
Semua tamu undangan berkumpul untuk mendengarkan sambutan dari Hendra.
"Terimakasih kalian semua sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara kami." ucap Hendra. Semua tamu memberikan apresiasi berupa tepukan tangan.
"Terimakasih, untuk mertua saya. Yang selalu mendukung apapun kegiatan saya. Terimakasih Pa, Ma."
"Untuk yang sangat saya cintai, istri saya, Milka. Terima kasih, kau sudah mau mendampingiku disaat aku terpuruk. Kami sempat pergi, karena masalah di masa lalu. Tapi kami selalu merindukan kampung halaman kami ini." perkataan Hendra terhenti. Raut wajah sedih ditunjukkan. Milka mengusap lembut lengan suaminya itu. Semua tamu undangan kompak bersedih kayaknya.
"Hal yang sama untuk Jenny. Putri saya satu-satunya dan putri yang sangat berharga bagi saya. Kami bertiga akan hidup disini selama yang kami mau. Berikan ciumanmu untuk papi" kata Hendra yang sambil menggendong Jenny. Jenny langsung mencium pipi papinya itu.
Semua orang tampak gemas akan paras cantik Jenny. Balita gembul itu sangat imut. Membuat semua orang ingin mencubit pipinya.
Citra hanya diam memandang. Juan yang mengetahui itu, langsung pergi ke halaman dan meninggalkan bola pemberian papinya di sana.
Semua memberikaan tepukan yang gemuruh untuk pasangan fenomenal ini. Citra tentu saja ada perasaan sedih di hatinya. Saat ia akan pergi, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Dokter Citra. Terimakasih atas kedatanganmu." ucap Milka tiba-tiba. Semua mata kini tertuju pada Citra.
"Anda di sini untuk memberikan selamat dan restu pada kami bukan? Karena kami akan sering bertemu satu sama lain sekarang. Mari kita biarkan yang lalu berlalu. Dan berharap pada kebahagiaan satu sama lain. Dan rukun. Anda akan melakukannya kan?" kata-kata Milka. Orang yang tidak tahu, pasti akan mengira bahwa ucapannya itu adalah benar adanya dan tulus dari dalam hatinya..
__ADS_1
Citra tidak menjawab. Dia berlalu meninggalkan orang-orang untuk kembali mencari Juan. Dicarinya di setiap ruangan tapi tidak ada.
"Ayahmu pasti menghasilkan banyak uang? Sungguh beruntung kamu. Bukan begitu" tanya Bima.
"Lebih baik kita kembali ke dalam." ajak Nindi.
"Jujurlah. Kau juga ingin tinggal di sini bukan? Jelas. Rumah ini lebih besar dari rumah ibumu. Bahkan ibu tirimu juga cantik." ucap Bima. Juan tersinggung akan ucapan Bima itu.
"Diamlah!" gertak Juan.
"Apa? Apa kau mau memukulku?" ledek Bima.
"Bima! Sudahlah!" kata Nindi memperingatkan Bima.
"Juan! Hentikan!" teriak Citra. Juan melihat kedatangan maminya.
"Juan! Pulang!" perintah Citra. Juan lalu mengambil tasnya. Ia hanya melewati maminya begitu saja.
Citra mendengarkan sayup-sayup suara musik dari dalam rumah. Terdengar lagu The Power Of Love. Mengingatkan Citra saat ia dilamar Hendra. Kepalanya tiba-tiba pusing. Dan dengan segera ia meninggalkan rumah megah itu.
__ADS_1
"Mengapa kamu marah pada mami? Kau yang salah?" tanya Citra marah ke Juan.
"Kenapa mami datang? Mami hanya membuat malu!" ucap Juan kesal.
Pintu mobil terbuka. Keluarlah Edwin dari sana. Raut wajah Juan berubah seketika. Juan tidak suka jika maminya dekat dengan pria lain.
"Apakah mami pergi dengannya?" tanya Juan sedih. Citra diam.
"Masuklah!" perintah Citra ke Juan. juan pun menuruti mami nya. Di dalam mobil mereka diam seribu bahasa. Tanpa satu patah kata pun.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.