekolahnya untuk mengikuti turnamen sepak bola. Di halaman sekolah, Juan menunggu kedatangan papinya.
"Papi jadi datang kan Mam?" tanya Juan cemas.
" Jadi sayang. Kamu tenang aja deh." hibur Citra.
"Aku takut deh Mam, kalo papi tiba-tiba gak bisa datang kayak tahun kemarin." kenang Juan saat tahun lalu papinya tiba-tiba tidak bisa mendampingi Juan dengan berbagai alasan. Bibir mungilnya yang semula cemberut, tiba-tiba mengembang saat didapatinya sosok papi yang dari tadi ditunggunya.
"Papiiii...." Juan berlari memeluk papinya. Hendrapun memeluk Juan dengan kasih sayang.
" Ya udah Mam, ini papi sudah datang. Mami bisa pergi ke Rumah sakit deh." kata Juan senang.
"Ya udah. Kamu hati-hati ya. Nanti mami akan telpon kamu. Mas, aku berangkat dulu." pamit Citra datar tanpa mencium tangan suaminya. Hendra dan Juan lalu bergabung bersama tim sepak bola dan segera berangkat.
Di Rumah Sakit......
"Sus, tolong panggilkan pasien berikutnya." kata Citra ke suster jaga.
" Nona Milka Yahya, silahkan ke ruangan dokter Citra." kata suster. Citra terkejut mendengar nama Milka dipanggil. Sontak dia menghentikan langkahnya. Milka berdiri dari kursi tunggunya dan tersenyum sinis ke Citra.
"Hai dok, mamaku sering merekomendasikan kamu untuk aku berkonsultasi denganmu." kata Milka tersenyum manis. Citra kikuk dengan situasi ini.
"Ayo silahkan masuk." kata Citra. Milka pun masuk ke ruangan Citra dan duduk di kursi.
" Apa keluhanmu?"tanya Citra
" Aku merasa tidak enak badan, dan itu tak kunjung hilang."
__ADS_1
"Sudah berapa lama?"
"Sekitar 2 atau 3 minggu ini." Citra lalu mengambil temporal thermometer dan meletakkan di dahi Milka. Suhunya normal. Lalu dia mengambil stetoskop. Tangannya masuk ke dalam baju Milka dan menempelkannya ke dada Milka.
"Apa kau merokok atau minum?" tanya Citra.
" Aku tidak merokok. Dan akhir-akhir ini jarang minum." jelas Milka.
"Apa kau sering berhubungan badan akhir-akhir ini? Atau mungkin kau dekat dengan banyak pria?" tanya Citra kemudian. Milka jengkel dibuatnya.
"Apa aku harus menjawabnya?" jawab Milka ketus.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komentar nya yaa...
__ADS_1