
Hari ini ada pertemuan geng sosialita di sebuah restoran yang terbilang mahal. Ada Bu Yahya, Milka, Bu Wahyu, Dewi, Dina, Mia, Yuli, juga Erna. Mereka duduk bersama untuk membahas masalah amal yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Ya, mereka sudah menyepakati akan dilakukan minggu depan.
"Hhhmmm. Makanannya enak ya." kata Mia sambil memakan steak saus kacang yang baru ia potong. Semua setuju dengan pernyataan Mia itu. Karena memang rasa dari makanan ini sangatlah enak.
"Aku dengar, harga tanah di sekitar tempat produksi film Hendra naik drastis loh sekarang." Yuli mulai buka suara.
"Bukan hanya harga tanah saja yang naik. Tapi juga harga sewa pertokoan juga ikut naik." Erna menambahkan. Bu Yahya tersenyum bangga mendengar pujian teman sosialita nya.
"Suamiku bilang, nanti saat acara peresmian film baru Hendra, walikota langsung loh yang akan meresmikannya." kata Mia yang kebetulan suaminya adalah anggota dewan di kota ini. Jadi dia pasti tahu kabar dari dalam pemerintahan.
"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kota ini pasti sangat pesat."kata Bu Wahyu. Mereka tertawa bersama.
"Ya. Jelas saja dia akan hadir. Mengingat siapa mertua Hendra saat ini." goda Erna. Bu Yahya tersipu malu mendengar pujian teman nya itu.
"Untuk kari ini biar aku saja yang membayar makanannya ya." kata Dewi mengubah topik pembicaraan. Karena mulai dari kemarin, jika bertemu dengan orang-orang ini pasti yang dibicarakan hanya Hendra saja. Sangat membosankan.
Namun, niat Dewi dicegah halus oleh Milka.
"Jangan. Biar aku saja yang membayar. Hitung-hitung ini untuk merayakan bergabungnya aku dengan organisasi ini." ucap Milka.
"Jangan repot-repot. Kalian sudah membuat acara pesta yang sangat mewah kemarin. Itu sudah cukup pembuktian mu untuk perayaan kembali nya kalian." ucap Dewi sinis. Semua mata memandang ke arah Dewi.
Tiba-tiba seorang pelayan datang.
"Tuan Hendra sudah membayar ini semua." kata pelayan itu.
"Dia sudah membayarnya?" tanya Mia.
"Iya nyonya." jawab pelayan itu. Ada beberapa orang sambil membawa bingkisan untuk dibagikan ke setiap orang.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Erna.
"Ini hadiah dari Tuan Hendra. Beliau memerintahkan untuk memberikannya ke setiap orang."
"Astagaaaa.... Dia baik sekali." kata Mia sambil membuka isi dari tas kecil itu. Ternyata isinya adalah sebuah bros berbentuk bunga mawar yang dilapisi dengan emas.
"Itulah menantuku. Yang dipikirkannya adalah Milka." bangga Bu Yahya.
"Pak Hendra benar-benar suami idaman ya." puji Erna.
"Sampaikan terimakasih ku pada Hendra ya Milka." ucap Dina. Milka mengangguk.
"Maaf. Pesta kemarin sudah lebih dari cukup. Ini agak berlebihan. Kita di sini untuk menikmati kebersamaan sesama wanita. Jika suamimu terlibat, dan membayarnya secara sepihak, maka saya rasa ini bertolak belakang dengan maksud pertemuan ini." kata Dewi. Semua mata memandangnya. Dan kini mereka mulai tersadar akan ucapan Dewi.
"Hhhhhh... Apa kau merasa tidak nyaman?" sindir Milka.
"Ya. Dewi tidaklah salah. Dewi ada benarnya. Mulai sekarang, mari kita berhenti menggunakan uang suami saat kita ada pertemuan seperti ini. Itu tidak masalah kan?" kata Bu Wahyu. Milka sontak menoleh ke arah Dewi. Dewi tersenyum sinis.
Lalu Dewi dan Bu Wahyu berdiri untuk membayar makanannya masing-masing tanpa membawa hadiah dari Hendra.
"Maaf ya Milka. Saya permisi dulu." kata Yuli ikut permisi.
"Oh Milka. Aku sangat menghargai kebaikan suamimu. Terimakasih hadiahnya." kata Mia sambil membawa hadiahnya.
"Aku akan menerimanya. Terimakasih." kata Dina ikut permisi.
"Menyebalkan." kata Milka yang kini hanya tinggal dirinya dengan ibunya.
"Bu Yuli.. Tunggu..." kata Dina mengejar Bu Yuli yang kini ada di pelataran parkir. Yuli menoleh.
__ADS_1
"Ini untukmu." kata Dina sambil menyerahkan hadiah dari Hendra tadi.
"Tidak. Tidak usah." tolak Yuli halus.
"Tidak apa-apa. Aku tadi bilang ini untukku saat aku mengambilnya." kata Dina menyerahkan hadiah itu. Yuli pun tersenyum dan menerima nya.
"Oh terimakasih. Tapi aku tidak enak dengan suamiku." jawab Yuli.
"Tidak apa-apa. Ini urusan wanita. Dokter Fadil tidak perlu tahu." kata Dina.
"Perempuan seperti mu seharusnya menjadi direktur muda Rumah Sakit." kata Yuli mengerti maksud Dina.
"Tolong bantu aku." bisik Dina.
"Baiklah, aku akan membuat janji dengan Bu Wahyu." jawab Yuli tersenyum.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
__ADS_1