Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 37


__ADS_3

Hendra dan Juan kini berada di restoran siap saji. Hendra memesan 2 porsi fried chicken beserta minumannya.


"Makanlah."ucap Hendra. Juan tersenyum lalu memakannya. Saat Hendra hendak makan, ia melihat seorang wanita masuk ke restoran ini. Matanya tak dapat lepas dari sosok wanita itu. Perlahan, wanita itu mulai memesan makanan.


Kemudian pandangan mereka bertemu. Betapa kesalnya Milka saat mengetahui Hendra kini tengah makan bersama dengan putranya. Wajah Milka tampak kesal dan cemberut. Masalah belum selesai, dan kini Milka mendapati Hendra sedang bersama anaknya. Hendra dibuat panik. Di sisi lain, ia ingin segera menemui Milka, tapi di sisi lain ada Juan di hadapannya.


Juan pun melihat gelagat aneh dari papi nya.


"Kau baik-baik saja kan Pap?" tanya Juan yang tak dihiraukan oleh Hendra. Lantas, Juan menoleh ke arah papinya memandang saat ini. Juan tersenyum sisnis tatkala ia mengetahui siapa yang kini sedang dilihat papinya.


"Aku sangat merasa tak nyaman pap." kata Juan tiba-tiba.


"Apa kau bilang?" tanya Hendra tidak mengerti.


"Aku benci orang yang mirip dengannya." jawab Juan. Hendra terdiam mendengar penuturan Juan. Kini ia semakin bingung.


"Mengapa papi gak makan?" tanya Juan. Hendra hanya bengong.


"Papi.." ucap Juan lagi membuyarkan lamunan Hendra.


"Hah? Apa?" jawab Hendra gugup.


"Papi kenapa?"


Hendra gelagapan. Dilihatnya Milka keluar dari restoran dengan sangat kesal.

__ADS_1


"Oh, sebentar. Papi mau ke toilet dulu." pamit Hendra ke Juan. Juan melihat papinya itu lari keluar restoran. Dia membuang nafasnya.


Hendra berlari mengejar Milka. Lalu menghubungi Milka lewat ponselnya. Tapi Milka tidak menjawabnya. Milka terus berjalan menjauh dari restoran itu. Dan Hendra tidak berhasil menemukan keberadaan Milka.


"Apakah kalian bertengkar lagi?"tanya Dina di ujung telpon.


"Ah katakan saja, jam berapa Citra pulang kerja?" kata Hendra yang sedang duduk di tepian ranjang kamarnya.


"Kau belum putus dengan Milka kan?" tanya Dina menginterogasi Hendra.


"Sudah ku bilang, aku sudah putus dengannya." jawab Hendra sedih.


"Tapi Citra bertindak sangat aneh beberapa hari ini. Ah sudahlah jangan dibahas lagi." ucap Hendra bingung. Pintu kamar Hendra terbuka oleh Juan.


"Mami marah kan sama papi?" tanya Juan. Hendra diam tidak menjawab.


"Pasti papi punya kesalahan sama mami, sehingga mami marah sama papi." lanjut Juan.


"Tidak, papi tidak membuat kesalahan ke mami. Tenanglah Nak, papi akan menyelesaikannya dengan mamimu. Sekarang tidurlah." ucap Hendra. Juan pun menutup pintu kamar papi nya, dan tidur menuju kamarnya.


Citra kini tengah duduk sambil menikmati kopi. Hari ini sangat membuatnya frustasi. Tampak langit akan segera turun hujan. Maka Citra keluar dari kedai kopi itu, dan berjalan menuju seberang jalan di mana mobilnya kini tengah parkir.


Pikirannya kalut. Air matanya menetes bersamaan dengan hujan yang turun. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk berdiri saat ini. Dia berjalan seperti hilang arah. Berjalan gontai, dan pikiran kosong. Saat ia hendak menyebrang, suara klakson truk membuyarkan lamunan nya. Citra terkejut. Untung saja ada tangan seseorang yang menariknya. Jika tidak, mungkin saat ini dia sudah tertabrak truk itu. Citra menoleh ke arah pria itu. Rupanya Citra mengenal baik pria itu.


Citra kini berada di ruangan yang serba klasik. Kini ia berada di ruang baca sambil memegang segelas cangkir teh hangat.

__ADS_1


"Terimakasih Dok, kau sudah membantuku." kata Citra kepada dokter Maher. Dokter Maher adalah ketua dokter di Rumah Sakit tempat Citra bekerja. Namun, sekitar 3 tahun yang lalu Dokter Maher pindah bekerja ke Rumah Sakit yang ada di kota lain.


"Aku senang bisa membantumu." jawab Dokter Maher yang rambutnya itu sudah lebih banyak berwarna putih.


"Aku tahu kau Citra. Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu." kata Dokter Maher. Citra kemudian menceritakan segalanya. Mulai dari Hendra yang berselingkuh, Milka yang hamil, hingga rencana perceraiannya ia ceritakan secara jelas. Bahkan, kejadian saat ini ia ceritakan semuanya. Bagi Citra, Dokter Maher ini sudah seperti ayahnya.


"Saranku, kau lebih baik pergi dengan Juan dari kota ini dan memulai hidup baru. Ini adalah kota kelahiran Hendra." kata Dokter Maher.


"Kau tahu, aku tidak punya tempat lain untuk pergi." jawab Citra dengan tatapan nanar.


"Saat aku kehilangan kedua orangtua ku, dan menjadi gadis menyedihkan yang ditinggalkan sendirian. Apa kau tahu, berapa lama aku menghilangkan label itu? Apa yang aku punya sekarang semuanya ku bangun di sini. Ini kampung halaman anakku, dan sekarang kampung halaman ku juga." lanjut Citra meneteskan air mata.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya..


Selamat menjalankan ibadah puasa..

__ADS_1


__ADS_2