
Hendra mengejar Citra. Ia membuka ruangan Citra, namun tidak ada Citra di sana. Lantas ia kemudian lari menuju parkir mobil. Hendra melihat Citra sedang mengemudi mobilnya. Hendra pun mengejar Citra menggunakan mobilnya.
Tak ayal, terjadilah kejar mengejar mobil di jalanan. Citra mimginjak pedal gas kuat-kuat. Mengebut. Menyalip semua mobil yang menghalangi jalannya.
Hendra juga sama demikian. Ia juga mengejar ke mana arah Citra membawa mobilnya. Sampai pada akhirnya, Hendra melihat mobil Citra yang berhenti karena adanya lampu merah yang menyala di rambu lalu lintas. Hendra menepikan mobilnya tepat di samping kanan mobil Citra.
Dari kaca jendela, Citra mengamati gerak-gerik Hendra. Hendra memanggil-manggil nama Citra, namun Citra tidak menggubrisnya. Hendra lalu akan membuka pintu mobilnya, tapi Citra langsung menabrakkan mobilnya ke arah pintu mobil Hendra. Hendra dibuat shok akan insiden itu.
Melihat lampu rambu lalu lintas yang berubah menjadi hijau, Citra lantas menginjak pedal gas nya. Ia menuju ke sekolah Juan. Dengan setengah berlari, ia menuju ruang kelas Juan untuk menjemput anaknya itu.
Semua mata dari teman Juan mengarah ke Citra. Citra mengatur nafasnya pelan-pelan, lalu ia meminta izin kepada guru Juan yang sedang mengajar untuk menjemput putranya dengan alasan ada urusan yang sangat mendesak. Guru tersebut memberi izin kepada Citra. Lagipula, yang meminta izin adalah ibu dari siswanya. Mungkin memang ada hal yang mendesak, pikir gurunya.
Hendra tiba di sekolah Juan. Ia mencari keberadaan Juan.
"Apakah Juan ada di sini Bu?" tanya Hendra kepada guru Juan.
"Baru saja, Bu Citra menjemput Juan. Apa ada masalah Pak"
"Oh tidak. Terimakasih Bu. Saya permisi dulu." ucap Hendra lalu pergi lagi mencari Juan.
Di luar, Hendra mengambil ponselnya. Ia menelpon Juan. Tapi Juan tidak menjawabnya. Lantas Hendra mulai mengaktifkan fitur find my child lewat ponselnya. Terpampang notifikasi ponsel Juan sedang bergerak menuju suatu tempat.
Hendra lalu mengemudikan mobilnya menuju tempat di mana 'Juan' sedang bergerak.
"Kembalikan ponselmu pada Mami." suruh Citra ke Juan.
"Gak mau Mam, aku akan menghubungi papi." ucap Juan takut.
Citra lantas merebut ponsel Juan.
"Berikan pada mami. Nanti akan mami belikan yang baru untukmu." kata Citra masih merebut ponsel Juan sambil menyetir. Terjadilah perebutan ponsel diantara mereka di dalam mobil. Sehingga membuat mobil Citra oleng ke kanan lalu ke kiri.
__ADS_1
Notifikasi keberadaan ponsel Juan sudah hilang dari fitur di ponsel Hendra. Kini Hendra semakin panik tentang keadaan Juan.
Citra berhasil mendapatkan ponsel Juan, lalu melemparnya ke luar. Hancurlah ponsel Juan. Tak sampai disitu. Juan lalu mengambil ponsel maminya. Dan menghubungi Hendra. Ponsel Hendra berdering, ia lalu menjawabnya, karena ia tahu pasti itu Juan yang menghubunginya.
"Halo papi.." kata Juan terpotong karena Citra merebutnya. Tarjadilah perenbutan ponsel yang kedua kalinya diantara mereka berdua. Sampai pada akhirnya mobil Citra hampir menabrak seseorang. Citra lalu mengerem dengan mendadak mobilnya.
"Matikan ponsel mami." perintah Citra. Lalu Juan menuruti maminya itu. Lalu Citra melanjutkan perjalanannya ke suatu pantai.
Mereka sudah sampai di sebuah pantai yang sangat indah. Citra menyuruh Juan untuk keluar dari mobil. Citra membukakan pintu untuk Juan, lalu Juan keluar.
Citra meraih kedua tangan anaknya dengan tulus.
"Maafkan mami. Mami sedang marah sekarang." ucap Citra sedih. Citra lalu memeluk Juan.
"Maafkan mami karena sudah membentakmu dan membuang ponselmu tadi." ucap Citra meneteskan air mata.
"Kau sudah tahu bukan, kenapa mami membawamu ke tempat ini?" tanya Citra.
"Kenapa? Dia sudah menkhianati kita. Kamu tahu semuanya bukan?" tanya Citra sedikit marah.
"Papi mengkhianati mami, bukan aku Mam." Juan memelas.
"Kau tahu? Wanita itu hamil. Papi tidak membutuhkan kita lagi Juan" kata Citra. Juan lalu terdiam.
"Lalu, apa papi bilang kalau dia akan tinggal bersamanya? Apa papi lebih menyayangi bayi itu daripada aku?" tanya Juan menangis. Citra memeluk Juan.
"Kita bisa hidup bahagia berdua, Nak. Itu tidak akan menjadi masalah meskipun itu tanpa Papi , Nak" ucap Citra menangis.
"Tidak! Aku tidak mau jika hanya tinggal berdua."kata Juan marah.
"Kamu tidak mau?" tanya Citra sedih mendengar ucapan Juan.
__ADS_1
"Aku mohon Mam. Jangan bercerai. Maafkan papi kali ini Mam." kata Juan menangis dan memohon kepada maminya.
"Mami tidak bisa. Karena papi sudah memilih untuk tinggal bersama wanita itu." Citra semakin menangis.
"Bagaimana kita bisa hidup tanpa papi? Mami lebih sibuk dengan pekerjaan daripada aku. Sedangkan papi ada buat aku."ucap Juan sedih.
"Kamu tidak tahu, kenapa mami seperti itu? Mami bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Kebutuhanmu Juan." ucap Citra.
"Kamu hal yang paling berharga buat mami. Kau tahu itu." kata Citra menangkup kedua pipi Juan.
"Aku akan menemui papi." ucap Juan mau berlari. Citra lalu menarik lengan Juan.
"Jika kau menemui papimu, maka mami akan mati." ucap Citra tegas.
"Kamu tidak peduli jika mami mati? Katakan!! Katakan kau akan tinggal bersama mami." ucap Citra mendorong Juan di tepian pantai.
"Mami....." teriak Juan.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...
Selamat menjalankan ibadah puasa..
__ADS_1