
Citra akan pergi keluar. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat Tio keluar dari ruangan dokter ahli kandungan.
Tio juga menatap Citra. Lalu keluarlah Dewi. Dewi juga menatap Citra yang kini tengah melihat ke arah mereka.
Memang, semenjak kejadian itu mereka tidak pernah saling sapa. Meskipun mereka sahabat dan tetangga, tapi mereka tidak pernah untuk menyapa satu sama lain. Mereka hanya bisa untuk saling menatap. Walaupun ada suatu hal, mereka memilih untuk saling diam. Sungguh situasi yang sangat tidak mengenakkan.
Setelah acara saling tatap selesai, kemudian Dewi dan Tio meninggalkan Rumah Sakit.
Citra kemudian menuju ruangan Dokter Edwin.
"Bisakah aku meminta kopi?" kata Citra sambil membuka pintu ruangan.
"Tentu saja. Silahkan." ucap Edwin.
Seperti biasa. Citra akan membuat sendiri kopi nya dengan mesin otomatis di ruangan Edwin.
"Bagaimana perasaanmu? Aku dengar, dia telah kembali." kata Edwin. Citra lalu duduk tanpa dipersilahkan.
"Baik. Ya, seperti yang kamu dengar. Dia telah kembali." ucap Citra dengan sejuta pikiran yang melekat di kepala nya.
"Ya tentu saja aku mendengarnya. Rumor itu cepat sekali menyebarnya." Edwin kemudian ikut duduk.
"Yah.... Semua orang di kota ini sedang membicarakannya. Entah kenapa dia kembali setelah sekian lama." kata Citra membuang nafas nya.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Edwin.
"Menurutmu? Apakah aku terlihat baik-baik saja?" tanya Citra menyeruput kopi nya.
"Entahlah. Kau terlihat baik-baik saja, tapi tidak juga." ucap Edwin.
"Aku rasa, aku berhasil jika sudah membuatmu bingung." canda Citra. Edwin tersenyum menggelengkan kepala nya.
"Hhhhhh... Aku nggak ngerti apa alasan dia kembali. Dia bilang, dia kembali karena Juan. Tapi aku rasa bukan itu saja alasan dia untuk kembali lagi." ucap Citra sambil sedikit curhat.
"Itu mungkin memang benar karena Juan. Memangnya ada hal lain?" tanya Edwin.
"Hhhhhh. Entahlah. Lebih baik saya pergi." senyum Citra sambil menaruh gelas kopi yang masih menyisakan sedikit kopi.
"Jangan sungkan untuk membuat kopi lagi." canda Edwin yang mampu dibalas senyuman oleh Citra.
"Terimakasih sudah memberi selamat kepada saya." ucap Bu Yahya di ponsel nya. Sedangkan Milka sedang dirias oleh seseorang.
"Sudahlah Ma, jangan semua orang kau undang." gumam Milka.
"Kau tahu kan? Aku harus melakukan itu?" jawab Bu Yahya sambil check list para tamu undangan.
"Halo, Bu Sinta. Jangan lupa untuk datang ya... Aku sangat menghargai waktumu." ucap Bu Yahya lagi. Ia kemudian memberi tanda centang pada seluruh daftar yang diundangnya. Milka hanya geleng-geleng melihat tingkah mama nya yang tampak bahagia sekali.
__ADS_1
Perias pun menyudahi kegiatannya dalam merias wajah cantik Milka. Riasan yang simpel dan tidak berat.
"Mama senang deh, sebagian besar orang penting akan datang nanti." ucap Bu Yahya menghampiri Milka yang tengah berdiri di depan cermin besar.
"Kamu harus mengenakan ini. Kamu harus terlihat mencolok." kata Bu Yahya sambil memilihkan Milka gaun berwarna merah.
"Gak lah Ma. Aku gak ingin terlihat bahwa aku berusaha keras." ucap Milka sambil mengambil gaun selutut berwarna peach. Sangat cocok dengan wajah kalemnya itu.
Milka mencoba baju tersebut dengan menempelkannya di badannya.
"Aku takut deh Ma, kalau mereka nantinya akan menggunjing, bahwa aku telah mencuri suaminya." ucap Milka.
"Ehhh.. Apa yang kau katakan? Kau adalah istri sah nya saat ini. Kau adalah pemenang sejatinya." kata Bu Yahya sambil mengankat 1 tangan Milka ke udara.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.