Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 53


__ADS_3

"Kamu sudah pulang?" tanya Dewi saat ia mendengar suara pintu dibuka.


"Iya sayang." jawab Tio tersenyum kepada istrinya yang sedang memasak untuk makan malam. Tio melonggarkan dasi yang melekat di lehernya itu, sembari menaruh tas kerjanya di atas meja. Ia mengambil kartu undangan berwarna merah.


"Apa ini?" tanya Tio. Dewi tidak menjawab. Biar suaminya sendiri yang membaca isi undangan tersebut. Tio membuka undangan itu. Dibaca. Ternyata itu undangan untuk acara open house di rumah Hendra. Ya bisa saja disebut merayakan atas pindahnya mereka ke rumah baru ini.


"Kalau aku sih gak akan datang. Bagaimana denganmu?" ucap Dewi sambil mengiris daun bawang.


"Tentu saja aku tidak akan pergi." ucap Tio. Entah apa yang dipikirkan Tio saat ini, wajahnya berubah muram.


"Aku akan mandi." ucap Tio ke istrinya. Dewi menanggapinya dengan tersenyum.


"Juan, kenapa kau tidak menjawab telpon mami tadi?" ucap Citra di ponselnya yang menempel di telinga dan ia himpit dengan pundaknya, karena tangannya sibuk memilih beberapa surat yang ia pegang saat ini.


"Aku lupa mam, karena aku mematikan ponselku tadi." kilah Juan.


"Hhhmmm. Mami tau kalau kamu sedang bermain game tadi." ucap Citra menggoda putranya.


"Ayolah Mam... Aku sudah menyelesaikan ujian ku tadi." ucap Juan memelas di ujung sana. Citra hanya tersenyum.


"Tebak coba, Mami ke mana hari ini?"


"Kemana Mam?"


"Mami ke kompleks perumahan baru tadi untuk melihat-lihat." kata Citra sambil melihat katalog beberapa tipe rumah.

__ADS_1


"Memangnya kita mau pindah Mam?"


"Nggak sih, mami cuma melihat-lihat saja karena katanya di sana bagus banget." ujar Citra. Citra melanjutkan memilih surat-surat tadi.


"Aku gak mau pindah Mam. Aku suka dengan rumah kita itu." ucap Juan yang sanggup membuat Citra tersenyum. Namun senyumnya berhenti saat ia menemukan amplop berwarna merah.


Citra membuka amplop itu. Ternyata sebuah undangan untuk menghadiri perayaan rumah Hendra, dan undangan tersebut ditujukan untuk Juan.


"Halo Mam...."


Hening.


"Mam... Kau baik-baik saja?"


Hening.


Di kompleks perumahan elite kota ini, tibalah sebuah mobil mewah berwarna hitam menuju rumah megah nan mewah itu. Keluarlah sosok yang mengemudi dari dalam. Hendra.


Citra tak menyangka, jika kompleks perumahan yang ia bicarakan dengan putranya adalah milik Hendra.


Citra membaca undangan itu.


"Anda diundang ke pesta di rumah Jenny"


Terdapat foto pernikahan Hendra dan Milka serta gadis kecil berada di tengah-tengah kedua orang tuanya sambil tersenyum. Citra mengingat-ingat kembali. Pose foto, gaun yang Milka kenakan, jas yamg Hendra gunakan, serta background dari foto itu mirip dengan foto keluarga nya terdahulu. Di mana masih ada Citra, Juan, dan Hendra. Seketika, Citra merasakan sesak di dadanya.

__ADS_1


Citra mengingat saat ia siang tadi mampir di kompleks perumahan itu.


"Rumah termahal di kompleks ini sudah terjual minggu lalu. Saya tidak tahu siapa pembelinya." kata bagian pemasaran ke Citra yang sedang melihat-lihat desain dan furnitur rumah ini.


"Tapi mereka sudah mengirim furnitur impor akhir-akhir ini." lanjutnya. Citra hanya tersenyum mendengar penuturannya.


"Lokasi dan sekitarnya sudah sangat bagus. Dan segala sesuatu dibuat dari bahan-bahan yang bagus. Tidak banyak rumah yang tersisa. Bagaimana Dokter Citra? Apa kau minat?"


"Beri aku waktu untuk memikirkannya." ucap Citra.


Jadi, tadi Citra mampir untuk melihat-lihat kompleks perumahan milik keluarga Pak Yahya? Bagaiman bisa ia tidak mengetahui hal tersebut?


"


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2