Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 12


__ADS_3

Di rumah, Citra mengambil koper besar milik suaminya. Dia menyeretnya kasar lalu memasukkan semua pakaian suaminya itu ke dalam koper. Diseretnya lagi koper itu. Semua barang Hendra yang ada di kamar mereka, Citra kemas semuanya ke dalam koper. Sambil menangis, dia mengambil foto pernikahan mereka yang juga terdapat foto Juan di sana dari dinding kamarnya. Dengan sekuat tenaga, Citra membawa koper besar dan berat itu menuruni tangga.


Dia meletakkan koper itu di bawah tangga. Lalu dia menuju meja makan dan duduk di sana termenung. Diambilnya minuman dingin dari lemari esnya. Dia memandang foto dirinya dengan Hendra saat anniversary mereka yang bertuliskan happy anniversary sayang. love Hendra. Lantas dia mengambil semua foto yang tertempel di lemari es. Dia muak dengan semua itu.


Terdengar suara puntu terbuka. Ternyata itu Juan yang datang. Citra kemudian menaruh foto tadi di atas meja samping lemari esnya.


"Kau sudah pulang sayang? sama siapa?" tanya Citra kaget karena mendapati Juan tiba-tiba pulang. Juan tidak menjawab pertanyaan maminya itu dan langsung naik menuju kamarnya.


"Dia pulang sama aku Cit." kata Dina tiba-tiba. Citra memandang Dina sahabatnya itu dengan tatapan marah. Dina pun jadi salting dibuatnya. Lalu Citra kembali ke meja makan. Tak sengaja Dina melihat koper besar dan foto pernikahan sahabatnya itu tergeletak di lantai.


"Apa kau mau minum?" tanya Citra membuka lemari esnya.


"Boleh." jawab Dina lalu duduk berhadapan dengan Citra di meja makan. Citra menyodorkan gelas ke depannya dan Dina mengambil gelasnya yang berisi orange jus.


" Ku kira kau sakit, kok pulang duluan." kata Dina tiba-tiba.


" Aku hanya tidak ingin mengganggu acara mas Hendra dengan keberadaanku di sana." jawab Citra nanar. Dina yang mendengar jawaban sahabatnya itu kaget.


" Oh..."


"Lantas, kenapa koper dan foto pernikahanmu kau letakkan di lantai?" tanya Dina.


"Ck... aku hanya tidak menyukainya saja saat ini. Itu membuatku sesak." jawab Citra yang membuat Dina membelalakkan matanya.


" Oh ya. Kenapa tadi mas Hendra kok bisa mukul Tio?" tanya Citra ke Dina.

__ADS_1


"Entahlah. Dari yang ku dengar sih, Tio berusaha memprovokasi Hendra dengan mengatakan beruntung sekali Hendra bisa dicintai istri secantik dan sebaik dirimu, dicintai banyak orang. dasar Tio." jawab Dina sambil tersenyum.


"Dannn.. Tio juga mengatakan. Kalau gak mungkin seumur hidupnya dia akan meniduri satu orang wanita saja." kata Dina sambil tertawa lepas.


Mendengar Dina tertawa, membuat Citra lalu bertanya " Apakah itu lucu bagimu?"


Dina langsung diam seketika.


"Bukan itu maksudku. Aku gak habis fikir aja sama Tio. Kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu di hadapan istrinya sendiri." jelas Dina.


" Kau memang tidak pernah mengerti perasaan orang lain Din. Bagimu, kau tak pernah peduli orang lain sengsara atau tidak." kata Citra menatap Dina sinis.


" Hei, kenapa kau bilang seperti itu kepadaku?" tanya Dina jengkel. Citra memutar duduknya.


"Kau masih ingat? Saat kau mengatakan kalau aku terlalu sensitif terhadap perubahan mas Hendra?" tanya Citra sambil meminum airnya. Lagi-lagi perkataan Citra membuat sahabatnya itu kelimpungan. Lalu Citra menatap Dina.


"Apa kau yakin? Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan mas Hendra?" sindirnya lagi dengan menatap tajam ke arah Dina. Merasa terintimidasi, Dina hanya bisa diam dan gugup.


"Apa kau sudah tau semuanya?" hanya itu pertanyaan yang terlontar dari mulut Dina.


"Iya." jawab Citra santai.


" Aku mengetahui segalanya. Bahkan aku juga sudah tau kalau kau pernah memperingatkan Hendra soal kecurigaanku." tambah Citra.


Pernyataan Citra kali ini sukses membuat Dina gelagapan.

__ADS_1


" Bukan seperti itu Cit. Aku melakukan itu karena Hendra bilang akan mengakhiri hubungannya dengan Milka. Jadi aku tidak memberitahumu. Bahkan aku memarahi Hendra saat tau dia memiliki hubungan dengan Milka." jelas Dina


"kapan kau mengatakan itu?" tanya Citra


"1 bulan yang lalu. saat aku bertemu Hendra di restoran."


"Hhhhhhhhhhhhh.... kalian memang sahabat sejati ya." sindir Citra.


"Aku juga sabatmu Cit." kata Dina lirih.


" Kalau kau sahabatku , kau tidak akan melakukan utu kepadaku Din." bentak Citra ke Dina. Dina hanya bisa terdiam dan menyesali perbuatannya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2