Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 30


__ADS_3

Hendra mendapati istrinya tengah tertidur di sofa. Kemudian dia memeriksa isi tas Citra, dan juga memeriksa ponselnya. Citra yang memang sedang tidak tidur, melirik kegiatan suaminya saat itu. Dibuangnya nafas tanda lega oleh Citra. Karena sebelumnya semua percakapan dengan Tio sudah dihapus.


Saat sarapan pagi, Hendra meminum kopinya. Citra baru saja turun dari kamarnya, dan langsung bergabung untuk sarapan bersama Juan dan Hendra.


"Pulang jam berapa kamu?" tanya Hendra sambil meminum kopinya. Citra tengah mengaduk kopi yang baru saja dibuatnya.


"Sekitar jam 5 pagi tadi." jawabnya.


"Sayang jangan makan keripik terus. Ini ada buah segar." kata Citra ke Juan yang sedang asyik makan snack, lalu membungkusnya dan mengambilkan buah-buahan yang sudah ia kupas untuk diberikan ke Juan. Juan pun menuruti maminya itu.


"Memang apa yang kalian lakukan hingga selarut itu?" tanya Hendra lagi.


"Kami hanya keasyikan ngobrol saja mas di kamar hotel. Biasalah wanita. Apalagi kami sahabat sejak kuliah. Jadi gak terasa ngobrol hingga larut malam. Sebenarnya aku ingin pulang, tapi mengingat sudah larut aku urungkan saja." jawab Citra lembut sambil tersenyum.


"Oh." Hendra hanya bisa menjawab sesederhana itu dan menghabiskan minumnya.


"Sayang, ayo berangkat. Mami yang akan mengantarmu ke sekolah." kata Citra mengajak Juan. Citra berpamitan ke suaminya seperti biasa.


Sepeninggal Citra, Hendra mengambil ponselnya. Dan menghubungi Cempaka Hills untuk mempertanyakan sesuatu.


Sesampainya di Rumah Sakit, Citra bertemu dengan Pak Fadil . Dia adalah ketua para dokter di Rumah Sakit ini. Pak Fadil sudah berdiri dengan Dokter Edwin.

__ADS_1


"Nah itu adalah dokter Citra. Dia adalah direktur asosiasi di Rumah Sakit ini." kata Pak Fadil sambil memanggil Citra. Citra tampak mengingat-ngingat sesuatu. Sepertinya dia pernah bertemu dengan dokter Edwin. Sejenak dia pun mengingatnya. Dokter Edwin adalah dokter yang tak sengaja ia temui di hotel tadi malam.


"Halo. Aku Edwin. Aku psikiater baru di sini. Senang berjumpa dengan Anda." sapa Dokter Edwin sambil mengulurkan tangannya. Citra menyambut uluran tangan Dokter Edwin.


"Saya Citra. Selamat bergabung di Rumah Sakit kami." katanya tersenyum.


"Oh ya. Kalu ini Dokter Dina. Dia ahli kandungan" kata Pak Fadil memperkenalkan Dina. Dokter Edwin pun Bersalaman dengan Dokter Dina.


Setelah acara perkenalan tersebut, mereka menuju ruangan masing-masing. Tapi seperti biasanya, Citra mampir dulu ke ruangan Dina untuk membuat teh madu hangat.


"Bagaimana menurutmu dengan Edwin? Dia tampan kan, dia juga seorang duda. Tanpa anak loo.." ujar Dina.


"Kalian cocok. Cobalah...." kata Citra berlalu keluar dari ruangan Dina.


"Apa yang membuatku harus marah padamu?" jawab Citra berlalu dan tersenyum. Dina bernafas lega mendengar jawaban sahabatnya itu.


Ponsel Dina berdering. Lalu ia menjawabnya.


"Ya, ada apa Ndra?" tanya Dina.


"Apa Citra pergi ke Rumah Sakit?" tanya Hendra.

__ADS_1


"Apa yang kau tanyakan itu? Tentu saja dia bekerja hari ini. Kau itu aneh." jawab Dina.


"Apa kau merasa ada sesuatu yang terjadi pada Citra akhir-akhir ini?" selidik Hendra.


"Memangnya kenapa sih!" tanya Dina penasaran.


"Aku rasa ada yang berbeda dengannya akhir-akhir ini." jawab Hendra penuh kecurigaan.


"Heiii.. Bukannya kalian sudah berbaikan? Bukannya kau kemarin memberinya buket bunga?" tanya Dina.


"Apa kau bilang? Buket bunga?" tanya Hendra kaget.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen...


Selamat menjalankan ibadah puasa...


__ADS_2