
"Apa? Kau tidur dengan Tio?" tanya Hendra tak percaya.
Citra menghampiri Hendra. Sambil menggigit ujung jarinya, Citra mengatakan iya, bahwa ia telah tidur dengan sahabat suaminya.
"Kenapa? Apa kau mau balas dendam?" bentak Hendra.
"Iya." jawab Citra tenang.
"Awalnya, aku melakukan itu hanya untuk balas dendam padamu. Namun....." kata-kata Citra menggantung. Ia masih menggigit ujung kukunya.
"Namun, rasanya nikmat saat melakukannya. Saat aku melakukannya denganmu, itu tidak terasa sama sekali." jawab Citra halus sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana, kau bisa melakukan ini padaku? Tio adalah sahabatku. Bagaimana kau bisa tidur dengan pria lain?" tanya Hendra dengan suara seraknya. Citra tertawa kecil.
"Apa kamu marah? Apa itu membuatmu jijik padaku? Apa pengkhianatan membuatmu sakit hati?" kata Citra sambil menangis. Lalu ia mendekati Hendra. Dicengkeram leher kemejanya.
"Apapun yang kau rasakan saat ini, jangan pernah kau melupakannya. Karena itu yang aku rasakan. Bahkan lebih dari itu." jelas Citra sambil berurai air mata.
Hendra hanya diam tidak berkutik. Lalu Citra meninggalkan Hendra, dan ia pulang ke rumahnya.
Tampak Hendra duduk di pinggiran jalan halaman rumah Pak Yahya. Ia menghisap rokoknya. Ia tampak frustasi. Datanglah Milka menghampiri Hendra yang sedang duduk sendirian.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf padamu." ucap Hendra.
__ADS_1
"Apa kau mengencaniku hanya karena uang ayahku?" tanya Milka menatap Hendra untuk memastikan sebuah jawaban.
"Jika kau percaya pada wanita gila itu, maka apa yang aku ucapkan selama ini tidak ada gunanya." jawab Hendra. Milka terdiam.
"Ayahmu melakukan investasi dalam pekerjaanku, karena dia melihat potensi di dalamnya. Apa kau mengerti?" lanjutnya.
"Matikan rokoknya. Matikan. Itu tidak bagus untuk bayi kita." ucap Milka. Hendra menoleh ke arah Milka, lalu mematikan rokoknya. Lalu ia berdiri dan menghampiri Milka.
"Aku akan meninggalkan segalanya. Papaku. Mamaku. Dan semua yang aku dapatkan dari papaku. Itu semua demi kamu. Sekarang, pilihan ada di tanganmu." ucap Milka menatap tulus ke arah Hendra. Hendra terkejut dengan apa yang diucapkan Milka. Lalu Hendra memeluk Milka.
"Terimakasih sayang." ucap Hendra sambil mencium pucuk kepala Milka. Milka pun membalas memeluk Hendra.
*****
"Aku sudah tahu. Kau berselingkuh. oh tidak.. Itu tidak dapat dikatakan selingkuh. Itu hanya cinta satu malam. Haruskah itu disebut kelainan seksual atau apa?" sindir Dewi ke suaminya.
"Kenapa kau bertindak seperti ini jika kau sudah tahu segalanya?" tanya Tio.
"Ini karena Citra. Apa kau sudah tidur dengannya?" Dewi ingin memastikan.
"Aku hanya menikmati fisiknya. Aku tidak ada perasaan untuknya. Dengan begitu, Citra sama saja dengan perempuan lain. Jangan bilang, kau mengira aku menyukainya?" kata Tio memberi sejuta alasan.
"Apa kau merasa bangga karena tidak memiliki perasaan kepadanya? Apa kau.... sangat membenciku?" tanya Dewi lirih.
__ADS_1
"Bukannya aku membencimu. Lebih tepatnya aku membenci kebosanan. " kilah Tio.
"Lantas, apa yang aku lakukan saat aku bosan? Apa aku harus sama sepertimu? Bukannya seharusnya pasangan harus saling mengisi kekurangan satu sama lain dan menemukan kebahagiaan?" kata Dewi meneteskan air mata.
"Maaf aku tidak bisa melakukan itu." ucap Tio.
"Oh. Baiklah. Maka, menurutku tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan lagi." kata Dewi beranjak meninggalkan kamar hotel.
"Baiklah. Aku masalahnya. Aku akui, aku tidak normal. Maaf." uca Tio mencegah Dewi.
"Apa kau hanya merasa kasihan padaku?" tanya Dewi. Tidak ada jawaban apapun dari Tio.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa...