
Milka kemudian pulang bersama mama nya.
"Kita membiarkannya karena aku kasihan padanya." kata Bu Yahya jengkel akan sikap Dewi tadi yang terang-terangan menantang dirinya.
"Beraninya dia." gumam Milka.
"Sudahlah. Biarkan saja dia. Omong-omong, Hendra pasti mengeluarkan banyak uang. Kau harus memuji nya ya." ucap Bu Yahya.
"Ibu dulu bahkan membencinya." kata Milka sambil tersenyum.
"Dulu. Tapi sekarang tidak." ucapnya.
"Akan lebih baik, jika Hendra tidak merawat anak nya itu. Kita harus memutuskan segala ikatan dengan mereka." kata Bu Yahya serius, karena ia memang tidak mau berurusan lagi dengan Citra.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini Ma. Itu apa kata nanti aja." jawab Milka.
"Aduh.... Kepala ku jadi megren kan." Bu Yahya sambi memijit kepala nya itu pelan.
Milka sudah sampai di rumah. Ia melihat suaminya baru saja turun dari tangga. Tampaknya ia akan keluar.
"Bagaimana pertemuannya?" tanya Hendra menyambut kedatangan istri cantiknya itu.
"Ya cukup menyenangkan. Aku pikir bergaul dengan wanita yang sudah berumur akan membosankan. Namun tidak ternyata." ucap Milka tersenyum.
"Hmmm. Mama sangat terkesan denganmu. Jadi ia minta aku untuk memuji mu." kata Milka memandang pria yang dicintai nya dengan lembut.
"Ya Ampun sayang. Itu bukan apa-apa." kata Hendra sambil tersenyum.
"Terimakasih. Berkat dirimu, aku menjadi lebih percaya diri." ucap Milka sambil memeluk suaminya. Hendra tersenyum. Lalu dicium rambut Milka.
__ADS_1
"Apakah kau mau pergi ke kantor?" tanya Milka sambil merapikan kemeja yang dipakai suaminya.
"Iya. Tenang saja. Aku tidak akan pulang terlambat." kata Hendra lalu mencium kening Milka.
"Juan. Aku tidak membencinya. Hanya saja aku butuh waktu yang lebih untuk lebih dekat dengannya." ucap Milka.
"Aku tahu. Kau jangan khawatir. Aku akan merawatnya sendiri. Oke." kata Hendra dan berlalu untuk keluar ruamah.
"Mari kita ajak dia untuk makan malam." ucap Milka tiba-tiba ke Hendra, dan membuat Hendra menghentikan langkahnya. Hendra tersenyum.
"Terimakasih sayang." ucap Hendra.
Hendra membuka pintu mobilnya. Namun ponselnya berdering. Nama Mertua muncul di layar ponsel nya.
"Aku dengar, kau akan menyumbangkan sejumlah uang untuk Rumah Sakit? Apa itu benar?" tanya Pak Yahya yang kini sudah ada di ruangan Hendra.
"Iya Pa. Aku bermaksud untuk memberitahu mu saat semuanya sudah diputuskan nanti. Maaf." jawab Hendra sopan.
"Tentu saja aku harus mendiskusikan nya terlebih dahulu denganmu. Jika papa tidak setuju, maka aku akan membatalkannya." ucap Hendra sambil menunuduk.
"Apa kau yakin dapat membereskan semua nya? Lakukan dengan benar!" tanya Pak Yahya. Hendra menoleh ke arah mertuanya. Dia paham, jika mertuanya sudah tahu jika maksud dia memberikan sumbangan untuk menyingkirkan Citra.
Hendra lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Ya Pa. Aku akan melakukan nya." ucap Hendra yakin.
*****
Citra sedang berbelanja di sebuah swalayan. Dia membeli bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Saat ia akan ke kasir untuk membayar semuanya, ia berpapasan dengan Bu Wahyu.
__ADS_1
"Oh, hai Bu Wahyu. Apak kabar?" sapa Citra le pasien nya tersebut.
"Kabar ku baik. Terimakasih." jawab Bu Wahyu sambil tersenyum.
"Ber hati-hati lah. Mereka tidak mudah untuk dihadapi. Kau harus kuat." ucap Bu Wahyu memperingatkan Citra. Lalu Bu Wahyu pun pergi meninggalkan Citra.
"Apa maksudnya tadi?" tanya Citra dalam hati.
Citra mengeluarkan semua belanjaannya dan menaruh nya di meja dapur. Dia mendengar suara aneh. Lalu ia memeriksa keluar dengan mengintip lewat kaca jendela. Dia terkaget, karena ponselnya berdering.
"Iya suster Ina? Ada apa?"
"Apakah aku benar lupa meninggalkannya?"
"Oh. Tidak usah. Biar aku saja yang ke sana."
Citra lalu berangkat ke Rumah Sakit untuk mengambil dokumen penting yang tertinggal di sana. Mobil Citra sudah masuk di pekataran Rumah Sakit. Namun, ia melihat Juan menuju ke Rumah Sakit. Lalu Citra mengambil ponsel nya dan menelpon Juan. Tapi Juan tidak menjawabnya.
"Apa yang dilakukannya di sini?" tanya Citra dalam hati.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.