Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 56


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu? Kau tampak baik-baik saja." tanya Hendra tiba-tiba.


"Hhhh. Mengapa kau tiba-tiba peduli? Ini tidak seperti kau yang sebelumnya." ucap Citra.


"Saya cuma bertanya saja bagaimana kabarmu. Itu saja." senyum Hendra seolah-olah menertawakan Citra.


"Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan?" tanya Citra langsung ke intinya.


Hendra hanya diam.


"Kenapa kamu kembali?" tanya Citra.


"Jangan lakukan ini. Ini sudah lama. Saya ke sini bukan untuk bertengkar." jawab Hendra seolah-olah ia memang cuma niat bertanya kabar saja.


"Lalu?" tanya Citra ingin tahu maksud kedatangan Hendra.


"Saya hanya.... ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang ayah. Biarkan aku melihat Juan."


"Sekarang? Tiba-tiba? Tidakkah kau berpikir bahwa ini akan membingingkan baginya?" tanya Citra penuh emosi.


"Kenapa dia harus bingung melihat ayahnya sendiri?" tanya Hendra dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Dari sekarang, jangan menemui Juan tanpa seijin saya." ucap Citra penuh penekanan. Citra menangkap sosok yang sedang mengintipnya saat ini lewat jendela rumahnya. Sadar akan dirinya ketahuan, maka Dewi langsung bersembunyi di balik tirai.


Tio sedang mengamati beberapa berkas klien di ranjang tempat tidurnya. Kemudian Dewi datang dengan membawa sepiring buah-buahan yang sudah ia potong kecil-kecil. Ia meletakkan itu di depan suaminya yang sedang memangku laptop.

__ADS_1


"Apakah ada klien baru?" tanya Dewi.


"Lebih penting mempertahankan klien yang sudah ada saat ini daripada mengurusi klien baru." jawab Tio penuh senyum.


"Bagaiman perasaanmu? Apakah bazar berjalan dengan baik?" tanya Tio sambil memandang wajah cantik Dewi.


"Iya."angguk Dewi.


"Aku telah mendengar bahwa Hendra menghasilkan film yang saat ini sedang booming. Apakah kau sudah tau?" tanya Dewi.


"Aku tidak punya waktu untuk memikirkan film." jawab Tio yang masih terpaku pada layar laptopnya. Lalu ia menaruh laptopnya.


"Bagaimana tentang cicilan rumah kita? Kapan akan lunas?" tanya Tio lalu memeluk istrinya bermanja-manja.


"Karena aku tidak ingin membicarakannya." ucap Tio tersenyum.


"Semua orang di lingkungan kita membicarakannya. Juga membicarakan katena ia telah kembali." ucap Dewi.


"Jangan memperhatikan kehidupan mereka. Kita fokus saja pada kehidupan kita ok. Jika itu mengganggumu, maka kita bisa pindah dari rumah ini." ucap Tio.


"Apakah kita punya uang?" tanya Dewi serius.


"Tidaklah." jawab Tio santai sehingga membuat mereka tertawa bersama.


"Kau ini."kata Dewi memukul lirih pundak Tio.

__ADS_1


"Jangan lupa. Besok kita ada janji dengan dokter kndungan. Jangan terlambat Ok." ucap Citra sambil berlalu untuk ke kamar mandi.


"Baiklah, besok aku akan meluangkan waktu untuk itu." kata Tio sambil tersenyum. Sepeninggal istrinya, raut wajah Tio pun lalu berubah menjadi murung. Sepertinya, selama ini Tio memaksakan senyuman untuk istrinya.


Malam harinya, Juan sedang menonton televisi bersama mami nya. Citra mengupas kan buah untuk Juan.


"Selama kamu mendapatkan nilai yang bagus pada ujianmu, mami rasa kamu telah berhasil melalui semester ini dengan baik." ucap Citra sambil mengupas buah apel.


"Papi tadi bilang, bahwa dia mengirimiku undangan."kata Juan lurus menatap layar televisi.


"Iya. Mami sudah membuangnya." jawab Citra.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


Selamat menjalankan ibadah puasa.

__ADS_1


__ADS_2