Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 24


__ADS_3

Meli sudah sampai di apartemennya. Ia mengatur kamera di mobilnya ke arah yang dikehendaki, agar dia mendapat gambar yang jelas. Meli keluar dari mobilnya, dan bergegas naik ke apartemennya.


"Meli." sapa David menghampiri Meli. Melu menoleh. Dia tahu suara siapa itu.


"Ada apa kau mencariku?" tanya Meli ketus. David melihat mobil yang baru saja Meli kendarai.


"Waahhh... Sekarang kau punya mobil rupanya. Dan tinggal di apartemen." sindir David. Meli diam.


"Dari mana kau mendapatkan ini semua? Apa dari pria tua hidung belang" sindir David lagi.


"Itu bukan urusanmu. Bukannya kita sudah putus?"jawab Meli.


"Bagaimana kalau aku menganggap kita tidak putus?" tanya David jail.


"Aku bilang, kita sudah putus." tandas Meli.


"Terserah lah. Oh ya, ternyata wanita tua itu direktur asosiasi Rumah Sakit Bina Sehat ya. Apa hubungannya denganmu?" selidik David.


"Tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanyalah seoarang dokter yang pernah merawatku. Sudahlah mending kau pergi dari sini." kata Meli berlalu naik ke atas menuju apartemennya.


Lalu David berlari mendahului Meli, dan David belok kanan menuju apartemen Milka. Meli yang mengetahui itu langsung mencegah David. Tapi terlambat, David sudah memencet bel apartemen Milka.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Meli. Dengan kasar, David lalu menarik tangan Meli dan menyudutkannya ke dinding. Keluarlah sosok Hendra membuka pintu apartemen dan melihat ke arah Meli dan David.


Jam dinding menunjukkan pukul 1 lewat 20 dini hari.


Setelah ganti pakaian, Citra lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Meli. Tapi tidak ada jawaban dari Meli. Citra lalu menghubungi Hendra. Lama nada sambung itu terdengar sebelum Hendra menjawab telpon Citra.


"Kau belum tidur?" tanya Hendra.

__ADS_1


"Belum Mas. Aku mengkhawatirkanmu karena tadi kau buru-buru berangkatnya." kata Citra terbata.


"Tidak apa-apa. Aku akan membereskannya malam ini." kata Hendra hati-hati sambil menoleh ke Milka yang tengah sebal mendapati Hendra menelpon istrinya.


"Apa kau akan begadang malam ini?" tanya Citra terbata-bata.


"Iya."


"Jangan kau paksakan dirimu Mas. Jika kau lelah, sempatkanlah untuk istirahat. I Love You." kata Citra.


"I Love You too." jawab Hendra. Milka yang mendengar itu langsung marah. Lalu keluar dari kamarnya dan membanting pintunya. Citrapun sampai mendengar suara pintu itu dengan jelas. Lalu Citra menangis sejadinya. Mengetahui jika suaminya kini tengah berada di kamar Milka. Citra mencoba terus menghubungi Meli, tapi tidak ada jawaban dari Meli.


Pagi harinya..


Di tempat yoga langganan Dewi, ternyata Milka yang menjadi instrukturnya.


"Dorong kaki perlahan. Doronglah perlahan." kata Milka sambil membenarkan posisi peserta yoga yang kurang pas menurutnya.


"Buatlah tubuhmu rileks."


Lalu dia mengelus perutnya. Dia merasakan mual yang sangat di perutnya. Dewi hanya bisa melihat gerak gerik Milka.


Di dalam toilet, Milka muntah-muntah. Gejala morning sickness. Dia mencuci tangan beserta mulutnya. Dia menghela nafasnya untuk mendapat ketenangan. Tiba-tiba keluarlah Dewi dari dalam toilet dan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


"Aku memiliki 3 saudara perempuan. Jadi aku tahu bagaimana mereka saat hamil." kata Dewi sinis.


"Katakan, apa yang ingin kau tanyakan sebenarnya?" tanya Milka.


"Jadi, aku hanya ingin tahu saja apa alasanmu mengundurkan diri?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Apa maksudmu sebenarnya? Jika kau mempermasalahkan uang yang telah kau bayarkan maka kau bisa menambilnya kembali." kata Milka.


"Ini bukan masalah uang kok. Aku hanya bertanya saja. Hhhmmmm. Selama ini aku membiarkannya karena kau adalah selingkuhannya Hendra." kata Dewi sambil memasang antingnya.


"Melihatmu hamil, ini telah mengubah banyak hal. Rasanya aku tidak bisa diam lagi." kata Dewi tajam.


"Baiklah. Beri tahu Citra sebanyak yang kau tahu. Karena sebenarnya aku menginginkan dia mengetahuinya." bentak Milka sambil membuang tisu bekasnya dengan kasar.


"Kau adalah kaki tangan Mas Hendra. Dan sekarang kau bertingkah seperti teman sejatinya?" sindir Milka kemudian.


"Apa kau pikir Citra akan mundur begitu saja, bahkan saat dia sudah tau segalanya?" tanya balik Dewi.


"Pikirkanlah lagi. Mungkin Hendra membiarkanmu mempunyai anak sendirian dan merusak hidupmu." kata Dewi. Lalu Dewi berjalan melewati Milka, sehingga menyenggol bahu Milka dan membuat menyingkir dari jalannya.


"Pernahkah kau berpikir bahwa Citra sudah mengetahui segalanya, dan dia bersikap bodoh? Dan Hendra hanya akan menjadi bedebah." kata Dewi mengambil tisu lalu mengelap tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Milka hanya geram melihat tingkah Dewi hari ini.


"Tidak ada obat untuk kebodohan" sindir Dewi dan meninggalkan Milka sendirian di toilet.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa,like dan komen ya.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa..


__ADS_2