Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 18


__ADS_3

Sore harinya, Citra langsung pulang ke rumah. Saat dia masuk ke dalam rumah, Citra mencium harum aroma nasi goreng. Citra kaget, ternyata suaminya tengah berkutat di dapur untuk memasak nasi goreng.


"Sudah pulang kamu mas?" tanya Citra heran. Hendra mengangguk sambil tersenyum kepadanya.


"Bagaimana masalahmu yang tadi pagi? Apa sudah selesai?" tanyanya lagi sambil menghampiri Hendra.


"Ya, aku sudah menyelesaikannya." jawab Hendra tenang sambil tersenyum kepada Citra dan terus mengaduk nasi di wajan. Citra lantas membuka lemari bawah, dan mengambil celemek.


"Kau selalu melupakan untuk menggunakannya. Noda minyak akan sulit untuk dibersihkan." kata Citra sambil memakaikan celemek di tubuh suaminya. Hendra menghadap ke Citra dan menerima perlakuan manis istrinya itu.


"Terimakasih sayang." ucap Hendra dan melanjutkan acara memasaknya. Setelah makan bersama keluarga, lantas Hendra meminta ijin ke Citra untuk keluar sebentar menemui Dina di sebuah kafe. Citra menyetujuinya, karena memang dia sudah mengetahui dari Dina, kalau mereka akan bertemu malam ini.


"Kau ini gimana sih? Katanya mau meninggalkan Milka." omel Dina ke Hendra sambil menyeruput kopinya.


"Entahlah Din. Saat ini aku bingung." jawab Hendra sambil membuang nafasnya kasar.


"Ihhhh... Pilihlah salah satu. Saranku, pertahankan rumah tanggamu." kata Dina memberi saran.


"Aku sangat mencintai Citra. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika tanpanya. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Milka saat ini. Aku rasa aku mencintai keduanya saat ini." jawab Hendra.

__ADS_1


"Idihh... Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Dina geram. Tak ada jawaban dari Hendra.


Pagi harinya, Citra sengaja menemui seorang pengacara perceraian. Dia melakukan hal itu, karena Dina menceritakan semuanya ke Citra.


"Apa kau sudah siap untuk bercerai?" pertanyaan dasar yang diajukan oleh seorang pengacara yang bernama Ilham kepada Citra. Citra mengangguk ragu.


"Apa kau punya bukti untuk membuktikan perselingkihan suamimu?" tanya Ilham kemudian.


"Aku masih belum punya." jawab Citra gugup.


"Jika kau membuktikan langsung hubungan seksual mereka, misalnya pakaian dalam, ******, atau foto mereka sedang melakukannya itu akan bagus untukmu." jelasnya. Citra berusaha memahami ucapan pengacara itu.


"Kamera tersembunyi, GPS, kau bisa mendapatkan masalah juga. Kau bisa mendapatkan hukuman pidana untuk itu. Tidak masalah membuntuti suamimu di tempat umum. Jika kau bisa memotret mereka saat memasuki hotel, itu akan sempurna. Jika kau melewatkan waktu untuk mengambil foto, kau bisa meminta rekaman CCTV hotel itu sebagai bukti. Atau hubungan mereka saat melakukannya." jelas Ilham. Citra serasa mual mendengarnya.


"Apa aku harus mendapatkannya?" tanya Citra.


"Jika kau bisa. Apa kau yakin? Kau tidak akan kembali seperti semula jika kau menyaksikan suamimu melakukannya dengan orang lain di hadapanmu sendiri." tambah Ilham. Citra bingung harus apa. Lantas dia permisi untuk pulang dan meninggalkan pengacara itu di ruangannya. Saat keluar dari gedung itu, Citra merasa pusing dikepalanya. Seolah sudah capek menghadapi ini semua.


Setelah itu, dia pergi ke toko buku. Untuk membelikan buku pesanan Juan. Saat membayar buku di kasir, ternyata di kasir sebelah dia mendapati Milka di sana. Citra menatap lekat-lekat kekasih suaminya itu. Dilihatnya, Milka sedang membeli buku panduan kehamilan. Hatinya seakan teriris-iris ketika mengingat suaminya berkata bahwa ia akan membereskan semuanya. Ternyata, untuk sekali lagi, Hendra membohonginya.

__ADS_1


Dipintu keluar, Citra dan Milka berdiri sejajar.


"Ternyata kau memutuskan untuk melahirkannya?" tanya Citra tiba-tiba.


"Ya. Kami memutuskan untuk melahirkannya." sengaja ia menekankan kata-kata kami. Citra terdiam mendengarnya. Lalu dia tertawa mendengar penuturan Milka.


"Apa kau benar-benar mempercayainya?"tanya Citra


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komennya ya..

__ADS_1


__ADS_2