Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
Depressed 2


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri lorong gelap sambil membawa sebuah obor. Kulihat sebuah cahaya dan pasti itu adalah akhirat. Tapi, yah, tebakanku salah lagi. Itu adalah cahaya dari ruang operasi. Bunuh diri yang sudah kurencanakan dengan detail berakhir gagal hanya karena ibuku yang entah mengapa tiba-tiba pulang sangat awal.


Aku masih dapat mendengar beberapa suara meski tak dapat membuka mata. Kurasakan jarum suntik masuk menembus kulitku dan menyemburkan suatu cairan. Lalu dalam sekejap aku sudah tak lagi dapat merasakan apapun. Aku terkapar di rumah sakit selama beberapa hari. Aku kehilangan keinginan untuk makan sehingga tubuhku sangat lemas dan tentu ada jarum yang mengalirkan darah ke tubuhku. Saat itu aku sama sekali tak ingin tahu siapa orang murah hati yang mau memberikan darahnya padaku.



Saat bangun ibuku menyambutku dengan omelan. Dia terus menyudutkanku sembari mengancam akan mengirimku ke tempat ayah. Namun yah, aku sudah tak dapat lagi terluka dengan ucapannya itu. Aku lebih memilih mendengarkan dan mengganggap itu sebagai lagu pengantar tidur.


Beginilah hidupku. Begitu sembuh, aku dibuang ke pusat rehabilitasi dan aku heran mengapa bukan ibuku saja yang mengurusku padahal dia telah melihat anak semata wayangnya hampir menjadi bintang.


Memang bukan hidupku jika tak menantang. Aku kembali mencoba meninggalkan dunia tanpa izin lagi. Sudah beberapa hari aku mengamati para perawat dan tempat-tempat yang mereka masuki. Saat ada kesempatan, aku mengendap-endap untuk mencuri obat di tempat penyimpanan. Aku membaringkan tubuhku di lantai lalu menenggak mereka semua. Hal terakhir yang kuingat adalah banyak busa yang mengucur dari mulutku. Aku lantas tersenyum dan berpikir bahwa kali ini pasti berhasil.


Wow, aku salah lagi. Aku kembali bangun setelah 3 hari koma. Namun ada pemandangan baru yang tak wajar. Ya, itu ibuku, sedang menatapku sambil menangis dan ayahku bersama kekasihnya duduk di kursi lalu berjalan mendekat.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Yuzu? Ibu bekerja meski tulang ibu hampir patah demi dirimu, putriku." Air mata ibu tumpah seketika. Pasti hatinya tergores setelah aku mencoba kabur darinya. Dia terus mengelus-elus rambutku sembari mengutarakan perasaan yang selama ini ditutupinya itu.


Ayahku juga sama. Dia menyesal karena tidak meluangkan lebih banyak waktunya untuk menemaniku. Ayah bilang bahwa dirinya tak akan sanggup melanjutkan hidupnya bila putri cantiknya ini sampai terluka. Melihat pemandangan epik ini membuat mataku berair, mungkin momen inilah yang diinginkan hati kecilku. Aku jadi tak menyesal karena melakukan hal bodoh ini berulang, tapi aku pastikan aku tak akan mengulangi kesalahan yang dapat membuat orang tuaku bersedih lagi. Aku sangat bersyukur pada Tuhan setelah ini semua.


Kini aku tak dikirim ke pusat rehabilitasi lagi tapi di bawa ke rumah. Ibu dan ayah secara bergantian nemaniku. Aku sama sekali tak terganggu meski aku hanya sendiri saat akan ke toilet dan mandi. Sisanya, aku selalu dikerumuni banyak orang. Aku sadar aku dikaruniai cinta yang teramat banyak sampai mataku tak mampu melihatnya. Namun sejak itu aku berdoa agar memiliki banyak waktu untuk berusaha membalas kasih sayang keluargaku.


****


Aku masih mengkonsumsi obat penenang atas kemauanku sendiri. Aku sangat sadar bahwa diriku tidak sewaras dulu, tapi aku pasti akan kembali normal seperti sedia kala. Meski aku belum memiliki keberanian untuk menatap wajah orang lain, tetapi aku selalu mencoba memperbaiki interaksi, khususnya kepada keluargaku tercinta.


"Ini sarapanmu, Yuzu. Kau mau makan disuapi siapa?"


"Aku akan makan sendiri, Bu."

__ADS_1


"Baiklah. Jika kau perlu sesuatu katakan saja. Cuti ibu berakhir dan hari ini ibu akan bekerja. Untuk beberapa hari kedepan, Ayahmu akan menemanimu saat ibu bekerja. Jangan jadi manja ya," ejek ibu dengan senyum tipisnya. Semua kebahagiaan ini membuatku lupa untuk beberapa saat bahwa aku masih memiliki studi yang belum terselesaikan.


Dua bulan kemudian, aku kembali pada rutinitas awalku. Meski banyak orang menghindar saat melihat bekas goresan di pergelangan tangku, aku tetap tidak coba menutupinya, karena bagiku, tanda ini adalah hadiah dari kehidupan. Aku bertahan dan fokus dalam pembelajaranku. Tak ada hal yang mampu mengusik perasaanku lagi, termasuk para sahabat lamaku yang coba kembali mendekatiku. Aku tetap tersenyum pada mereka meski aku menjaga jarak dengan semuanya.


Alhasil, beberapa semester terakhir telah kulewati dengan cukup baik. Aku diwisuda dan menjadi mahasiswa yang mendapat ipk tinggi. Orang tuaku terlihat sangat senang dengan hal itu, khususnya ayah. Dia menanyakan hadiah apa yang kuinginkan atas kerja kerasku selama ini. Tentu kujawab bahwa aku hanya ingin bahagia bersama keluargaku.


Aku langsung bekerja setelah lulus dari perguruan tinggi. Meski menyandang title Sarjana Psikologi, aku tak melulu langsung bekerja di perusahaan besar meski mendapat beberapa tawaran menjadi staf HRD. Aku lebih memilih memulai segalanya dari awal. Meski terlihat menyianyiakan kesempatan, bagiku hal paling penting adalah membentuk siapa diriku.


Meski sempat mendapat pertentangan dari ayah dan ibu, mereka akhirnya menyetujui keinginanku itu. Sekarang aku tinggal di kontrakan bersama beberapa perantau lain yang belum kutahu namanya. Meski agak kikuk menjalani hari sendirian, aku mulai membiasakan diri dengan semua hal ini. Tempat yang aku tinggali sedikit lebih besar dari rumah asliku. Di sini ada 6 kamar dengan dua kamar mandi di setiap lantainya. Kamarku sendiri berada di lantai atas bersama dua ruangan lain.


Saat pertama memasuki kamar, aku sangat terkejut karena ruangannya yang sangat rapi dan bersih. Hal ini bertentangan dengan ucapan pemilik kontrakan yang mengatakan bahwa kamarku telah menganggur selama 4 tahun lamanya. Begitu masuk, kurapikan semua barang bawaan, termasuk foto keluarga yang kupajang di dinding kamar.


Dalam hati, kurasakan rindu pada ibuku. Kami yang biasa bertemu setiap saat membuatku ingin menemuinya. Namun sudah kuputuskan bahwa aku baru akan kembali menjalani hidup nyaman bersamanya saat aku telah mampu membanggakannya. Jadi untuk saat ini, aku hanya akan menelfon ibu dan berusaha sebaik mungkin agar dapat mencapai tujuanku.

__ADS_1


__ADS_2