
dengn sedikit tergesa-gesa² rifqi ke kamar dengn sebuah makanan yg dia ambil tadi.
pertama yg rifqi lihat saat masuk yaitu clista yg kini duduk memegang leptop nya, entah apa yg di kerjakan nya sampai tak menyadari rifqi masuk bahkan sudah berada di deketnya.
"sayang! " panggilan rifqi sontak membuat clista kaget bukan kepalang bahkan hampir leptop nya jatuh dari pangkuannya.
"Hiss.. ustadz ay ngagetin aja"
"knp kaget kyk gitu, apa yg adek lakukan " sambil mencoba mengintip tapi dengn cepat di tutup clista dengn sedikit gugup ia menjawab.
"bukan apa².. ini tidak penting,.. oh ya tadi clista nampak ay bawa makanan kan yuk kita makan" clista mencoba mengalihkan pembicaraan agar rifqi tidak banyak tanya, tpi clista salah!.. hal itu semakin membuat rifqi curiga.
"apa lagi yg kamu sembunyikan dari aku clista"
"ayok" rifqi hanya mengikuti apa yg clista mau, dia mencoba bersabar agar clista sendiri yg mengatakan sejujurnya padanya.
rifqi ngambil makanan yg tadi ia bawa yg lalu duduk bersama clista.
"kok cuman satu?..apa ay udh makan? "
"blm, ay mau kita makan berdua dalam satu piring" rifqi tersenyum tampan melihat clista yg kini melongo tak percaya, lucu nya batin rifqi gemes melihat ekspresi clista, ingin dia memakannya sekarang juga.
__ADS_1
"emng harus? " clista mengatakan itu dengn pelan.
"harus dek, udah buka mulut nya, biar ay suapin" sambil mengangkat sendoknya yg sudah berisi makanan itu.
dengn ragu clista membuka mulut nya dengn dalam hati membatin.
"gkpp clista, dia suami mu"
"hemm, enak gk? " clista hanya mengangguk pelan sambil mengunyah secara perlahan, setelah rifqi menyuapi clista kini dia pula makan di bekas sendok yg sama, dan itu terus menerus hingga makanan yg di piring habis tampa sisa.
...*************...
"makannya, jadi suami jangn bandel, dan gimn nepati janji sama bunda klau gini, pasti klau adx gk bisa penuhi tentu bunda akan ke kecewa, ini semua gara² emas!! " sambil mencubit pinggang suaminya kuat, tidak kuat² kali cuman tu orng aja yg lebay.
"sayang maaf ya! " dengn muka yg di buat imut seimutnya, agar istri nya ini tidak mencubit nya lgi.
"hah.." Fatimah menghela nafasnya sambil melepaskan cubitannya dan lalu duduk di tepi kasur mereka, satria yg melihat itu pun juga ikut duduk dengn muka yg sedikit merasa bersalah.
"maaf sayang"
"mas, apa mas mau buat bunda kecewa dengn membuat harapan yg blm pasti, Fatimah blm hamil mas! " Fatimah mengatakan itu dengn pandangan yg jauh, sudah hampir satu bulan mereka menikah tapi masih blm ada tanda² ada nya sebuah janin pada perutnya, memang itu terlalu cepat tpi baginya itu seperti sudah lama.
__ADS_1
"sayang, maaf kan mas y.. kamu tenang aja kita pasti akan mendapatkan anak dan engk akan buat bunda kecewa" satria mengatakan itu sambil memeluk istri nya itu.
"mas terlalu yakin" balas nya dengn pelan sambil menikmati pelukan hangat satria.
"mas yakin klau kita selalu berusaha, sayang mau anak kan?.. yok kita buat" senyum nakal satria keluar dengn mendorong Fatimah pelan membuat Fatimah tergeletak di kasur.
"ini masih pagi" dengn muka malas dia ingin bangkit namun di cegah satria.
"apa masalah nya kalau pagi? " bertanya sambil menaikan tubuhnya ke tubuh Fatimah.
"mas kan kerja! "
"hari mas gk mau kerja, hari ini mas mau buat anak yg lucu²" sambil tangan yg sudah liar.
"mass "
"sebntar kok, "
Fatimah pasrah dengn kelakuan suaminya, di dalam hati semoga di bener² mendapatkan keturunan yg pasti nya akan membuat hidup dia lebih sempurna, satria melakukan itu dengn Fatimah di pagi hingga siang mereka tak keluar kamar, bunda yg seperti nya tau apa yg mereka lakukan membuat nya seneng tak menentu seperti akan mendapatkan hadiah besar nanti nya.
"yes.. yes.. bakal dapet cucu, "
__ADS_1