
Sepulang dari Rumah Sakit, Citra lalu pulang ke rumah nya. Perasaan dia benar-benar tidak nyaman. Seperti ada seseorang yang sedang membuntuti nya. Terlihat sekelebat bayangan hitam, entah itu apa dan siapa. Lalu Citra bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia memanggil manggil nama Juan. Tapi tidak ada jawaban apa-apa. Citra lalu bergegas ke kamar Juan untuk memastikan keadaan putranya baik-baik saja. Seperti yang terlihat, Juan tengah berbaring di ranjangnya.
Malam harinya, Hendra mengadakan jamuan malam dengan Dokter Fadil. Dina pun ikut sesuai undangan Hendra.
"Apa? Yayasan Pak Yahya akan memberikan donasi?" tanya Dokter Fadil. Dina pun terkejut.
"Saya setuju Pak. Tapi ayah mertua saya sangat tertarik untuk berkontribusi pada pembamgunan daerah." basa-basi Hendra.
"Semua warga kota ini tahu, kalau Pak Yahya adalah orang yang terhormat." puji Dokter Fadil.
"Tidak masalah jika dana itu digunakan untuk manula, atau anak yatim piatu. Kami tidak akan pilih-pilih bagaimana dana itu digunakan." ucap Hendra. Dina dibuat kagum atas penjelasan Hendra.
"Terimakasih atas bantuannya. Setelah mengalami kesulitan, kau masih mau membantu. Saya kagum dengan Anda." ucap Dokter Fadil.
"Ada satu hal yang menggangguku. Mertua ku bukan tipe yang suka mengeluh. Tapi seperti yang Anda tahu, saya malu di hadapan mereka." ucap Hendra.
Dokter Fadil dan Dina saling pandang. Mereka tidak mengerti akan maksud Hendra itu.
"Saya membicarakan tentang Citra." kata Hendra akhirnya dengan inti yang ia maksud.
"Apakah Anda akan tetap mengangkatnya sebagai direktur muda Rumah Sakit ini?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Apa maksud Anda?" tanya Dokter Fadil bingung.
"Apakah maksudmu, Citra harus mundur jika kami menginginkan sumbangan itu?" tanya Dina.
"Kau benar. Tidakkah kau tahu? Apa alasanku kembali ke kota ini?" tanya Hendra. Tidak ada yang menjawab.
"Jika saya berhutang kepada seseorang, maka saya harus membayarnya kembali." jawab Hendra sinis.
Sementara, Citra sedang menyiapkan makan malam. Ia memanggil Juan untuk segera turun dan makan malam bersama. Mereka berada di meja makan sekarang.
Di luar, tampak seorang laki-laki berada di depan halaman rumah Citra. Ia memandang lekat-lekat rumah Citra. Lalu ia semakin mendekat ke rumah Citra.
Citra mengambilkan nasi serta lauknya untuk Juan. Juan mulai memakan makanannya.
Pppyyaaarrrr!!!
Kaca jendela rumah Citra pecah. Sebuah batu berukuran besar menggelinding menembus kaca jendela tersebut. Citra sangat terkejut. Begitupun dengan Juan. Lalu Citra menghampiri Juan yang tampak ketakutan.
"Kau baik-baik saja sayang?" tanya Citra memegangi pipi Juan.
Juan mengangguk. Citra dan Juan menghadap ke arah jendela yang sudah pecah saat ini. Mereka dalam ketakutan sekarang.
__ADS_1
Segera, Citra menghubungi kepolisian untuk melaporkan kejadian malam ini. Lalu, tak lama kemudian dua orang polisi memeriksa kediaman Citra.
Tio baru saja datang dari bekerja. Ia lalu menemui istrinya. Di dalam kamar, Tio melepas bajunya. Ia merasa lengket di badannya karena keringat.
"Apakah kau merasa itu tidak lah aneh?" tanya Dewi sambil mengambilkan baju ganti untuk Tio.
"Aneh bagaimana?" tanya Tio tidak mengerti dengan maksud istrinya.
"Aku pikir, kejadian aneh terus saja terjadi pada Citra se kembali nya Hendra ke kota ini. apakah kau tidak merasa juga?" tanya Dewi.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu ikut campur urusan mereka. Oke. Aku mau mandi dulu." pamit Tio lalu ia ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.