
Sepulang dari Rumah Sakit, Citra lantas pergi menemui Tio di kantornya. Tio adalah penasihat keuangan yang sangat handal. Citra ke sana karena Tio mempunyai informasi penting tentang usaha yang tengah dijalankan oleh Hendra.
Citra tampak membaca status laporan keuangan yang diberikan oleh Tio. Lembar per lembar ia buka dan berusaha untuk memahaminya.
"Coba langsung jelaskan saja padaku, apa maksud dari ini semua." kata Citra ke Tio, karena memang dia tidak tahu sama sekali maksud di balik angka-angka yang tengah ia amati.
"Pada intinya, usaha yang Hendra jalankan akan bangkrut. Sewa kantor menunggak beberapa bulan. Gaji pegawai pun tidak terbayarkan." jelas Tio sesederhana mungkin dengan bahasa yang bisa dipahami.
"Tapi, mengapa karyawan Hendra begitu sibuk akhir-akhir ini. Mereka penuh dengan rencana sepertinya." tanya Citra yang duduk di seberang meja Tio.
"Kau kan tahu, Hendra seperti apa. Apa gunanya, pengeluaran lebih banyak dari pendapatan. Hendra itu rupanya tidak tahu cara menghitung semuanya. Ck... sayang sekali. Usahanya diambang kebangkrutan." sindir Tio sambil tersenyum sinis.
"Katanya, menurut yang ku dengar, dia memiliki seorang investor?" tanya Citra lagi.
"Itu dulu. Investor itu membatalkannya sejak lama. Sekarang ada investor baru. Tapi aku belum dapat mengetahuinya." kata Tio menatap penuh gelagat mencurigakan ke Citra.
"Bagaimana dengan status keuangan Hendra?" tanya Citra lagi. Tio masih menatap sosok Citra yang begitu tegar dan cantik menawan seperti biasanya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan secara legal. Karena aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menyelidiki rekeningnya. Bahkan presiden bank pun tidak akan bisa." kilah Tio.
__ADS_1
"Namun.... Beri aku sedikit waktu. Kau tahu, resiko tinggi hasilpun juga akan tinggi." lanjut Tio sambil melirik ke arah Citra yang kini tengah paham apa maksud perkataan Tio. Pasti dia menuntut lebih dari imbalan yang dia harapkan. Citra terdiam. Lalu dia berdiri dari duduknya.
"Sepertinya aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi." kata Citra sambil berlalu akan keluar dari ruangan Tio.
"Apa kau yakin tidak membutuhkanku?" tanya Tio sambil tersenyum nakal. Citra hanya diam.
"Aku akan menunggumu besok di sana jam 8 malam." lanjut Tio. Tidak ada jawaban apapun dari Citra. Dia lantas keluar dari ruangan Tio lalu menuju tempar parkir.
Di dalam mobil Citra tampak gelisah. Dia memikirkan sesuatu. Entah apa itu. Lalu dia melajukan mobilnya hendak keluar dari tempat parkir. Di persimpangan tempat parkir, mobilnya berpapasan dengan mobil putih milik Dewi, istri Tio. Dewi yang merasa kenal dengan mobil Citra, lalu menghentikan mobilnya untuk memastikan benar atau tidak bahwa itu adalah mobil Citra. Citra pun juga sama. Dia juga menghentikan mobilnya, karena dia tahu kalau itu adalah Dewi. Setelah memastikan bahwa itu Dewi, Citra bergegas pulang menuju rumahnya.
Tio berdiri menatap keluar jendela dan melihat pemandangan mobil yang lalu lalang di jalanan. Terdengar suara langkah sepatu mendekati arah ruangannya. Tio tersenyum. Disangkanya itu adalah Citra.
"Apa kau barusan ada klien?" tanya Dewi sambil melihat ada gelas bekas kopi di meja suaminya itu.
"Hanya klien akrab saja. Trus, ngapain kamu ke sini malam-malam begini?" tanya Tio setenang mungkin menutupi kegugupannya.
"Tadi kau bilang akan lembur. Ada pekerjaan klien penting. Makanya aku datang kesini untuk membawakanmu pakaian ganti." jawab Citra.
"Oh.. Aku rasa aku tidak jadi lembur. Urusanku sudah selesai. Bagaimana kalau kita makan malam saja?" tanya Tio sambil memakai jas nya.
__ADS_1
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." kata Dewi terpotong.
"Aku tadi dari Rumah Sakit dari dokter kandungan. Katanya aku sehat. Aku ingin kita memiliki anak." kata Dewi menatap Tio penuh harap. Tio menoleh ke arah Dewi.
"Apa kau bilang? Ingin memiliki anak? Bukankah kita sudah berkomitmen tidak akan memiliki anak? Karena itu hanya akan membuat ruwet saja." kata Tio setengah marah. Dewi kecewa akan ucapan suaminya itu.
"Mas....Selama ini aku sudah menurutimu untuk tidak memiliki anak. Sekarang giliranmu untuk bekerjasama denganku. Marilah kita pikirkan untuk memiliki anak." kata Dewi menangis dan lalu meninggalkan suaminya sendirian.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen..
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa...