
Mobil berhenti tepat di halaman rumah Citra.
"Jangan terlalu memarahinya." nasehat Edwin.
"Pikirkanlah urusanmu sendiri." jawab Citra. Ia lalu mematap tajam ke arah putranya yang kini sudah beranjak menjadi remaja.
Citra dan Juan masuk ke dalam rumah. Juan melewati maminya begitu saja.
"Apa mami mempermalukanmu?" marah Citra. Juan lalu menghadap ke maminya.
"Iya. Bayangkan apa yang akan dipikirkan orang setelah melihat mami ada disana!" ucap Juan dengan suara agak keras.
"Jangan salahkan orang lain! Katakan padaku apa yang kau pikirkan!" bentak Citra.
Juan diam.
"Apakah mami mempermalukanmu? Jika kau jujur pada mami, maka mami akan mengijinkanmu pergi. Maka mami tidak akan sampai mencarimu ke sana." kata Citra sekali lagi.
"Bohong! Mami pasti tidak akan mengijinkanku kan?" tanya Juan sedih.
"Kau sendiri yang bilang, jika kau tidak ingin pergi. Jadi mami berfikir kau tidak mau! Jawab Mami Juan!" marah Citra lagi.
"Iya! Aku memang mau pergi! Papi tahu apa yang ku sukai lebih baik dari mami." jawab Juan menangis lalu berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Citra pun menangis. Sedih harus bertengkar dengan putranya sendiri.
Juan lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia kemudian mengingat kembali perkataan papi nya saat memberikan sambutan tadi. Makanya, ia meninggalkan bola itu di sana.
Dengan emosi, Citra mengambil sebuah kardus kosong. Dengan langkah cepat dan penuh emosi, Citra menuju kamarnya. Dibuka lemari pakaiannya. Ia melihat semua baju, baju dalam, lingerie yang pernah Hendra belikan dulu, sama persis dengan yang ia lihat di lemari pakaian Milka tadi. Lalu ia mengambil semuanya, dan membuangnya dengan kasar.
Lalu ia menuju tempat kosmetiknya. Dilihat parfum yang sama dengan milik Milka. Lalu Citra membuangnya juga. Begitu juga saat ia melihat foto pernikahan mereka yang identik sama dengan foto yang ada di kamar Milka. Citra juga membuangnya.
__ADS_1
Citra menangis dalam kamarnya. Ia tidak tahu, apa maksud Hendra berbuat seperti itu padanya. Citra menangis sejadinya. Lalu ia tertawa. Tertawa dalam tangis. Seolah ia meratapi kebodohan nya.
*****
Di Rumah Sakit.
Citra sedang mengobrol dengan Dokter Feri untuk membicarakan tentang jadwal bulan ini di Rumah Sakit.
"Apakah Anda memiliki daftar peralatan yang kami butuhkan di UGD?" tanya Citra. Dokter Feri menunjukkan datanya.
"Oh. Terimakasih. Kami hanya membutuhkan yang ini." ucap Citra sambil melihat data yang Dokter Feri serahkan.
"Dokter Feri, maaf. Saya ada parlu dengan Dokter Citra." ucap Dina yang kebetulan melihat Citra sedang berbincang menuju ruangan Citra.
Citra berhenti tepat di maja tempat suster jaga. Dokter Feri pun berpamitan meninggalkan mereka.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Citra ke Dina yang kini sudah salah tingkah.
"Ini tentang kemarin. Aku benar-benar tidak berencana untuk pergi. " ucap Dina. Citra berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau membahas masalah kemarin.
"Apakah kau benar-benar marah padaku?" tanya Dina memelas. Citra hanya tersenyum tipis. Tidak menjawab pertanyaan Dina.
"Suster Ina. Apakah kamu bisa memberi saya tambahan istirahat 1 jam untuk melihat pasien rawat inap? Saya punya banyak dokumen untuk ditinjau ulang. Bisakah?" tanya Citra ke suster Ina yang sekarang sedang berjaga.
"Baik Dok." jawab Ina sambil megetik ulang jadwal Citra di komputernya.
Citra lalu meninggalkan Dina. Dina manyun dibuatnya. Lalu ia ke pergi ke ruangan Edwin.
"Apakah kau memikirkan sesuatu?" tanya Edwin.
"Tidak. Aku hanya merasa kelelahan saja." jawab Dina sambil memijat lembut tengkuknya.
__ADS_1
"Bagaimana Anda bisa datang bersama Citra ke pesta itu?" Dina ingin tahu.
"Kami makan malam bersama. Citra berkata bahwa ia akan menghadiri pesta itu. Jadi aku mengantarnya." jawab Edwin.
"Apakah kamu hanya mengantarnya?" tanya Dina.
"Tidak. Saya menunggu nya di luar." jawab Edwin santai.
"Kamu menunggu Citra?" tanya Dina heran.
"Ya. Karena aku mengkhawatirkan nya." jawab Edwin lagi. Lalu Edwim keluar dari ruangannya untuk menemui seseorang di luar.
Ponsel Dina berdering. Hendra yang menelpon.
"Hei! Jangan undang aku lain kali! Kau membuatku berada di posisi yang sulit.! Omel Dina. Yang kena omel hanya bisa tersenyum.
"Aku ingin memberitahumu. Bahwa malam ini aku akan bertemu dengan ketua dokter Rumah Sakit mu. Ikutlah bergabung." kata Hendra.
"Emangnya kenapa aku harus ikut?" tanya Dina.
"Ini akan bagus untukmu." jawab Hendra. Lalu ia duduk di ruang kerjanya. Ia mengambil ponsel lain dari lacinya. Ia membuka gambar yang telah dikirim seseorang untuknya. Ya. Foto Citra. Terdapat beberapa foto Citra di sana. Segala kegiatan yang dilakukan Citra ada di ponsel tersebut. Bahkan saat Citra makan malam dengan Edwin, Hendra juga memiliki nya. Hendra tersenyum melihat foto Citra itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.