Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 41


__ADS_3

"Apa kau bilang. Ha... hamil?" tanya Bu Yahya.


"Iya. Putimu hamil. Dia berselingkuh dengan suamiku dan hamil sekarang." jawab Citra.


Suasana di meja makan sangat kacau dan tegang.


"Bapak tidak mengetahui itu? Dan malah berinvestasi besar untuk Hendra?" kata Citra menatap Pak Yahya. Yang ditatap kini nampak berpikir keras.


"Ini kesalahpahaman Pak. Aku akan menjelaskannya padamu." jelas Hendra. Kini Citra hanya tersenyum sinis sambil memotong kecil-kecil steak yang ada dihadapannya.


Milka sudah sesak dibuatnya. Dia tidak menyangka jika Citra akan mengatakan ini semua kepada kedua orang tuanya.


"Lihatlah. Hendra seakan melarikan diri seperti seorang pengecut. Dan putrimu rela memberikan tubuhnya untuk suamiku" kata Citra sinis.


"Berhati-hatilah saat kau membicarakan tentang putriku." kata Pak Yahya. Citra lantas menatap Pak Yahya.


" Kau seharusnya mengajari putrimu untuk berhati-hati. Dia seharusnya tidak menyentuh suami orang lain. Dia seharusnya tidak mendekati seorang pria yang sudah memiliki putra. Tidak peduli betapa kau menyukainya. Kau hanya orang yang mengerikan." ucap Citra. Milka yang sudah tidak tahan, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Dan memecah keluarga orang lain." bentak Citra.


Plak!! Milka memukul kepala Citra.


"Apa kau sudah gila hah? Dasar wanita tak waras!" maki Milka.


Milka hendak memukul lagi. Tapi ditahan oleh Hendra.


"Hentikan." bentak Pak Yahya. Milka kemudian menutup wajahnya. Lalu ia menangis sejadi nya di lantai. Pak Yahya berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Silahkan pergi." ucap Pak Yahya. Citra merapikan rambutnya. Lalu mengelap ujung bibirnya dengan tisu.


"Baik. Saya permisi. Terimakasih atas makanannya Bu. Ini sangat lezat." ucap Citra berpamitan lalu meninggalkan meja makan.


Keadaan kini sangat kacau. Pak Yahya sangat marah. Bu Yahya serasa sesak yang sangat berat. Dan Hendra tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Sedangkan Milka masih menangis di lantai.


Di tempat lain, Tio menuju hotel yang ditentukan oleh Citra. Ia menuju kamar hotel yang sudah diberitahukan Citra. Dengan senyum sumringah, Tio mantap melewati koridor hotel menuju kamar.


Hendra mengejar Citra yang sudah keluar. Lalu Hendra menarik lengan Citra.


"Katakan! Mengapa kau harus melakukan ini semua?" bentak Hendra.


Citra diam.


"Apa kau datang kesini hanya untuk membuat keributan hah?" tanya Hendra lagi.


"Apa kau senang telah membuat kekacauan seperti ini? Apa itu membuatmu senang?" bentak Hendra


"Ini hanya permulaan saja. Masih ada banyak hal untuk dilakukan." jawab Citra.


"Memang apalagi yang akan kau perbuat?"


Citra menatap Hendra tajam.


"Perceraian." jawab Citra mantap.


"Jangan harap untuk bisa bertemu Juan lagi." kata Citra meninggalkan Hendra.

__ADS_1


"Juan itu putraku." teriak Hendra menghentikan langkah Citra. Lalu Citra menghadap ke Hendra.


"Beraninya kau mengatakan itu? Saat kau bersenang-senang dengan wanita lain, seharusnya kau sadar untuk tidak menemui putramu lagi." ucap Citra sambil tersenyum.


"Ku akui. Itu kesalahanku. Aku tidak bisa menahannya. Tapi aku tidak berniat untuk meninggalkan keluargaku. Apa jatuh cinta itu dosa?" ucap Hendra.


"Apa kau bilang? Cinta?" sindir Citra sinis.


"Semuanya sudah selesai. Jika kau tidak melakukan ini semua, investasi dan Milka akan aku selesaikan dengan baik." kata Hendra.


Citra lalu mendekati Hendra.


"Apakah kau tahu? Aku sudah tidur dengan Tio sahabatmu." ucap Citra penuh ketenangan dan datar.


Tio lalu memasukkan kartu akses masuk kamar hotel. Pintu kamar hotel pun terbuka. Tio lalu masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Citra. Tio tersenyum sumringah saat ia melihat seorang wanita tengah duduk di kursi. Tapi, raut wajahnya seketika berubah saat wanita itu berdiri dan menatapnya. Ya. Itu Dewi. Istrinya.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa...


__ADS_2