Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
Worker


__ADS_3

"Yuzu. Bangunlah."


"Ibu? Mengapa ibu di sini?"


"Memangnya ibu harus di mana lagi?"


"Bukankah hari ini ibu bekerja?"


"Tidak. Ibu menelfon atasan ibu tadi. Ibu sudah minta izin untuk cuti dua hari. Segera mandi, ya. Kita akan jalan-jalan hari ini."


Baru saja membuka mata, telah ada hal menyenangkan seperti ini. Meski masih sempoyongan, harus segera pergi mandi. Aku jadi tak sabar, kira-kira ke mana ibu akan membawaku. Sudahlah, jangan menebak lagi. Lebih baik segera bersiap dan pergi.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke mana saja. Asal bersama ibu." Bibirku tersenyum dengan ringannya. Ternyata, ibu mengajakku ke mall untuk berbelanja. Sudah sangat lama memang, kami hampir tak pernah lagi pergi bersama sejak lama.


"Pilih dan ambil apa pun yang kamu inginkan."


"Serius? Tapi apa yang harus Yuzu beli?"


"Beli saja makanan dan baju. Kau membutuhkannya untuk melanjutkan hidup."


"Tapi aku sudah punya uang sendiri, Bu. Ibu tak perlu membelikan hal seperti itu lagi."


"Baiklah. Anak ibu ini sangat hebat, ya. Kalau begitu cari hadiah untuk pernikahan ayah."

__ADS_1


Ibuku ini benar-benar lebih baik dari malaikat sekali pun. Selalu memikirkan orang lain, tanpa mengingat hal buruk apa yang mereka berikan padanya. Bukankah ayah menjadi pria paling beruntung, meski hanya dengan mendapat istri seperti ibu. Atau mungkin bukan jodoh saja.


***


"Iya, tunggu sebentar." Aku berjalan menuju pintu. Ternyata Tante Mira datang seperti janji ayah.


"Tante. Ayo masuk."


Aku segera menuju ke dapur untuk mengambilkan cemilan. "Tante mau minum apa?"


"Air dingin saja."


"Tunggu sebentar, ya. Akan segera Yuzu ambilkan."


"Jadi, Yuzu mau bicara apa hingga memintaku datang?"


"Oh ... tentu saja boleh. Apa Yuzu terganggu dengan rencana pernikahan kami?"


"Tentu tidak. Jika yang akan ayah nikahi adalah wanita selembut Tante. Mana mungkin aku akan terganggu. Sebenarnya aku hanya ingin berterima kasih.Tante menjagaku dengan sangat baik. Tolong jaga ayah juga untukku."


Tante Mira menganggukkan kepalanya dan segera memelukku. Jika semua ibu tiri menjadi tokoh jahat dalam sinetron, maka ibu tiriku adalah tokoh penuh kasih sayang. Sekarang aku bertambah yakin untuk mempercayakan ayah padanya.


"Oh iya. Di mana ibumu?"


"Ibu sedang membeli makanan. Karena ayah bilang Tante akan datang nanti malam, ibu ingin menjamu, baru saja pergi."

__ADS_1


"Jadi aku datang terlalu cepat. Tante jadi gagal menikmati masakan ibumu. Aku dengan kamu sudah bekerja?"


"Iya. Aku bekerja di restoran yang ada di sebrang kota."


"Apa tak masalah bekerja kasar seperti itu? Apa mau aku carikan pekerjaan yang lebih cocok untukmu?"


"Tidak perlu. Aku senang bekerja di sana."


"Baguslah. Aku pulang dulu, ya. Banyak yang perlu disiapkan. Sampaikan salamku untuk ibumu, ya."


"Tentu. Hati-hati, ya, Tante." Aku mengantarnya sampai ke depan pintu. Bukankah dia sangat baik? Tak sabar rasanya, dua minggu mengapa tak dipercepat saja.


Lima belas menit kemudian, kudengar suara mobil yang berhenti. Pasti itu ibu. Sayang sekali, dia pasti kecewa karena tak jadi memasak untuk Tante Mira.


"Sepertinya ibu telat."


"Apa maksudmu?"


"Tante baru saja pulang. Dia menitip salam untuk ibu."


"Hem ... kalau tau datang sekarang. Aku takkan pergi. Ya sudahlah, nanti juga bertemu lagi.


"Ibu. Ibu sepertinya akrab dengannya. Apa ibu tau di mana dia bertemu ayah?"


"Mira dulunya adalah teman ibu. Kami bekerja di kantor yang sama saat ibu baru menikah. Kami juga sempat sangat dekat, bersahabat mungkin."

__ADS_1


Mulutku mengaga mendengar jawaban tersebut.


__ADS_2