Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 71


__ADS_3

Tio sedang makan siang dengan Dewi di sebuah restoran.


"Maukah kau liburan?" tanya Tio.


"Tentu saja. Memang kita mau liburan ke mana?" tanya Dewi sambil memasukkan makanan ke dalam mulut kecilnya itu.


"Terserah kau saja. Apa mau ke pantai?" tanya Tio. Seorang pelayan menaruh minuman di meja mereka. Palayan cantik itu selalu mencuri pandang ke arah Tio. Begitupun Tio. Ia memandang perempuan cantik itu dan melihat keseksian tubuhnya berlalu kembali ke meja kasir.


"Ya, itu bagus. Aku akan memesan hotel." kata Tio sambil meminum minumannya sambil melirik ke arah pelayan cantik tadi.


Setelah makan, Tio lalu membayar ke kasir. Ia menyerahkan kartu kredit nya pada pelayan tadi. Diliriknya name tag di dada perempuan itu. Zoe namanya.


"Apa Anda mau bukti pembayarannya Pak?"tanya Zoe.


"Tentu saja." jawab Tio. Zoe kemudian menuliskan sesuatu di struk pembayaran.


"Apakah sudah selesai?" tanya Dewi yang datang tiba-tiba dari belakang. Tio lalu menaruh dompetnya di saku, lalu berlalu keluar dari restoran tersebut.


"Iya sayang. Ayo kita pulang." kata Tio sambil merangkul pundak istrinya itu.


"Terimakasih sudah datang. Silahkan kembali lagi." kata pelayan.


Tio menyetir sambil memainkan jemarinya di kemudi nya.


"Apa kau tidak mendengarku?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Tio.


"Sepertinya seseorang sedang memata-matai rumah Citra. Kemarin saat kejadian pengrusakan rumah nya, aku melihat ada seorang laki-laki keluar sembunyi-sembunyi. Tapi aku tidak tahu siapa orang itu, karena gelap" kata Dewi.


"Berhentilah peduli dengan mereka." jawab Tio.


"Ck, aku hanya tidak suka saja. Orang yang berselingkuh lalu memiliki anak dan menikah lalu hidup bahagia, tapi Citra masih sendiri. Dunia ini sangat tidak adil. Dan aku khawatir dengan dia."kata Citra.


"Aku lebih mengkhawatirkanmu. Saat kau di rumah sendirian, kuncilah pintunya. Jangan lupa itu." ucap Tio masih fokus mengemudi.


"Oke. Baiklah." jawab Dewi sambil tersenyum.


*****


"Bagaimana menurutmu?" tanya Dina kepada Dokter Fadil.


"Pertama, kau harus melaporkan kepada ketua yayasan. Sudahkah kau memutuskan siapa direktur muda pengganti Citra?" tanya Dina setengah berbisik.


"Pastikan Dokter Citra tidak mendengar ini." bisik Dokter Fadil. Ia takut rupanya kalau sampai Citra mendengar hal ini. Citra pasti marah. Dina tersenyum senang. Lalu Dokter Fadil keluar ruangan Dina setelah mendapatkan kopi nya. Saat ia membuka pintu, Citra sudah ada di depan pintu akan masuk juga.


"Oh.. Kau Dokter Citra." ucap Dokter Fadil ke Citra setengah gugup. Citra hanya tersenyum, lalu ia masuk ke ruangan Dina untuk meminta secangkir teh.


"Bagaimana kabar Juan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dina.


"Iya."

__ADS_1


"Beri tahu aku jika membutuhkan bantuan." ucap manis Dina.


"Kenapa kau menawarkan bantuan?" tanya Citra sambil mengaduk teh nya. Dina kaget akan pertanyaan Citra.


"Tidak. Hanya....." Dina bingung harus menjawab apa.


"Hanya apa? Bagaimana kau akan membantu?" tanya Citra dengan tidak melihat ke arah Dina.


Dina menoleh ke arah Citra.


"Tidak. Lupakan saja." jawab Dina.


Citra lalu pergi meninggalkan Dina tanpa melihat ke arah nya.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2