
Citra masih duduk termenung berpikir keras sambil memegang kartu akses kamar. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju kamar yang dimaksud Tio. Dia sadar atas keputusan yang ia ambil saat ini. Dengan langkah mantap, Citra melewati koridor mewah hotel bintang lima itu. Dia berdiri di depan pintu lift yang akan membawanya naik ke kamar tujuan. Hingga dia tidak tersadar saat berpapasan dengan seorang dokter lainnya.
Kini Citra tengah berdiri di depan kamar Tio. Dia berpikir sejenak. Kemudian dia mengambil kartu tersebut, dan memasukkannya ke sebuah gagang pintu. Seketika pintu itu terbuka otomatis. Dibukanya pintu itu dengan mantap, lalu dia memasukinya.
Terlihat Tio tengah menantinya di sebuah kamar yang begitu luas dan mewah. Wajah tampannya terkena sinar lampu yang remang. Tio menoleh ke arah suara pintu terbuka. Yang ditunggunya sudah datang rupanya. Tio berdiri di depan ranjang king size. Dia terpana akan kecantikan Citra. Lalu Citra menghampiri Tio yang kini tengah mematung menatapnya.
Jantung Tio sudah berdegup dengan kencang. Bagaimana tidak, kini dia telah berhadapan dengan paras cantik Citra yang sudah lama disukainya. Tio maju, lalu meraih wajah cantik itu.
Hampir saja Tio mencium bibir Citra. Tapi Citra menahan dada bidang Tio, dan mendorongnya. Membuat Tio jatuh terduduk di ranjang. Tio menatap Citra lekat-lekat. Kemudian Citra menjatuhkan tas jinjing yang sedari tadi dia bawa. Citra kemudian melepas tali cardigannya. Melihat hal itu, Tio buru-buru melepas kancing kemejanya. Citra sudah melepas cardigan hitamnya. Kini Tio berdiri dan menghampiri wajah Citra. Ingin diciumnya bibir Citra itu. Citra membelai pipi Tio. Membelai bibir Tio dengan jarinya, lalu sekali lagi mendorong Tio hingga terjatuh ke ranjang lagi.
Citra kemudian memutar tubuhnya. Dia memberi isyarat dengan menyibakkan rambut pendeknya. Tio yang mengerti, lalu membuka resleting baju Citra. Perlahan, hingga Tio membuka baju utama Citra. Kini Citra hanya memakai pakaian dalam menyerupai lingerie berwarna hitam.
Tio dibuat takjub akan punggung mulus dan putih milik Citra. Ditelannya salivanya sendiri. Dengan perlahan, Citra kemudian naik ke atas tubuh Tio. Dipegang kedua dada bidang Tio. Tio menatap mata Citra dalam-dalam. Begitu cantik wajah itu di bawah remang lampu.
__ADS_1
Kemudian hal yang tak terduga adalah, Citra mencium bibir Tio. Tio membalas ciumannya itu dengan yang lebih panas. Kemudian, Tio membalik keadaan. Kini ia tengah berada di atas tubuh seksi Citra. Diciumnya kembali bibir itu dengan nafsunya. Lalu Tio membuka baju penutup Citra. Setelah itu, ia menciumi leher Citra dengan panasnya.
Pergumulan dua orang telah terjadi. Sementara itu, jam menunjukkan pukul 22.18. Dewi melihat ponselnya. Ada notifikasi, bahwa GPS yang ia letakkan sembunyi-sembunyi di mobil suaminya menunjukkan bahwa saat ini suaminya tengah berada di hotel Cempaka Hills. Betapa hancur hati Dewi saat ini. Dia menangis. Dia merasakan, bahwa suaminya kini sedang melakukan perbuatan yang tidak baik di belakangnya.
Hendra tengah menonton acara sepak bola di rumahnya bersama Juan. Bel rumah berbunyi. Ia bergegas membuka pintu rumahnya melihat siapa yang datang. Dibukanya pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Hendra saat mengetahui bahwa yang datang adalah Milka. Hendra menutup pintu rumahnya, dan menarik lengan Milka.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Hendra gugup.
"Mari kita akhiri hubungan kita ini. Aku sudah tidak tahan lagi denganmu. Aku akan mengaborsi kehamilanku ini." kata Milka sambil menangis.
"Sampai kapan hah?" tanya Milka marah.
"Kau hanya bisa berjanji saja mas." ujar Milka sembari melepaskan tangan Hendra. Milka berlari kecil menuju mobilnya dan kemudian dia melajukan mobilnya untuk menjauh dari rumah Hendra.
__ADS_1
"Milka tunggu..." kata Hendra mengejar mobil Milka yang kini sudah menjauh. Hendra kesal. Dia menjambaki rambutnya sendiri.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca. Jangan lupa like dan komen ya...
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa....