
Hah? Seriuskah yang kudengarkan itu?
Jadi dulunya ibu dan tante berteman dekat bahkan menjadi sahabat. Lalu bagaimana mungkin tante bisa menikah dengan ayah? Apalagi hubungannya dengan ibu masih baik-baik saja hingga sampai detik ini.
Aku tercengang dengan ucapan ibu barusan. Jadi maksutnya dulu mereka berteman. Lalu bagaimana bisa jadi begini, sih. Apa pun itu, kenyataannya hubungan mereka masih terus berlanjut. Aku juga tak ingin mempermasalahkan ini.
***
Kembali ke rutinitas. Tiga hari terlalui dengan sangat cepat. Meski ingin lebih lama tinggal. Namun, melanjutkan pekerjaan adalah hal penting.
"Heh. Anak baru. Bersihkan meja yang kotor. Cepat sana!"
"Aduh, Mba Yan. Yuzu itu sudah sebulan di sini. Jadi, bukan anak baru lagi. Lagian ... membersihkan meja bukan tugasnya."
Azra datang membantuku. Jika tidak, pasti aku akan berakhir melakukan pekerjaan pelayan lain.
"Sama ajalah. Namanya pelayan, ya bersih-bersih!"
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa bukan mba aja yang ngelap mejanya. Kalau dilanar. Kita semua, kan pelayan di restoran ini."
"Azra. Mentang-mentang bos kasih kamu kepercayaan. Kamu jadi seenaknya sendiri. Bukannya memang dari dulu pegawai paling baru harus kerja paling banyak."
"Itu sih peraturan mba sendiri. Kita, kan udah digaji. Ya udah, kerja yang bener. Lagian, udah lama aku diam. Dan kali ini aku gak mau siapa pun seenaknya sama pegawai baru."
Wow. Aku terpukau dengan semua ini. Yang dilakukan Azra sangat berisiko, tapi yang dilakukan Mbak Yana bukanlah hal yang benar. Inilah kesalahan yang sudah melekat sejak lama. Hingga berubah menjadi mindset.
Berpikir bahwa para senior lebih berkuasa, sehingga bebas memperlakukan juniornya. Aku benci pemikiran seperti demikian. Ada bagusnya orang ini kena teguran, setidaknya pola pikirnya akan terbuka. Namun, aku juga kasihan melihat Mba Yana terpojok di depan pegawai lain.
"Makasih, Azra, tapi kamu gak perlu kok sampai segitunya."
Biar yang lain juga belajar ngehargai pekerjaannya."
Ucapan Azra sangat benar. Seharusnya aku tak perlu takut-takut agar orang lain juga tidak menjadi sasaran. Orang seperti Mba Yana, pasti akan ditemui di banyak tempat. Namun bukan berarti harus diam, kan.
***
__ADS_1
Hari pernikahan. Meski bukan aku pegantinnya, tetapi aku sangat gugup. 'Tenanglah, Yuzu. Semua akan berjalan dengan baik,' ucapku memberi semangat pada diri sendiri.
"Lihatlah. Bukannya pengantin tadi cantik sekali?"
"Iya. Dia mirip bidadari. Wajahnya cantik, tubuhnya juga langsing. Pakaian yang dipakainya hanya hiasan. Dia sendiri luar biasa cantik!"
Hah ... Senang rasanya mendengar para pelayan memuji mempelai ayah. Ayah memintaku menemani Tante Mira. Sementara, ayah akan datang sebentar lagi.
Namun, perasaanku kacau sekali. Padahal bos dengan jelas memberi izin untuk cuti. Dan ibu juga baik-baik saja. Jadi, apa yang dirisaukan hatiku?
"Em. Nona?" panggil seorang pembantu yang telah berkerja pada ayah sejak aku masih kecil.
"Ya? Ada apa, Bi?"
"Bukankah tuan agak terlambat?"
"Benar. Ayah bilang ada pekerjaan kecil di kantor, tapi dia akan langsung datang. Tante Mira juga terlihat cemas karena menunggu. Percaya sajalah. Ayah pasti datang, kok."
__ADS_1
"Iya, Nona. Bibi tanya cuma karena khawatir. Tuan itu sangat disiplin. Jadi, saat terlambat begini, saya jadi khawatir."
Mendengar perkataan Bibi, aku ikut khawatir.