
Hari ini adalah dimulainya acara bazar. Citra datang untuk menggantikan Dina yang saat ini sedang menjaga stand kesehatan, pengobatan, dan konsultasi gratis.
"Selamat pagi... Selamat pagi..." sapa Citra ke beberapa orang yang lewat dan berpapasan dengan dirinya. Citra setengah berlari menghampiri Dina. Ia mengenakan jas putih miliknya.
"Aku tidak terlambat kan Din?" tanya Citra menghampiri Dina. Dina berdiri dari tempat duduknya.
"Oh nggak kok. Lagian aku juga belum capek." jawab Dina beranjak dari tempat duduknya.
"Istirahatlah. Dan makanlah siang." ujar Citra.
"Ok. Terimakasih." Dina lalu meninggalkan stand mereka.
Citra melihat golongan asosiasi wanita kota ini di stand seberang sana. Ya bisa dikatakan mereka itu golongan para sosialita nya kota ini. Mereka juga ikut andil dalam acara bazar ini. Mereka menjaga bahan makanan alami atau organik. Ada buah-buahan dan juga sayuran.
Di sana ada Dewi, Bu Yahya, dan tampak hadir juga Bu Wahyu. Bu Wahyu adalah pasien Dokter Citra yang merupakan istri dari Pak Wijaya, penyandang dana dan investor besar untuk Rumah Sakit di mana Citra bekerja.
"Silahkan duduk, Bu." ucap Citra saat ada pasien yang sudah tua datang untuk konsultasi kesehatan.
Sementara, Juan baru saja pulang sendirian. Ia berjalan menuju halte bus.
"Hai Juan! Apakah kau sudah melihat film yang lagi booming saat ini?" tanya Bima, teman sekelas Juan.
"Belum. Kenapa memangnya?" tanya Juan yang memang belum menontonnya.
__ADS_1
"Kau ini bagaimana sih.. Film itu kan ayahmu yang membuat. Sangat bagus loh." kata Bima lagi.
"Seriusan itu ayah Juan?" Reza menimpali.
"Iya serius. Ayah Juan yang mem produserinya." jelas Bima.
"Wahh. Keren.. Hei Juan! Bisakah kamu mendapatkan tiket gratis untuk kita dari ayahmu?" goda Reza. Juan hanya diam masih terus berjalan.
"Hei, hati-hati kalau ngomong. Dia kan tidak tinggal dengan ayahnya." bisik Bima ke Reza.
"Ya. Tapi mereka kan harus tetap berhubungan baik." jawab Reza.
Juan sudah berada jauh di depan teman-temannya. Langkahnya terhenti saat ia mendapati sosok yang berdiri di hadapannya kini. Papi nya. Papi yang dangat ia rindukan.
"Hei Juan, itu kan ayahmu." ucap Bima.
"Siapa itu? Apakah ia ayah nya Juan?" tanya Reza yang memang belum pernah bertemu dengan ayah nya Jua. Lain dengan Bima. Bima sudah mengetahui, karena ayah mereka berteman.
"Iya. Itu ayahnya Juan yang telah menghasilkan film yang sedang booming saat ini." jawab Bima.
Hendra tersenyum bangga. Teman-teman putranya sedang membicarakan ia saat ini.
"Anda pasti sangat bangga saat ini." kata Yuli.
__ADS_1
"Saya mendengar, film menantu Anda samgat berhasil." tambah Mia.
"Saya juga menontonnya, sangat bagus." Yuli samgat antusias. Sementara Dewi hanya diam mendengar percakapan diantara mereka. Tentu saja Bu Yahya sangat bahagia mendapat pujian dari geng sosialitanya.
"Suamiku sangat memujinya. Dia mengatakan bahwa ayahnya Jenny sangat berbakat." kata Bu Yahya sangat bahagia.
"Jangan lupa untuk menghadiri undangan kami yaaa.. Saya permisi dulu untuk menyebarkan undangan ini bagi yang belum mendapatkannya." wajah Bu Yahya tak lepas dari senyum kebahagiaan. Lalu ia permisi menuju orang yang dikenalnya.
"Hei, lihatlah. Apa yang ia lakukan? Apa ia akan mengundang Dokter itu?" bisik Mia. Bu Yahya berjalan menuju ke arah di mana Citra saat ini berdiri.
Citra menatap langkah Bu Yahya. Semua orang yang melihatnya pasti ikut tegang. Namun, Bu Yahya hanya melewati Citra begitu saja.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa..