Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 44


__ADS_3

Hendra terdiam untuk sesaat.


"Kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Milka.


"Aku belum mendapat investor lain." jawab Hendra.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu kan, jika papa mu sekarang sangat marah padaku. Maka ia pasti akan menarik investasinya. Dan aku belum mendapatkan investor lain." jawab Hendra sedih sambil mengelus rambut Milka.


"Bersabarlah." ucap Milka sambil tersenyum.


"Terimakasih sayang." balas Hendra lalu mengecup ujung kepala Milka. Milka pun tersenyum lalu meletakkan kepalanya pada dada Hendra.


Hendra memakai kaos sambil menuruni tangga dari kamar Milka. Sedari tadi bel apartemen Milka berbunyi. Hendra membuka pintunya. Ternyata seorang kurir yang sedang mengantar barang.


"Apa benar ini dengan Pak Hendra?" tanya kurir itu.


"Iya, Dengan saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Hendra.


"Ini ada kiriman barang untuk Anda. Tolong tandatangani ini." kata kurir itu sambil menyodorkan secarik kertas sebuah bukti tanda penerimaan barang. Hendra pun menandatangani nya. Lalu kurir itu menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat dan juga sebuah koper besar. Lalu kurir tersebut pamit mengundurkan diri.

__ADS_1


Hendra membuka amplop berwarna cokelat itu. Dibukanya, dan diambil. Dibaca perlahan. Ternyata sebuah surat gugatan cerai dari Citra. Hendra terkejut, mengapa bisa secepat ini Citra melayangkan surat gugatan cerai. Tanpa sepengetahuan Hendra, Citra memang sudah menyiapkan perceraiannya jauh-jauh hari dengan sangat matang.


"Apa yang kau inginkan hah? Ini sangat konyol." kata Hendra berbicara lewat ponselnya.


"Cepat tandatangani itu. Dan jangan membuang waktuku." jawab Citra tenang.


"Apa kau kira aku ini bodoh sehingga mau menyerahkan segala uang ku dan juga anak ku?" tanya Hendra sudah emosi.


Citra duduk di sofa rumahnya. Kini ia hanya tersenyum tipis.


"Kau hidup dari uang yang aku hasilkan hingga sekarang. Tidak ada yang kau miliki." kata Citra.


"Apa katamu? Apa kau lupa, siapa yang merawat Juan saat kau sedang pelatihan kerja dulu? Apa kau juga lupa, bahwa akulah yang membantumu mendapatkan lisensi untuk mu." ungkit Hendra. Citra tertawa renyah. Dia merasa kalau Hendra sedang hitung-hitungan dengannya. Dan itu sangat lucu bagi Citra.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Hendra. Milka yang mendengarkan itu dibuat sedikit jengkel mendengar obrolan Hendra dengan istrinya.


"Apa kau ingat? Kau mendirikan usahamu mu menggunakan semua uang milikku. Maka pasti kau memiliki dana tertentu. Aku akan melaporkan mu atas penggelapan uang." jelas Citra.


"Apa yang bisa membuktikan itu?" tanya Hendra mulai panik.


"Kau jangan khawatir soal itu. Karyawan yang tidak mendapat gaji dari mu bersedia untuk membantuku." jawab Citra tenang. Lalu ia memutuskan sambungan telpon. Hendra terkejut atas penuturan Citra. Dirobeknya amplop cokelat itu. Ditendang koper yang ada di hadapannya. Lalu ia membuang kasar sobekan amplop cokelat tadi.

__ADS_1


Saat Hendra akan masuk kembali ke dalam, langkahnya terhenti karena melihat Milka berdiri di sana. Milka tahu, bahwa itu adalah surat gugatan cerai.


"Darimana dia tahu alamat apartemen ku?" tanya Milka heran. Hendra menyadari akan hal itu. Dia pun juga berpikir.


"Apa kau yang memberi tahu nya?" tanya Milka.


"Tentu saja tidak." jawab Hendra sebal.


"Sejak kapan ia.... Seberapa banyak yang ia tahu tentang hubungan kita ini?" tanya Milka heran dan menerka-nerka sendiri. Hendra pun juga berpikir.


"Dia sungguh membuatku merinding." ucap Milka sebal lalu meninggalkan Hendra yang masih terdiam di depan pintu. Hendra pun tak menyangka jika Citra sudah tahu banyak tentang hubungannya dengan Milka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...


Selamat menjalankan ibadah puasa..


__ADS_2