
Tampak Hendra keluar dari rumah duka mengantar kepergian Pak Yahya beserta istri. Citra akan menghampiri Hendra. Namun langkahnya terhenti saat dia mengetahui suaminya itu menerima telepon dari seseorang. Setelah Hendra menerima telepon itu, lalu dia berlari menuju tempat parkir.
Citra yang mengetahui itu, lantas mengikuti ke arah mana suaminya itu pergi. Dengan perlahan, Citra menyusuri jalanan sepi menuju tempat parkir. Walaupun dia adalah seorang Direktur Muda di Rumah Sakit ini, namun dia ada rasa cemas jika harus menghadapi jalanan yang sepi tanpa seorang pun di sana.
Sementara di dalam rumah duka, Juan bingung mencari kedua orang tuanya yang tidak ada di tempat. Dia mencari ke sana ke mari, namun tak ia datpati orang tuanya itu.
"Kau mencari siapa Juan?" tanya Tio tiba-tiba menghampiri Juan. Karena dilihatnya dari tadi Juan celingukan mencari seseorang.
" Ini om, aku mencari mami papi. Mereka berdua tidak ada di dalam. Padahal tamu mau pamitan pulang. Dan mereka mencari mami papi. Om bisa bantu aku nggak nyariin mami sama papi ku? kata Juan.
" Bantulah Juan mas, carilah Citra dan Hendra. Biar aku yang menemani Juan di sini." kata Dewi ke suaminya.
Tio menyetujui usul istrinya itu. Sekarang Dewi dan Juan yang newakili Hendra untuk menemui para pelayat yang datang ataupun yang akan berpamitan pulang.
Citra masih menyusuri jalanan gelap menuju area parkir. Tak didapati apa-apa di sana. Citra lalu berhenti.
"Hhhh.... Apa yang sudah aku fikirkan." katanya sambil mengusap rambutnya. Lalu dia akan berbalik arah. Namun seketika dia berhenti karena sayup-sayup terdengar lagu favoritnya dari Celine Dion, The Power Of Love.
Lagu itu mengingatkan dirinya pada Hendra saat Hendra melamarnya di Rumah Sakit ini.
__ADS_1
Tio berlari mencari keberadaan Citra dan Hendra. Dia menelpon ponsel Hendra namun tak diangkatnya. Tio terus mencari di mana sebenarnya Citra dan Hendra berada.
Citra terus mengikuti sayup-sayup lagu itu. Pada akhirnya, dia mendapati sebuah mobil putih dengan plat nomer yangat dia tahu. Ya mobilnya Milka. Citra lantas menghampiri mobil itu perlahan. Langkahnya terhenti saat dia melihat dua insan sedang berciuman di dalam mobil sana. Citra membungkam bibirnya sendiri saat dia menyaksikan suaminya mincium bibir orang lain. Air mata langsung keluar dari kedua matanya. Nafasnya tak baraturan saat ini karena sesak yang begitu hebat di dadanya. Citra tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan.
Sementara di dalam mobil, Hendra masih meluapkan kesedihannya dengan mencumbu kekasihnya itu. Mereka saling mencumbu di dalam mobil sana, tanpa peduli ada hati yang terluka karena menyaksikan mereka.
"Cit...." kata Tio terputus saat tahu, kalau Citra sedang menyaksikan apa yang dilakukan suaminya di dalam mobil sana. Tio tidak berani menegur Citra, dan memilih kembali ke rumah duka untuk menemani Juan dan Dewi.
Setelah menyaksikan kejadian itu, lalu Citra meninggalkan tempat itu menuju rumah duka. Dengan perasaan hati yang luka, Citra menyusuri jalanan sepi itu sendirian sambil menangis.
Pagi harinya, setelah pemakaman ibu Mina Citra, Hendra, dan Juan lalu pulang ke rumah. Di dapur Citra sedang membuat kopi untuk Hendra dan juga dirinya. Tiba-tiba dari belakang Hendra memelik istrinya itu sambil mncium rambut Citra. Sontak hal itu membuat Citra kaget.
"Istriku. Terimakasih atas semuanya. Aku sangat mencintaimu." kata Hendra. Citra tak tahan dengan perlakuan Hendra yang seolah-olah tidak terjadi apapun semalam. Citra melepaskan pelukan Hendra. Dia menatap Hendra dengan tatapan tajam. Kemudian Citra teringat kembali akan saran dari pengacaranya, bahwa dia harus sabar dan jangan sampai suaminya tahu akan rencananya.
"Tunggulah mas. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu." batin Citra.
Ting tong..... Ting tong...
Terdengar bunyi bel di apartemen Milka. Milka kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Maaf, dengan siapa ya mbak?" tanya Milka. Perempuan berambut pendek itu lalu menoleh ke Milka sambil tersenyum.
"Hai.. Aku penghuni baru di apartemen ini. Aku Meli." kata Meli tersenyum dan menjabat tangan Milka sambil memberikan buah tangan. Milka tersenyum cantik. Dan memperhatikan Meli yang tengah kerepotan dengan buku yang ada di tangan kiri nya.
"Apa kau juga sedang hamil? Berapa bulan? tanya Milka antusias.
"Iya. Aku sedang hamil. Baru 3 bulan." jawab Meli tenang.
"Kalau begitu, silahkan masuk ke apartemenku. Sepertinya, aku membutuhkan teman ngobrol saat ini." tawar Milka ke Meli. Meli mengangguk dan masuk ke apartemen Milka.
Di dalam, mereka berbincang sambil tertawa dan minum teh bersama. Entah apa yang mereka perbincangan hingga terlihat sangat nyaman.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya... Selamat menjalankan ibadah puasa....