Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 45


__ADS_3

Ting.


Pintu sebuah cafe terbuka. Berjalan lah David memasuki cafe itu. Ia celingukan kesana kemari untuk mencari keberadaan Meli. Pada akhirnya ia bertanya pada teman kerja Meli.


"Di mana Meli?" tanya David.


"Aku tidak tahu di mana dia." jawab teman Meli itu.


"Jangan berbohong." bentak David.


"Untuk apa aku berbohong? Aku sungguh tidak tahu. Karena ia sudah berhenti 2 hari yang lalu."


David lalu merogoh sakunya. Ia menelpon seseorang.


"Di mana Meli? Dimana kau menyembunyikannya?" tanya David.


"Kenapa kau tanya padaku? Aku tidak tau di mana dia sekarang." jawab Citra dari dalam mobil.


"Bukankah kalian berdua sekarang?" tanya Citra.


"Tidak. Dia tidak bersamaku." kata David membentak. Semua pengunjung cafe menoleh ke arah dirinya.


"Mengapa kau tak mengirim ku uang itu hah?" tanya David.

__ADS_1


"Aku tak punya uang. Jika kau ingin melaporkan ku, silahkan saja. Aku tidak peduli." jawab Citra.


"Aku akan menghancurkan mu sekarang!!" ancam David.


"Kau punya beberapa catatan kriminal atas penyerangan dan penipuan. Jika kau ingin ada catatan lagi tentang pemerasan, silahkan saja. Lakukan apapun yang kau inginkan." jawab Citra lalu memutuskan sambungan telponnya.


Ia kembali mengemudi untuk berangkat ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, ada kejadian uang aneh. Semua orang sedang memandangnya. Setiap orang yang melihatnya pasti berbisik-bisik entas apa yang mereka bicarakan.


Citra berhenti di meja informasi. Ia bertanya pada suster yang saat ini sedang bekerja.


"Apa ada yang terjadi? Sesuatu terasa aneh pagi ini." tanya Citra. Belum sempat suster itu menjawab, Dina sudah menarik lengan Citra.


"Cepat lihat homepage Rumah Sakit." ucap Dina. Citra kemudian masuk ke dalam ruangannya diikuti Dina yang mengekor di belakang Citra. Citra sudah menghidupkan komputer kerjanya. Ia memakai kacamata untuk membaca tulisan yang ada di komputer itu.


"Aku saja baru tahu tadi pagi. Apa kau tau siapa orangnya yang menulis itu? Pasti orang itu akan membuatmu kesulitan." kata Dina sambil berusaha menerka-nerka.


"Apa kau punya tebakan siapa orangnya?" tanya Dina. Citra masih serius membaca beberapa tulisan itu.


"Mungkinkah itu Pak Erwin?"


"Hei, siapa pria yang datang menemui kemarin? Dia terlihat seperti bukan pasien. Apakah itu dia?" tanya Dina lagi. Citra masih tidak menjawabnya. Karena ia memang tidak tahu. Dan tidak mau menerka-nerka. Citra melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung mancung nya.


"Apa gunanya mencari tahu siapa yang menulis ini. Tidak apa-apa selama ini bukan kau yang menulis." ucap asal Citra. Dina salah tingkah.

__ADS_1


"Kau terlalu sensitif akhir-akhir ini. aku mengatakannya karena aku kahawatir padamu." kata Dina tulus.


"Biarlah. Itu adalah hal normal bagi seorang pasien menulis keluhan. Itu akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Kau harus kembali bekerja." jawab Citra.


"Jika ini dimulai pada malam hari, bisa jadi suamimu juga." kata Ilham pengacara Citra.


"Untuk apa dia melakukan itu?" tanya Citra.


" Jika kau mengalami penurunan reputasi, maka suamimu akan berada di posisi yang menguntungkan." jawab ilham.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


Selamat menunaikan ibadah puasa...

__ADS_1


__ADS_2