
" Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" tanya Milka ketus.
" Jawablah. Itu hanya pertanyaan dasar saja"
" Aku hanya bersama 1 orang saja saat ini. Tidak dengan yang lain." jawab Milka tenang. Raut wajah Citra sudah berubah menjadi tegang.
" Kami bertemu 2 atau 3 kali dalam seminggu. Dan aku hanya melakukan itu dengannya." jelas Milka membuat wajah Citra seakan terbakar namun dia tetap tenang menyikapi ini semua.
"Dan dia sebenarnya sudah menikah." lanjut Milka.
"Apa istrinya tahu?" tanya Citra menatap tajam ke arah Milka.
Milka menggeleng.
"Istrinya tidak tahu." jawabnya kalem.
"Lalu kenapa kau mau mengencani pria yang sudah menikah?" tanya Citra tetap menatap tajam Milka.
"Kami saling mencintai. Dia bilang, dia tidak bahagia dengan pernikahannya saat ini. Dia hanya menganggap topeng pernikahannya." jawab Milka menatap Citra.
Citra tersenyum sinis.
"Mengapa mereka tidak bercerai saja?" tanya Citra lagi.
"Itu sangat sulit. Karena mereka mempunyai seorang putra. Dan juga mungkin masalah keuangan juga. Itulah mengapa menikah membuat sakit kepala" beber Milka sambil tersenyum sinis.
Tidak tahu apalagi yang Citra rasakan saat ini. Kekasih suaminya ada di depan matanya, dan mereka membicarakan 1 orang yang sama. Hendra.
Citra kemudian berdiri. Mengambil meja dorong yang sudah terdapat peralatan lengkap medis di sana. Dia mengambil suntik. Lalu menyingkap lengan baju Milka sebatas siku. Citra menyuntikkan jarum suntik di nadi Milka, dan mengambil beberapa tetes darah.
"Kenapa kau yang melakukan ini sendiri? Bukankah biasanya suster mu yang melakukan ini?"tanya Milka meringis kesakitan tatkala jarum menembus kulit nya yang putih mulus.
" Terkadang aku melakukannya sendiri." jawab Citra sambil memasukkan sampel darah Milka ke tub mini dan mengambil name tag yang baru keluar dari print.
__ADS_1
"Ini akan menunggu waktu 2 jam untuk mengetahui hasilnya." jelas Citra.
"Apa aku sudah selesai? kalau sudah aku permisi." kata Milka beranjak dari duduknya. Dengan cepat Citra menyodorkan gelas urin ke Milka.
" Ini. Ambillah. Aku membutuhkan urin mu." kata Citra. Milka semakin jengkel dengan Citra. Diambillah gelas urin itu dengan kasar. Lalu dia ke kamar mandi.
Setelah perginya Milka, Citra membuang nafasnya yang ditahannya sedari tadi. Dia menutup wajahnya. Dia teringat kembali akan paras cantik Milka. Begitu cantik. Bibir yang seksi. Lalu dia bercermin dan menyentuh wajahnya. Sebenarnya masih cantik. Hanya saja faktor usia yang tak bisa dipungkirinya lagi.
Di dalam kamar mandi, Milka gugup. Dia mengingat wajah Citra yang sangat tenang menghadapinya. Milka sangat jengkel jika mengingat itu.
5 menit setelah dari kamar mandi, Milka menyerahkan gelas urinnya ke Citra. Citra mengambil urin menggunakan pipet, dan meletakkannya di alat tes kehamilan. Hanya menunggu beberapa menit, garis 2 merah muncul di alat tes kehamilan itu. Citra menganga tak percaya. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu hamil." kata Citra datar. Sama dengan reaksi Citra tadi, Milka menganga tak percaya.
"Apa benar itu?" tanya Milka.
"Iya itu benar. Kau pasti tahu ayahnya siapa." sindir Citra.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Milka lirih namun masih tetap bisa terdengar oleh Citra.
Milka sangat jengkel dengan perlakukan Citra kepadanya. Dia keluar dari ruangan Citra tanpa mengucapkan 1 patah katapun.
Setelah Milka keluar dari ruangannya, Citra terduduk lemas di kursinya. Ditutupnya suruh wajahnya dengan telapak tangannya. Hatinya begitu hancur menghadapi kenyataan kalau selingkuhan suaminya hamil.
Sesaat sebelum Citra pulang, Dina tiba-tiba menghampiri Citra.
"Apa yang harus ku lakukan? Milka tadi mendatangiku, dan ia ingin aku meng aborsi kehamilannya." kata Dina bingung.
"Jangan lakukan apapun."saran Citra.
"Tapi mengapa, dia tidak ingin Hendra mengetahui kehamilannya?" Dina mencoba memikirkan hal itu.
"Lalu apa? Dia masih muda. 23 tahun. Mana ada yang mau memiliki anak dengan pria berkeluarga?" jawab Citra sekena nya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Cit, dia itu hamil loh. Hamil sama suami kamu. Kan bagus kalau dia mau aborsi. Setidaknya hubungan mereka akan berakhir." jawab Dina tegas.
"Tapi itu melanggar aturan rumah sakit. Dan jika ketahuan maka lisensi mu akan dicabut." kata Citra tenang.
"Aku gak peduli tentang itu. Yang ku pedulikan pernikahanmu. Aku gak mau kau bercarai." kata Dina marah-marah.
"Biarkan saja dia hamil." kata Citra.
"Kau ini ya..." kata Dina geram melihat sikap tenang Citra.
Citra menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia menangis sejadinya di dalam mobil. Diambillah ponselnya. Lalu dia menelpon Juan.
"Hai sayang, gimana pertandingannya?" tanya Citra menahan tangis.
"Seru sekali Mam. Kau tahu? Tadi sebenarnya skor sudah seri. Tapi aku berhasil membuat gol di akhir pertandingan." jawab Juan semangat.
"Selamat ya. Lalu mana papi mu?" tanya Citra kemudian.
Juan mengedarkan pandangannya untuk mencari papinya. Didapatinya, papinya itu sedang berbincang dengan Pak Yahya yang baru saja keluar dari mobil.
"Ada kok Mam." jawab Juan lesu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...