Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 67


__ADS_3

Sepeninggal Tio untuk mandi, Dewi lalu akan menutup tirai jendela kamarnya. Namun, ia melihat sosok pria serba berpakaian bitam keluar dari persembunyiannya di samping rumah Citra. Dewi menutup mulutnya tidak percaya.


Citra menyapu serpihan kaca yang masih tersisa di lantai. Disapu hingga bersih. Lalu membuangnya ke tempat sampah.


Bel rumah berbunyi. Citra menghentikan aktivitas menyapunya. Lalu ia menuju pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


"Siapa?" teriak Citra. Ia masih merasa takut setelah kejadian tadi.


"Ini aku, Hendra." jawab tamu itu. Citra otomatis kaget. Buat apa dia malam-malam seperti ini mampir ke rumah Citra.


"Mau apa kau?" tanya Citra lagi.


"Bukalah pintunya dulu." ucap Hendra. Juan turun dari tangga. Citra menoleh ke arah Juan.


"Aku yang menelpon papi." ucap Juan seraya membuka pintu untuk papi nya. Citra bahkan tidak percaya Juan melakukan itu.


Hendra kemudian masuk. Lalu melihat ke arah kaca yang sudah pecah.


"Apakah kau baik-baik saja? Apakah tidak ada yang terluka?" tanya Hendra memastikan keadaan putranya itu. Juan menggeleng.


"Aku baik-baik aja Pap. Tidak ada yang terluka kok." jawab Juan lembut.


Lalu Hendra menuju gudang untuk melihat ada bahan apa yang bisa digunakannya. Ia mengambil selembar triplek dan beberapa perlengkapan lainnya.


Hendra menutup kaca yang pecah itu dengan triplek. Ia mengambil dengan ukuran kecil, karena memang pecahnya tidak terlalu lebar. Citra melirik ke arah Juan yang tersenyum sambil melihat apa yang dilakukan papi nya. Seakan-akan ia bangga dengan apa yang diperbuat papi nya sekarang.


Hendra sudah menyelesaikan apa yang dilakukannya dari tadi.


"Dengan begini, setidaknya akan mencegah udara dingin masuk." kata Hendra dari gudang mengembalikan barang-barang yang tadi digunakannya.

__ADS_1


Juan tersenyum senang. Ia menganggap bahwa papi nya adalah pahlawan nya.


"Mami juga bisa melakukan itu Juan." kata Citra tak mau kalah. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan putranya.


"Tidak perlu merasa sungkan, hubungi aku jika membutuhkan bantuan." tawar Hendra sambil mengancingkan kancing lengan kemejanya yang panjang itu.


"Itu tidak akan terjadi lagi. Kau tidak perlu repot-repot. Kami baik-baik saja tanpamu." ucap Citra bersedekap tangan.


"Jangan begitu. Bagaimana kalau Juan tinggal sementara di rumahku?" tanya Hendra sambil memakau kembali jas nya.


Citra lalu menoleh ke arah Hendra. Ditatapnya pria yang pernah jadi suaminya itu.


"Rumah dengan keamanan yang buruk sangat berbahaya. Tidak tahu kapan dan apa yang akan terjadi selanjutnya." ucap Hendra lagi.


"Ini tidak akan terjadi lagi. Jangan khawatir lagi ya Sayang." ucap Citra membesarkan hati Juan.


"Ya Mam." jawab Juan datar.


Hendra berlalu. Ia mengambil bola milik Juan yang ditinggalkannya waktu itu.


"Ini. Bolamu tertinggal." ucap Hendra tersenyum. Hendra sebenarnya sudah tahu, bahwa bola itu bukan tertinggal. Namun memang ditinggalkan oleh Juan.


"Jangan lupa kunci pintunya ya."ucap Hendra sebelum pulang.


Kemudian Hendra pulang. Juan tersenyum kepada papi nya, lalu ia langsung naik ke kamarnya. Malas jika ia harus berdebat lagi dengan mami nya itu.


Di rumah, Milka sedang bermain dengan Jenny. Mereka bermain boneka bersama di ruang tamu. Jenny sangat lucu sekali. Sehingga membuat Milka sering mencubit lembut pipi putri nya itu. Terdengar suara pintu terbuka. Milka menoleh ke arah pintu. Ternyata Hendra yang pulang.


Hendra berhenti di depan Milka dan Jenny yang sedang bermain.

__ADS_1


"Putri papi belum tidur?" tanya Hendra.


"Belum ia menunggumu. Kenapa lama sekali?" tanya Milka, karena saat tadi ia menelpon suaminya, Hendra bilang kalau ia sudah pulang. Namun sampai lama Milka menunggu, suaminya tak kunjung datang.


"Oh. Aku tadi mampir untuk menemui Juan. Ada masalah di sana. Ya sudah. Aku ganti baju dulu ya." Hendra berpamit untuk membersihkan dirinya sebelum bermain dengan Jenny. Milka menatap ke arah Hendra. Terbersit perasaan tak enak di hati nya itu.


"Hendra, kau sungguh ******** yang baik hati." sindir Dina lewat ponselnya. Hendra tersenyum.


"Aku berbuat seperti itu untuk membalas kebaikan mu tau!" ucap Hendra lalu duduk di sofa yang ada di kamar nya.


"Jangan khawatir. Dokter Fadil orangnya sangat tamak. Tapi, apakah kau benar-benar ingin mengusir Citra?" tanya Dina.


"Apa itu yang kau inginkan? Kau tahu? Kau benar-benar memperlakukan ku seperti seorang ********." goda Hendra sambil tersenyum.


"Kau ini!" canda Dina.


"Aku hanya ingin melakukan hal baik. Itu saja." jawab Hendra lalu membuka sepatunya dan pergi mandi.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2